fromranxx


“Pake aja selimutnya,” kata Raja pada Lunar yang malah bengong. Sebelum keluar kamar tadi Raja membawa selimut yang ada di kasurnya untuk dipakai Lunar. “Ih, ini pake dulu selimutnya, Lunar.... Dingin!”

Lunar melirik Raja lalu berkata, “Pakein dong.”

Raja berdecak, tapi tetap memakaikan selimutnya dengan hati-hati dan rapat. Memastikan tidak ada angin yang masuk ke dalam. Sedangkan dirinya hanya dibalut kaos dan kemeja yang dipakainya tadi sore. Lunar yang melihat itu langsung membuka selimutnya kembali. Raja yang sudah siap protes dibungkam dengan balutan selimut yang kini tersampir pada tubuhnya juga.

“Kalo cuma gue yang make, gak adil.” kata Lunar, menjawab kebingungan Raja.

Berhubung selimutnya cukup lebar dan tebal, jadi mereka memutuskan duduk bersebelahan dengan posisi itu.

“Yang lain pada tidur, Ja?” tanya Lunar membuka obrolan.

“Pada pules banget abis makan, Lun. Terus kan tadi mereka pada gak tidur di jalan, jadinya pada capek.”

Sewaktu di mobil, Karin terbangun di tengah perjalanan dan memutuskan untuk mengobrol hingga mereka sampai di tempat tujuan. Sedangkan Raja dan Lunar tetap tidur. Jadi wajar saja mereka tidak mengantuk berhubung mereka baru sampai 1 jam lalu.

“Ja,” panggil Lunar.

“Apa?”

“Lo pernah suka sama temen atau sahabat sendiri gak?”

Raja terdiam. Tidak berekspetasi dia akan dihadapkan dengan pertanyaan macam itu. Lunar, yang diam-diam sedang menunggu jawaban dengan hati tak tenang, bergerak gusar. Dimainkannya ujung rambut yang tergerai di pundak, berusaha menghilangkan gugup yang entah kenapa menyerang.

“Gak pernah, Lun.” ucap Raja setelah berpikir panjang.

“Lo setuju gak kalo sahabat bisa jadi pacar?”

“Kenapa lo nanya kayak ginian?”

“Hah?” Lunar menatap Raja bingung. “O- oh.. Enggak, yaa nanya aja.”

“Coba lo dulu yang jawab.”

“Lah gue nanya duluan?!”

“Ya lo jawab aja dulu.”

Lunar berdecak pelan, tapi setelahnya menjawab. “Gue setuju sih.”

“Kenapa?”

“Karena gue percaya cinta datang karena terbiasa. Gue dari dulu selalu berpendapat kalo cinta pandangan pertama tuh bullshit. Kalo lo ketemu orang pertama kali dan lo suka, ya itu karena lo tertarik aja. Gue lebih percaya cinta datang karena lo terbiasa sama orang itu.”

“Terbiasanya?”

“Ketemu, ngobrol, ketawa, nangis, atau bahkan— pelukan. Semua hal itu kalo dilakuin secara berkala dan berulang-ulang, ya kemungkinan buat jadi cintanya besar pasti.”

“Tapi kalo misalnya kedua sahabat itu jadi pacar dan suatu saat mereka putus? Lo berarti harus terbiasa sakit hati dengan orang yang ngelakuin banyak hal sama lo secara berulang-ulang itu?”

Lunar terbungkam. Seluruh gambaran romantis dua sahabat yang menyatu karena perasaan di benaknya tiba-tiba pudar. Tidak terpikirkan sama sekali olehnya tentang hal itu. Dia selalu berpikir bahwa seandainya dua orang sahabat itu putus dari status pacaran, maka semua akan tetap kembali seperti semula.

“Jujur, Lun, gue gak pernah mau suka sama sahabat sendiri. Gak berniat dan gak mau, lebih tepatnya,” Raja membuang napasnya kasar. “Karena kalo gue pisah sama orang itu, gue gak bisa tetep jadi sahabat dia yang dulu lagi. Gue atau pun dia pasti bakal nyimpen rasa sakit yang besar.”

“Seandainya lo tetep mau balik sahabatan setelah putus, you have to deal with your pain setiap kali lo ngeliat dia. Gue gak yakin gue kuat buat berdamai sama patah hati. Begitu juga sama dianya.” lanjut Raja.

“Ja,” panggil Lunar. Raja menoleh, menatap Lunar yang menatapnya dengan mata sayu. “Kalo gue bilang gue suka sama lo, hidup gue pasti keliatan bercanda banget, ya?”

“Lun..?”

“Don't worry, i can deal with my own pain. It's okay as long as i have you by my side— as a friend, maksudnya.”

“Lun..”


“Lo nabrak nanti nyawa lo melayang loh, Nat.” ucap Raja. Dia memandang ragu Nathan yang sedang membuka pintu kemudi mobil Lexus LM 350 milik keluarga Gata.

“Enggak elah gak nabrak.” balas Nathan percaya diri. Meskipun dalam hati dia sebenarnya keringat dingin takut mobil seharga 2 milyar lebih itu lecet.

Masalahnya yang baru punya SIM mobil baru dia, Gata hanya punya SIM motor, begitupun Raja dan Ares. Jadi demi liburan privasi tanpa sopir, Nathan menyalonkan diri untuk menyetir.

“Pelan-pelan aja ya, nyet.” peringat Gata dari samping kursi kemudi. Di kursi tengah ada Raja dan Lunar dan di kursi paling belakang ada Karin dan Ares.

Setelah mobil jalan, Gata lalu memencet tombol play di ponselnya untuk menyetel musik agar tidak terlalu membosankan.

“You gotta help me, i'm losing my mind..” nyanyi Gata tiba-tiba membangun atmosfer ceria di dalam mobil.

“Keep getting the feel you wanna leave this all behind, thought we were going strong, i thought we were holding on.. Aren't we?” Raja, Lunar, Nathan, Karin bahkan Ares mulai ikut bernyanyi.

Sampai pada reff mereka mulai meninggikan suara. Tidak lagi peduli nada yang pas pada lagu, tak juga peduli suara mereka jelek atau bagus.

“YOU AND ME!! GOT A WHOLE LOT OF HISTORY!”

“WE COULD BE THE GREATEST TEAM, THAT THE WORLD HAS EVER SEEN!!”

Lagu ini sudah menjadi lagu wajib mereka kalau mengadakan liburan bersama. Bahkan sopir keluarga Gata Lunar yang 5 tahun menyetir untuk mereka saja sudah hafal.

Setelah disetel beberapa lagu, mereka berhenti di rest area untuk membeli makanan dan minuman. Seperti sudah biasa membagi tugas, Gata dan Ares pergi ke Starbucks untuk membeli minuman untuk yang lain. Nathan dan Lunar pergi ke arah supermarket untuk membeli makanan ringan. Sedangkan Raja dan Karin mencari makanan random dari rest area itu.

Tak butuh waktu lama, mereka sudah kembali duduk di tempatnya masing-masing sambil sibuk memakan makanan yang dibeli.

Raja menepuk lutut Lunar yang sekarang dalam posisi jongkok di atas jok. “Duduk yang bener!”

“Apaan sih enakan gini,”

“Lu lagi makan nanti makanannya langsung keluar kalo lu jongkok!”

“YA MASA GAK DICERNA DULU?!” balas Lunar kesal. Tapi akhirnya dia tetap menuruti Raja untuk duduk yang lebih normal.

Lain lagi dengan Karin yang sedari tadi meluruskan kakinya di atas kaki Ares yang posisi duduknya di tengah kursi Raja dan Lunar. Maksud Ares tadinya agar dia bisa menggapai makanan yang di taruh di depan dengan lebih mudah, tapi dia malah dijadikan bantal.

“Gue jalan lagi, ya? Takut macet kalo makin malem.” tanya Nathan yang dibalas anggukan yang lain. Karena mereka berangkat sore, sudah dipastikan mereka akan sampai tengah malam.

“Mereka tidur apa pingsan, Res?” tanya Gata tiba-tiba setelah melihat Lunar, Raja, dan Karin tertidur pulas. Bahkan suara musik yang disetel kencang oleh Gata tidak mengganggu acara tidur mereka.

“Pingsan itu mah,” sahut Nathan sembari melihat ke spion. Ares tertawa kecil lalu membenarkan posisi tidur Karin, khawatir lehernya sakit.

“Eh,” panggil Gata usai mengganti lagu menjadi instrumental piano. “Kalo ada yang keluar negeri beneran, kita gak full team lagi dong, ya.”

“Iya pasti.” sahut Nathan. “Emang lu mau keluar, Ta?”

“Gue..” Gata lalu melirik sekilas ke arah Lunar, memastikan dia benar-benar tidur. “Gue gak tau.”

“Lo bukannya fix di Indo, Ta?” tanya Ares.

“Pengennya sih gitu, Res, tapi lo tau sendiri bokap gue gimana..”

Ares dan Nathan lalu mengangguk mengerti. Siapa yang tidak kenal dengan ketegasan Ayah Gata dan Lunar?

“Lo jadinya gimana, Res? Keluar kota?”

“Gak tau, Ta.”

“Jangan jauh-jauh lah, nyet. Muka lo tuh muka-muka mau kabur tau gak?”

“Iya anjir, dibandingkan Gata gue lebih ngeri sama lu, Res. Kalo Gata kan ada Lunar yang bisa ngasih kabar, lah lu kan suka ilang tiba-tiba.” sahut Nathan mengiyakan.

“Iya, lo inget gak yang lo ilang gak bisa dihubungin waktu kelas 8? Itu kita panik gila, Res. Sumpah!” ucap Gata menggebu-gebu.

“Bener! Kita udah nyari sampe hampir ribut sama sekolah tetangga ngeri lo dijadiin tumbal tawanan supaya kita tawuran. Bangsat gue beneran gemeteran.”

“Itu yang gue kemana, ya?” Ares menerawang, lupa tujuan dia waktu itu kemana.

“Lo ke Ancol, anjrit!! Inget gak sih yang lo ketemu sama guru BK yang lagi cuti waktu itu?”

Ares menatap Gata yang sedang membalikkan badannya itu dengan tatapan bingung. “Yang mana?”

“Ih itu lohh, Bu Mega. Masa gak inget?”

“Oh Bu Mega?! Iya iya, gue baru inget.”

“Itu karena informasi Ares ilang udah sampe grup guru bukan sih?” tanya Nathan memastikan.

“Iya anjir, karena guru pada panik bokap Ares marah-marah jadinya bikin broadcast gitu.”

Nathan tertawa geli. “Udah kayak anak bayi aja anjir sumpah. Lo yang ilang kita yang panas dingin, Res.”

“Lagian kebiasaan anjir kalo pergi gak pernah ngomong. Kenapa sih lo?” tanya Gata.

Bahu Ares terangkat. Mengisyaratkan dia tidak peduli. “Kayaknya gue lagi berantem sama bokap waktu itu.”

Gata mengangguk-angguk. “Gue ngerti sih, kalo lagi berantem sama bokap emang enakan kabur.”

“Kenapa kabur dah?” tanya Nathan penasaran. Di antara mereka bertiga, yang jarang terdengar bertengkar dengan Ayahnya memang Nathan.

“Lo tau gak, Nat? Rasanya kayak lo mau nonjok orang karena kesel tapi gak bisa soalnya dia bokap lo.”

“Ya kalo nonjok kan durhaka, Ta.”

“Makanya gue sama Gata kabur kalo berantem sama bokap, Nat, soalnya kesel.”

Nathan mengangguk tanda paham. Perjalanan diisi dengan obrolan ringan mereka bertiga. Sesekali menertawakan dengkuran Raja yang menginterupsi.

“Anggep aja backsound.” kalau kata Gata.


“Kata gue mendingan kita mencar sih. Nanti tanya aja di sekitar sini ada yang baru pindahan gak? Terus tunjukkin foto Nathan atau tanya nama gitu. Pokoknya terserah lo pada aja, yang penting dapet clue.”

Gata memberi perintah yang direspon anggukan oleh empat yang lain.

Sesuai rencana, mereka akan mencari Jonathan. Lingkungannya banyak gang kecil dengan mayoritas rumah sederhana. Banyak anak kecil dan lansia duduk di warung atau bangku untuk umum di setiap gang. Hari yang sore membuat jalanan ramai. Tak jarang mereka dilayangi tatapan bingung oleh penduduk situ.

“Permisi, Bu, mau tanya.. Ibu liat orang pindahan gak bu di sekitar sini?”

Tak peduli beberapa kali Lunar bertanya, yang dia dapat hanya gelengan. Teman-teman yang lain juga mengabarkan tidak mendapat clue sama sekali. Bahkan Ares dan Karin sudah menemui jalan buntu.

Dengan langkah pasrah, mereka akhirnya memutuskan untuk berkumpul di titik sebelumnya. Lunar memilih jalan lain, yang lebih sepi dari penduduk karena dia tidak suka dijadikan pusat perhatian.

Di ujung jalan dia mendapati laki-laki yang berdiri membelakanginya seraya menunduk. Tubuh laki-laki itu hampir menutupi jalanan kecil yang Lunar lewati. Lunar sempat melihat berita, ada kasus pemerkosaan di gang sempit seperti ini. Jadi Lunar hanya punya dua pilihan, berjalan di samping laki-laki itu, atau memutar balik. Karena yang dilewati hanya gang kecil tanpa cabang kanan dan kiri.

Dengan keberanian berkat ilmu bela diri semasa kecilnya, Lunar maju. Matanya membelalak saat merasa orang itu tidak asing.

Baru saja Lunar ingin memanggil, dia malah melihat Nathan menonjok tembok gang yang kasar berkali-kali. Lunar langsung sigap menahan tangan Nathan, membuat sang empu kaget.

“Tangan lo luka,” ucap Lunar.

“Lo...”

“Gak suka, kan, kalo tangannya luka? Soalnya kalo mandi jadi perih kalo kena air.” Lunar mengeluarkan tisu kering dari tasnya untuk menutupi luka Nathan.

“Lo kenapa bisa disini?”

“Lagi jadi detektif. Nyari temen gue yang tiba-tiba ilang tanpa kabar.” jawabnya sekaligus menyindir Nathan.

“Lun-”

“Lain kali kalo mau kabur ajak gue, Nat. Gue juga seneng kabur soalnya,” Lunar lalu menghapus air mata yang membekas di pipi Nathan. “Dan kalo mau nangis, jangan sendirian. Lebih enak nangis kalo ada temennya.”

“Lun, Jesslyn kabur dari rumah..”

“Iya, tau.”

“Gue harus gimana, Lun? Kalo Jesslyn kenapa-kenapa gue bisa dibunuh kali sama bapak gue.”

“Lo gak bakal dibunuh.”

“Tapi dia gak tau daerah sini, Lun, dia bisa nyasar. Kalo misalnya dia-”

“Jesslyn ketemu sama Karin, Nat. Lo tenang aja. Waktu nyari lo katanya dia ngeliat Jess lagi nangis di gang buntu. Mendingan lo simpen tenaga lo buat jelasin semuanya ke kita nanti.”


“Res, mau nanya deh.”

Ares yang sedang mengaduk kopi di hadapannya berdeham sebagai sahutan. Sejak kejadian siang tadi, Ares berusaha menghindari topik masalah nilai itu dari Karin. Setelah makan siang Ares langsung membawa Karin bermain di timezone, setelah itu mereka mengopi sebentar di Kafe Temu, tempat yang biasa didatangi mereka ber-enam.

“Gue itu kayaknya emang bego gak sih, Res?” gerakan mengaduk Ares jadi berhenti. Keluar juga bahasan ini.

“Enggak. Menurut gue gak ada manusia bego di dunia ini.”

“Gue?”

“Bagi gue lo gak bego,” Ares lalu meminum kopi itu seteguk. “Lo gak bego kalo bisa bikin puisi, ngelukis, terus main piano. Gak semua orang bisa ngelakuin hal yang lo kuasain itu.”

“Tapi nilai gue tuh gak pernah bagus, Res..”

“Nilai tuh cuma di atas kertas doang, Rin. Lo gak harus selalu dapet nilai sempurna buat jadi manusia.”

Karin membuang napas kasar. Perkataan Ares memang ada benarnya.

Perasaan Karin sedang berkecamuk. Satu sisi dia marah dengan Bu Susi yang telah mempermalukannya. Di satu sisi dia marah dengan dirinya sendiri. Dan ada sisi kecilnya yang merasa dia marah pada Lunar yang berbanding terbalik nasibnya dengan dia. Padahal Karin tau kalau perasaan kesalnya pada Lunar tidak berdasar.

“Lo lebih marah sama siapa, Rin?”

“Gimana, Res?” ucap Karin berusaha tidak salah dengar.

“Lo marah sama siapa sekarang? Cerita aja.”

Karin Ragu. Tapi tatapan Ares memberitahunya untuk tidak ragu. “Sama diri gue, sama Bu Susi,”

“Dan?”

“Dan apa? Udah, kok.” ucap Karin sedikit berbohong.

“Dan sama Lunar, kan?”

Karin membelalak. Khawatir Ares selama ini membuka isi otaknya dan memantaunya.

“Res—”

“Gapapa, kok. Wajar. Lo gak salah ngerasa kayak gitu. Gue jadi lo mungkin juga ada perasaan marah sama Lunar,” Ares menjeda. “Tapi kalau gue jadi lo nih, gue gak akan lama-lama merasa marah sama Lunarnya.”

“Kenapa?”

“Karena kalau gue marah, berarti gue setuju dong gue gak bisa apa-apa? Padahal lo aja bakatnya banyak.”

Karin jadi berpikir 2 kali. Ares benar, selalu benar. Dia harusnya tidak merasa marah karena dia memang bukan Lunar, dan akan selalu begitu.

“Res, gue itu Karina Natania kan, Res?”

Walau agak linglung, Ares mengangguk. “Iya,”

“Gue itu Karina dan bukan Lunar, kan? Dan Lunar pun bukan Karina. Jadi harusnya gak ada yang boleh bandingin gue sama Lunar, karena gue dan Lunar itu 2 manusia yang beda, iya kan, Res?!” ucap Karin yang nadanya semakin meninggi bersemangat.

“Gue harusnya gak usah ngerasa kecil karena gue juga spesial, iya kan, Res?!!!”

Ares tertawa kecil. Lega melihat Karin yang semakin lama semakin girang sendiri. “Iya. Lo itu Karina, dan Lunar itu Lunar. Kalian beda, dan kalian spesial dengan cara masing-masing.”

“Res, thank you!! Sumpah thank you banget!! Gue akhirnya sadar kalau gue selama ini iri sama Lunar dan gak sadar kalau gue juga bisa keren! AAAAA ARES!!”

Refleks, Karin memeluk Ares kencang. Membuat yang didekap berusaha keras mengontrol jantung yang tak karuan. Pemandangan itu tak sengaja dilihat Jonathan dan Gata yang tiba berbarengan.

“Anjrit!! Ngapain tuh?!” ucap Nathan heboh dari kaca luar kafe.

Gata jadi ikut melotot. “KOK GIRANG BANGET ITU MUKA KARIN?!”

“LAH IYA?!”

“Padahal gue panik banget setan, gue takut Karin makin nangis atau gimana.”

“Sama, Ta, gue udah ngebut maksimal, mana rumah gue jauh. Taunya dateng cuma buat liat dia pelukan.”

Keduanya membuang napas kasar. Kata orang mah, sudah terlanjur basah. Jadi mereka tetap masuk dan berakting seakan tidak melihat apapun.


Raja memacu motornya kencang. Beruntung jarak rumahnya dan rumah Lunar Gata tidak jauh. Jalanan juga lumayan bersahabat membuat dia sampai hanya dalam waktu 10 menit. Saat di pagar dia ditanya oleh satpam ada perlu apa karena Gata tidak di rumah, dan dia dengan kehabisan akal hanya menjawab kalau buku tugasnya terbawa oleh Lunar.

Setelah bertemu dengan Ibunda kedua sahabatnya, dia mohon izin untuk bertemu Lunar. Dengan alasan sama. Kebetulan katanya Lunar sedang di rooftop, jadi lebih mudah untuk Raja bertemu. Karena memang tidak etis rasanya bila dia masuk ke kamar Lunar hanya sendiri saja.

Kakinya melangkah cepat menaiki tangga mewah keluarga Prasetyo. Netranya lalu menangkap sosok Lunar yang sedang berdiri membelakanginya. Kepala Lunar menengadah ke langit yang malam itu bersih dari bintang. Angin malam itu cukup dingin, tapi Lunar malah berdiri di luar dengan baju tanpa lengan.

Raja melepas jaketnya, lalu dalam diam dia menaruhnya di bahu Lunar. Memberi Lunar kehangatan dari jaketnya. Tentu saja itu membuat Lunar terlonjak, dia bahkan hampir berteriak.

Memang niat hati ingin menghirup udara segar, menjernihkan pikiran sekaligus berusaha menenangkan hati setelah dia tau Gata sedang pergi.

“Raja, anjrit! Kaget tau gak?!”

Raja tersenyum tanpa melihat Lunar. “Iya, maaf.”

“Lo ngapain kesini?”

“Main aja ke rumah sultan. Mau ngotorin lantai yang dilapisin emas.”

“Lantai gue marmer, gak pake emas.”

“Ya marmer mahal juga, Lun, rumah gue ubin biasa tuh.”

Lunar membuang napas. Pembicaraan aneh ini harus dihentikan. “Iya, terserah.”

Kali ini gantian Raja yang menghadap Lunar, memperhatikan perempuan yang sedang berusaha kuat menahan tangis.

“Nangis aja,” ucap Raja akhirnya. Lunar melirik Raja, perlahan merasakan pandangannya semakin terhalang air. “Lo gak perlu nahan tangis di depan gue.” lanjut Raja lagi.

Sejak itu meledaklah tangis Lunar. Dia menangis deras, melepaskan seluruh emosi yang dia tahan. Tangannya mengepal, kepalanya tertunduk dalam, napasnya tidak teratur.

Raja dengan sigap membawa Lunar ke pelukannya. Sudah hampir 8 tahun mereka berteman, dan sudah 8 tahun juga Raja menjadi tempat kedua untuk Lunar beristirahat selain Gata. Bagi Lunar, Raja tempat cadangan yang selalu ada.

“Ja.. Gue capek..” ucap Lunar pelan, begitu menyakitkan untuk didengar Raja.

“Iya, tau, lo capek..”

“Gue cuma- mau punya temen, Ja.. Tapi- gue selalu dibilang sombong lah- seenaknya lah.. Gue gak maksud buat nyakitin siapa-siapa, Ja..” ucap Lunar dengan terputus-putus akibat tangisnya.

“Iyaa.. Gue tau lo gak mau nyakitin siapapun. Mereka yang sok tau.”

“Ja, gue harus gimana..?”

Raja menghela napas, lalu mengendurkan pelukannya. “Liat gue deh, Lun,” pintanya.

“Selama gue temenan sama lo, gak pernah sekalipun gue ngerasa lo bersikap sombong dan egois. Lo selalu bantu orang dan berbagi. Gue tau lo selalu mau ngajak kita semua buat belajar bareng, tapi emang kitanya aja yang males. Dan karena anugrah yang dikasih Tuhan sama lo, orang-orang jadi ngeliat lo terlalu menonjol.”

Raja mengambil jeda. “Masalah Karin diomelin Bu Susi, itu bukan salah lo sama sekali. Inget, ya? Itu pure emang Bu Susi aja yang gak ada adab,”

“Dan untuk masalah di twitter, mereka yang udah ngatain lo, mereka bener-bener gak pernah tau rasanya jadi temen lo. Mereka cuma jadi penonton yang ngiler liat lo. Gimana enggak? Lo pinter, lo cantik, orang-orang selalu beri lo lampu sorot kemanapun lo pergi, lo humble dan lo punya keluarga yang kaya. Semua yang orang mau ada di diri lo. Mereka cuma orang tolol yang iri tapi gak berusaha. Jadi lo gak perlu nyia-nyiain air mata lo buat orang kayak mereka.”

Raja menyeka air mata Lunar. “Lo berhak nangis, gue ga ke ngelarang. Berhak capek juga. Tapi gue rasa lo gak perlu dengerin mereka lagi. Lo harus fokus sama diri lo sendiri. Lo harus belajar buat gak nyalahin diri sendiri atas kegagalan temen lo. Masalah Karin itu bukan salah lo, tapi salah orang yang selalu bandingin lo.”

“Tapi Karin tadi jauhin gue, Ja..”

“Itu namanya dia juga lagi kondisi emosi dan gak stabil, Lun. Wajar. Karin's feelings are valid, and so are you. I'm not gonna blame anyone because none of you two are wrong. You guys just need some rest.

“Karin gapapa, Ja?”

“Bisa fokus sama diri lo sendiri gak, Lun?”

Lunar terdiam. “Karin gapapa. Dia ditemenin yang lain. Tadi kata Ares, Gata juga nyamper Karin, mungkin karena dia belom liat kalau ada menfess yang ngehate lo, jadinya dia Buru-buru ke Karin.”

“Kok gak ngajak gue ya?”

“Karena dia tau kalian berdua butuh waktu sendiri dulu.”

“Karin yang butuh waktu sendiri dulu, Ja. Gue sih gapapa.”

“Enggak. Lo juga butuh. Lo pasti jadi beban merasa bersalah karena Karin jadi dipandang buruk dengan eksistensi lo. Jadi orang yang 'lebih' itu gak selalu nyenengin kan?”

“Udah, pokoknya jangan nangis terus. Sini peluk, lo kan demen berzina sama gue.”

“GAK GITU YA, BRENGSEK!”

“HAHAHAHA, iya bercanda.”

Lunar tidak tau apa yang salah. Tapi sejak Raja datang menaruh jaket di pundaknya, dunianya terasa begitu aman. Keberadaan Raja selalu jadi penyembuh. Dan karena hal itu, membuat Lunar takut kalau dia menyayangi Raja bukan hanya sebagai sahabat.


Biasanya setelah ulangan sosiologi selesai, Bu Susi —guru mata pelajaran sosiologi— akan menyuruh mereka untuk langsung mengoreksi lembar ulangan milik teman sebangkunya. Setelah itu beliau akan memanggil nama siswa sesuai absen dan sang pengoreksi akan meneriakkan nilainya.

Karin sudah dalam keadaan pasrah, Lunar yang menjadi teman sebangkunya melirik sekilas. Dia tau Karin akan seperti apa kalau nilainya di bawah standar.

Membenci dirinya sendiri.

“Lun, gimana ini nilai gue jelek, Lun...” bisik Karin pada Lunar saat melirik kertas ulangannya banyak coretan salah.

“Nilai gue juga gak bagus amat, Rin, ini soal emang gak jelas anjir.” balas Lunar juga berbisik.

Jonathan dan Raja sudah benar-benar pasrah, mereka malah menertawakan kegiatan 'mencoret nomor yang salah' mereka. Masalahnya, mereka mencoret hampir semua nomor, jadi tawa keduanya seakan mengatakan “lu salah semua bego!” pada satu sama lain.

Ares tidak terlalu banyak salah, Gata apalagi. Kebetulan saat kelas 10, dirinya dan Lunar pernah mengikuti lomba sosiologi, jadi ada beberapa materi yang dia ingat.

Nama siswa satu per satu mulai dipanggil. Karin menundukkan kepala setelah mengetahui fakta bahwa dia lah siswa dengan nilai nilai paling kecil—40. Semua memang di bawah KKM, tetapi tidak ada yang dibawah 50 seperti Karin.

Fakta itu membuat Bu Susi berdiri dari duduknya lalu menyilangkan tangan di depan kelas. Menatap tajam pada wajah tertunduk di depannya satu per satu.

“Kalian tuh niat masuk jurusan IPS gak sih?” tanyanya dengan nada kesal. Tidak ada yang menjawab.

“Ibu tanya, kalian niat gak?!” ulangnya dengan nada lebih tinggi membuat beberapa murid menjawabnya dengan ciut.

“Dari 36 siswa yang bagus nilainya cuma Gata sama Lunar! Yang lain itu belajar atau enggak?!”

“Bu, maaf..” Gata mengangkat tangan. Tidak ingin dirinya dan kembarannya menjadi bahan perbandingan dengan teman-teman yang lain. “Tapi memang beberapa soal ada yang materinya belum diajarkan, Bu.. Jadi mungkin itu alasan nilai kami belum memuaskan.”

Bu Susi tidak merasa bersalah. Masih juga tidak gentar. “Ya memang! Ibu memang mengeluarkan materi kelas 12 semester awal karena kalian sedikit lagi naik kelas. Kalau kamu dan Lunar saja bisa di atas KKM, kenapa yang lain enggak?” tanyanya pada Gata.

Gata mengepalkan tangan. Niat hati ingin meredakan amarah sang guru, tapi malah perkataannya diserang balik.

“Kalian tuh harusnya siap-siap belajar untuk dapat PTN dari sekarang! Jangan leha-leha, jangan cuma main aja bisanya! Masa materi kelas 12 aja kalian belum berusaha paham sih?”

Seluruh siswa sudah mendumel dalam hati. Ada yang menjawab dengan nada kesal, ada juga yang mengeluarkan sumpah serapah diam-diam.

“Dan kamu, Karin!” Bu Susi menunjuk Karin dan menatapnya tajam. Membuat yang ditatap menjadi ciut dan tidak berani menatap balik. “Kamu tuh ya, dari kelas 10 gak pernah gak remed! Selalu remed! Kamu tuh memang ditakdirin jadi bego atau gimana?!”

Perkataan Bu Susi membuat Gata, Lunar, Ares, Raja, dan Jonathan naik pitam. Tak terima sahabat tersayangnya dicela dengan frontal di depan seluruh teman-teman kelas.

“Kamu mau jadi apa sih? Gembel? Gak cocok banget kamu temenan sama Lunar. Dia aja bisa pinter, masa kamu masih jalan di tempat aja? Nilai 40 mah buat anak SD!”

Bibir Karin bergetar, tangisnya ditahan. Tidak ingin dibilang lemah dan dicela sekali lagi oleh guru di depannya. Lunar yang melihat itu tidak tinggal diam.

“Ibu—”

“Perkataan Ibu sudah saya rekam. Ibu mau saya laporkan ke kepala sekolah, Bu?” potong Ares sebelum Lunar berbicara.

Memang sejak Bu Susi berdiri di depan dan memulai ceramahnya, dia sudah menyiapkan rekaman karena yakin akan ada kata-kata kasar yang akan dilontarkan guru itu. Sudah 2 tahun dia bersekolah disini, dia sudah hafal betul tabiat sang guru. Sudah sering siswanya dicela dengan kata kasar seperti bego, tolol, bodoh dan lainnya. Tapi tidak ada yang berani melaporkan karena takut dan tidak punya bukti.

Sekarang tangan Ares mengangkat tinggi layar ponsel yang menunjukkan aplikasi perekam. Bu Susi yang melihatnya tentu terkejut dan merinding ketakutan. “Apa-apaan kamu?! Gak sopan sama guru!”

Ares mengangkat bibirnya, tersenyum mengejek. “Saya? Gak sopan? Hanya karena saya merekam bukti bahwa Ibu selama ini mencela murid sendiri? Bu, kami ke sekolah untuk belajar, bukan untuk dikatain sama guru sendiri. Kalau nilai kami di bawah KKM karena kami diberi soal yang kapasitasnya sudah lebih dari yang diajarkan, apa kami harus tetap dapat nilai sempurna? Enggak, Bu.”

“Ibu selama saya sekolah disini sudah berkali-kali mencela murid yang menurut Ibu 'bodoh'. Tapi nyatanya teman saya gak ada yang bodoh, Bu. Semua teman saya pintar dengan caranya masing-masing. Jangan hanya nilai di atas kertas kami jadi dicap bodoh.”

Bu Susi mati kutu. Dikiranya selama ini tidak ada yang keberatan dengan perkataannya. Karena menurutnya memang seluruh murid wajib pintar tanpa terkecuali. Menurutnya nilai di atas kertas itu penting untuk jadi tolak ukur kepintaran seseorang. Dan menurutnya, perkataan tercela yang dia lontarkan memang menjadi tanggung jawab seorang guru untuk menyadarkan muridnya.

“Kamu tuh bukan guru, Ares! Kamu gak ngerti cara jadi guru, jadi gak usah menggurui Ibu!”

Ares mengangguk. “Iya, Bu, bener. Saya memang bukan guru dan gak ngerti caranya jadi guru. Tapi seenggaknya saya tau mana yang salah dan yang benar. Disini posisi kami semua benar. Kami benar dan punya hak atas nilai di bawah KKM itu. Saya yakin seluruh teman saya pintar dan paham betul materi yang sudah Ibu jelaskan. Tapi yang jadi masalah adalah ada materi kelas 12 yang dikeluarkan tanpa sepengetahuan kami. Kami belum diajarkan materi itu, Bu, gimana kami bisa dapat nilai bagus?”

“Tapi Gata dan Lunar saja bisa bagus. Kalian juga dong?!”

“Bu, maaf. Saya dan Gata dapat nilai segitu mungkin karena dulu kami pernah mengikuti lomba sosiologi yang materinya dari kelas 10 sampai kelas 12. Kami masih ingat beberapa materinya jadi kami bisa menjawab soal itu dengan benar. Tapi teman-teman yang lain sama sekali belum diajarkan, Bu. Saya mohon, jangan bandingkan kami berdua dengan yang lain, kami juga manusia, Bu, gak pantas untuk dijadikan perbandingan terus-menerus.” ucap Lunar pada akhirnya.

Lelah dengan drama dan segala perkataan egois dari guru yang semena-mena itu.

Bu Susi terdiam, menatap keduanya dengan tatapan tajam dan kesal. Keduanya tak gentar, merasa harus membela seluruh kelas yang dicemooh terus-menerus. Karena merasa kalah, Bu Susi langsung keluar kelas setelah membawa seluruh barang-barangnya. Bertepatan dengan bunyinya bel istirahat, membuat Karin langsung melesat pergi tanpa kata.

“Karin!” Lunar yang ingin mengejar Karin pun ditahan oleh Ares.

“Biarin dulu, Lun. Biar tenang dulu.”


“Gak usah dipikirin,” ucap Gata usai memencet tombol pause karena ingin membalas komentar orang-orang 'pengecut' itu. “Kayak mereka cantik aja, anjir.”

Lunar diam, lalu mengangkat sebelah bibirnya. “Dari dulu selalu aja begini ya, Ta? Gue perasaan gak pernah memancing keributan deh.”

“Justru karena lo gak pernah mancing jadi mereka duluan yang mancing lo, Lun. Mereka tau lo bakal ngeladenin mereka.”

“Berarti harusnya gue diem aja gitu?”

“Ya enggak sih, ribut aja. Orang-orang kayak gitu tuh kalau gak bisa dikasih hukuman, ya seenggaknya harus dikasih bogem.”

Lunar tertawa kecil. “Prinsip hidup lo gak banget dah, Ta.”

“Masalahnya kita udah pernah lapor ke Ayah buat gunain kekuasaannya supaya bisa nuntut orang yang nge-bully lo dulu kan? Tapi hasilnya apa? Ayah aja angkat tangan karena males berurusan sama anak jendral.”

Lunar mengangguk. “Iya sih. Makanya sejak itu gue gak mau minta bantuan Ayah buat ngasih pelajaran ke orang-orang yang jahat sama gue atau lo. Langsung aja kasih bogem.”

Gata juga mengangguk setuju. “Bener, bogem lebih bermanfaat.” ucapnya lalu mengacungkan satu jempol.

Hening, tapi tidak ada yang berniat melanjutkan film. Keduanya malah bengong, asik dengan pikiran masing-masing.

“Lun, pernah gak mikir kalau lo gak dilahirin sebagai orang kaya?”

Tiba-tiba obrolan berubah serius. Lunar tau arahnya kemana, akhirnya mereka berdua malah deep talk bukan movie night.

“Pernah. Tapi gak terlalu kebayang jelas karena kita aja gak pernah kesusahan, Ta. Apa yang kita mau diturutin terus— ya walaupun harus belajar keras dulu sih..”

“Sama, gue pernah kepikiran tapi gak kebayang,” Gata jeda sejenak. “Tapi kayaknya seru gak sih, Lun?”

“Apa? Jadi orang biasa aja?”

“Iya. Gak hidup di rumah mewah, gak harus jaga attitude depan klien Ayah, gak harus menangin lomba supaya Ayah bisa pamer ke rekan kerja dan Bunda bisa pamer ke kumpulan ibu-ibu sosialita-nya.”

Lunar mengawang. Benar-benar membayangkan betapa ringan bahunya bila semua itu terjadi. Tidak ada beban dan tuntutan yang terlalu berat. Tidak akan merasa memalukan bila kalah dalam lomba.

Wahh, surga.

“Kenapa ya temen-temen kita pada pengen hidup kayak kita?” Lunar bertanya pada Gata. Agak menyerempet pertanyaan retoris karena pasti jawabannya,

“Karena harta, Lun.”

“Mereka gak tau karena harta orang tua kita yang terlalu banyak ini, kita jadi dituntut untuk jadi kayak mereka atau bahkan lebih,” ucap Gata meneruskan.

“Makanya, Lun, gue gak bisa bayangin kalau gue lahir cuma sendirian, gak sama lo. Kalau gue sendirian dengan segala pressure yang dikasih sama Ayah, mungkin gue gak kuat. Gue seneng ada lo yang bisa ngerasain beban ini dan mikul bareng-bareng.”

Lunar sedikit merinding, Gata kalau lagi serius memang sedikit menggelikan. Tapi dia jadi ikut membayangkan apabila dia sendiri, tak ada Gata, tak ada teman untuk cerita bagi dirinya yang lemah ini.

“Gue juga mungkin gak akan kuat, Ta,” Lunar menoleh pada Gata yang menatapnya serius sejak tadi. “Thanks ya, Ta.”

“Buat?”

“Buat jadi kembaran gue.”

Gata menahan tawa yang hampir menyembur. “Iya, makasih juga.”

Gata lalu mendekat, merentangkan tangannya. “Apa?”

“Sini peluk gue, bloon! Kan biasanya orang mengakhiri deep talk dengan hugs.”

Melihat Lunar tak kunjung bergerak, Gata langsung menarik bahu Lunar untuk dia dekap. Lunar diam-diam merasa nyaman dan terharu. Akibat sosok seorang Ayah yang tidak pernah mendekap, Gata dengan rasa tanggung jawab selalu memberikan dekapan hangatnya untuk sang kakak yang lahir 8 menit sebelum dirinya.

Karena sebesar apapun amarah sepasang saudara kembar itu, tidak ada yang bisa memisahkan mereka, bahkan jarak sekalipun.


Ghazy Gayandra.

Kalau dicari di internet, nama Ghazy berarti pejuang. Tapi selama 19 tahun gue hidup, belum pernah gue mengerti apa yang dimaksud pejuang. Dilihat dari sisi manapun belum ada bagian hidup gue yang berjuang. Baik untuk orang lain atau diri gue sendiri.

Dulu waktu kecil gue dipukul Papa karena bawa pulang kucing kecil tanpa induk yang gue temuin sewaktu ke pasar. Waktu itu gue terlalu takut untuk melawan dan berujung malah ngeliat kucing itu di buang ke semak-semak sama Papa, yang waktu gue tengok dua hari setelahnya, udah berubah jadi bangkai kaku yang langsung gue kubur dengan tangisan anak kecil umur 6 tahun.

Dari kejadian itu, gue yakin itu permulaan dimana gue gagal merealisasikan nama Ghazy. Gue gagal berjuang supaya kucing itu gue pelihara atau seenggaknya— selamat. Hidup.

Setelah itu, gue selalu hidup dengan segala kritik dan kata-kata kasar dari Papa. Beliau kaya, cerdas, dan cekatan. Ciri-ciri sempurna untuk seorang pemimpin perusahaan sukses. Dan oleh karena itu gue, yang gak bisa mengikuti jejaknya, dianggap anak pembawa sial.

Pernah juga suatu ketika, gue gak sempat izin bawa temen perempuan ke rumah untuk kerja kelompok yang tugasnya harus dikumpul hari berikutnya. Gue datang dan duduk di ruang tamu untuk menyelesaikan tugas, di sebelah dia yang sikapnya baik dan gak macem-macem. Mama bilang, temen gue baik banget dan sopan, sampai dibikinin sup ayam untuk makan malam sebelum pulang.

Saat Papa pulang malamnya, beliau marah besar karena lihat sepatu asing yang ditaruh di depan pintu masuk. Teman gue yang tadinya lagi bantu Mama untuk nata meja makan, kaget sampai nangis waktu Papa bentak dia. Gue sampai sekarang gak habis pikir kalau ingat kejadian itu, otak gue gak sampai dengan pikiran Papa yang marah ke temen gue hanya karena dia anak dari keluarga yang menurut Papa— miskin.

Sejak itu, gue bener-bener merasa gak enak sama temen gue itu dan memilih untuk menjauh perlahan dari temen-temen gue yang lain. Gue enggan bawa mereka ke rumah gue karena gue bahkan masih marah dan gemeteran setiap keinget raut wajah temen gue yang juga gemetar ketakutan karena Papa mengusirnya dengan cara paling kasar buatnya.

Puncak gue merasa nama Ghazy gak pantes buat gue yaitu saat gue diam di belakang pintu kamar gue setiap lihat Mama disiksa Papa. Hati gue ingin menolong, gue juga pernah coba untuk keluar dan berhentiin perlakuan Papa ke Mama tapi yang ada kepala gue malah bocor. Sejak saat itu, Mama malah end up ngancem gue untuk gak pernah keluar kamar dan nolongin beliau kalau Papa lagi kumat emosinya.

Sampai tiba suatu ketika gue pulang sekolah dengan lihat pintu rumah kebuka lebar dan nemuin Papa yang ngerokok di ruang tamu. Rumah udah kayak kapal pecah. Gue tanya, “Mama kemana, Pa?” dan Papa bilang Mama pergi.

Gue, anak umur 15 tahun, keluar setelah naruh tas gue sembarangan untuk nyusul Mama yang gue sendiri gak tau pergi kemana. Gue cuma ikut kata hati dan bener-bener mengandalkan feeling dengan harapan ketemu Mama yang belum jauh.

Di pinggir jalan dekat halte, gue liat ada kerumunan orang yang menyebabkan jalanan sedikit terhambat. Dengan perasaan was-was gue mendekat ke arah kerumunan dan berhasil masuk ke antara orang-orang dewasa itu, lalu mendapati yang berbaring dengan darah dari kepala dan beberapa anggota tubuh tersebut adalah Mama.

Mama lalu koma berbulan-bulan, dengan harapan hidup yang bahkan dokter pun gak bisa menjanjikan apapun. Gue jaga Mama sendiri, sesekali dibantu oleh Bu Sarah, tetangga gue yang hidup sebatang kara. Terkadang Mama suka kasih makanan ke beliau, makanya beliau dengan ikhlas bantu untuk merawat Mama.

Papa?

Bahkan gue gak peduli beliau dimana. Karena faktanya, beliau bahkan cuma datang sesekali untuk bayar tagihan rumah sakit Mama.

Mama sadar sekitar 4 bulan setelahnya. Dengan fakta pahit yang harus gue terima, bahwa Mama menderita penyakit Alzheimer. Mama memang berjuang dari sakit yang disebabkan tabrak lari itu, tapi Mama justru menderita penyakit yang membuatnya terkadang gak bisa menyebut nama gue lagi.

Seakan kesadaran Mama diselebrasikan oleh Papa, beliau justru membuat pesta pernikahan privat untuk dirinya dan perempuan yang selama ini disembunyikannya. Perempuan licik dengan seorang anak hasil perzinaan mereka 15 tahun lalu.

Alina.

Nama anak perempuan yang sifatnya gak jauh beda dari ibunya, licik dan menjijikan. Anak dari perempuan yang merenggut kebahagiaan dan keluarga gue.

Sejak itu, gue meminta pada Papa agar gue bisa keluar dari rumah. Gue gak sudi satu atap dengan orang-orang brengsek seperti mereka. Dengan senang hati beliau membelikan gue rumah di cluster tempat gue tinggal sekarang. Sesekali beliau berkunjung, hanya formalitas pada tetangga cluster gue agar terlihat masih memiliki keluarga.

Mama.. Gue titipkan pada Bu Sarah di sebuah rumah kecil di puncak yang tempatnya tenang, hijau, dan jauh dari perkotaan. Dengan rutin memanggil dokter untuk check up dan rutin mengonsumsi obat.

Semua beban gue ini, hanya gue simpan untuk pribadi. Gue enggan membaginya pada siapapun termasuk pada Dion, Harkan, Juan, apalagi Julia. Mereka udah lelah dengan dunia dan masalah mereka sendiri, kan? Gue gak mau menambah beban orang.

Alina, si perempuan gila itu, setahun lalu menyatakan dengan percaya diri kalau dia suka sama gue. Sebagai pria. Yang mana merupakan mimpi buruk bagi gue, juga terlarang. Gue liat mukanya aja muak, apalagi berpikir untuk suka sama perempuan kayak dia?

Bisa dibilang, setelah gue kenal Julia, pastinya Julia beribu-ribu kali lebih baik daripada Alina. Begitu baik sampai gue takut jatuh cinta. Takut kalau dia kecewa dan sakit hati dengan fakta bahwa gue gak bisa bersatu dengan dia karena banyaknya ketakutan di kepala gue.

Karena bagi gue, jatuh cinta itu menakutkan. Dan lebih menakutkan lagi, jika gue gagal berjuang untuk orang itu. Karena nama hanyalah nama, gue gak bisa merealisasikan arti pejuang di nama gue. Gue gak mau kalau Julia menjadi korban kegagalan gue dalam berjuang.

Di atas merupakan alasan kenapa Ghazy Gayandra selalu terlihat sibuk dengan dunianya sendiri. Karena gue terlalu tenggelam di dalamnya, gak mau siapapun masuk tanpa izin. Ghazy diciptakan untuk sendiri dan selamanya selalu begitu.


Kaki Julia melangkah mendekat ke arah laki-laki dengan kaos hitam dan celana denimnya, berdiri tegak di samping motor Scoopy keluaran terbarunya.

“Lama gak gue?”

Ghazy menggeleng. “Enggak.”

Julia menatap Ghazy, dan sebaliknya. Julia bingung Ghazy yang diam saja, dan Ghazy juga bingung Julia hanya menatapnua diam.

“Ini... Kita nunggu apa?”

“Helm,” Julia berkerut. “Helm lo mana, Julia?”

“Oh! Helm?!! Gak punya.”

“Kenapa gak bilang daritadi?”

“Ya gue bingung lo cuma ngeliatin gue kayak abis ngeliat setan gitu.” Julia melirik helm yang disangkutkan pada stang motor. Hanya satu. Besar pula.

“Harus pake helm emangnya?”

“Kalo lo mau kepala lo bocor ya gapapa.” ucap Ghazy membuat Julia merinding.

“IYA JANGANNN! AYO KITA CARI HELM, GHAZY, AYO CARII!!”

Ghazy diam-diam tersenyum di balik helmnya. Dia menyuruh Julia naik sebentar, membawanya ke rumah yang dia tinggali untuk mengambil satu helm cadangan.

Tak lama dia keluar dengan helm kecil berwarna putih yang memang di-desain untuk perempuan.

Dan bukan Julia namanya kalau tidak ada kelakuan anehnya. Dia struggle sendiri untuk memasang pengait helm di bawa dagu. Malah dia tarik ke atas ke bawah bahkan samping, bukannya dikaitkan.

Ghazy membuang napas, tangannya yang sudah memegang stang motor langsung ditarik kembali.

“Masa begini doang gak bisa,” ejeknya sambil memasukkan pengait helm Julia hingga berbunyi klik. “Lo gak pernah pake helm ya kalo naik motor?”

Julia menyengir. “Hehehe, tau aja ganteng.”

“Jangan kebiasaan.”

“Iya iyaa.”

Ghazy menjalankan motornya lalu berhenti di dekat warung nasi padang. Julia yang berpikir Ghazy ingin makan nasi padang hanya mengikuti dari belakang. Baru Julia melotot saat mendengar Ghazy memesan 15 bungkus nasi padang dengan lauk yang berbeda-beda.

“Ghazy, ngapain beli naspad sebanyak itu? Emang abis sama kita berlima?”

“Bukan buat kita, kok. Tapi lo mau?”

“Enggak gue tadi udah makan. Tapi buat siapa sebanyak itu?”

“Buat orang yang butuh, Julia.. Gak mungkin gue beli buat kita doang. Lagian di rumah Dion pasti udah banyak makanan, dan pastinya bukan nasi padang.”

“Gue kira buat kita semua..”

Setelah pesanannya selesai, Ghazy membayar semuanya dan meminta tolong Julia untuk memegangi bungkusan nasi padang di dalam tas belanja yang Ghazy bawa. Lalu mereka berkeliling daerah Tebet yang kata Ghazy, banyak orang-orang berkostum badut yang selalu duduk di pinggir jalan, juga beberapa tunawisma.

Ghazy berhenti di depan dua ibu-ibu dan satu anak kecil yang sedang duduk di pinggir jalan. Pakaian mereka kotor begitu juga tubuh mereka. Kurus dan kurang gizi, tidak sehat tapi tidak sakit.

“Ibu.. Ini saya ada nasi padang untuk makan,” Ghazy menghampiri, berlutut agar sejajar dengan kedua ibu-ibu di depannya. “Diterima ya, bu?”

Kedua ibu tadi langsung mengucap syukur dengan wajah terharu. Berkali-kali berterimakasih dan memegang tangan Ghazy dengan begitu erat. Bahkan ibu yang agak tua—sekitar 50an—matanya sudah berkaca-kaca.

“Alhamdulillah... Terima kasih banyak, dek.. Ibu belum makan dari pagi.. Kasian anak ibu..”

“Iya, bu.. Dimakan ya.. Maaf saya cuma bisa kasih segini.”

“Gak apa-apa, dek.. Segini aja kita juga udah seneng.”

Julia menatap Ghazy yang tersenyum tulus. Berpamitan pada kedua ibu tadi untuk mencari ke tempat lain.

Julia tidak bisa berkata-kata. Tak bisa berkomentar. Jantungnya berdegup menatap bahu lebar laki-laki itu dari belakang. Kagum dan... Jatuh hati.

Ghazy memang terlihat tidak peduli. Air mukanya selalu sama setiap saat kecuali sedang bersama teman-temannya. Baru tadi Julia melihat senyum Ghazy begitu tulus. Begitu sejuk dipandang sampai jantungnya berdetak dengan heboh.

Sesudah semua bungkus nasi itu habis, Ghazy memberhentikan motor di salah satu taman. Membeli cilok pada kakek-kakek yang keriputnya sudah memenuhi tangan dan wajahnya. Yang bahkan menuangkan bumbu kacang ke dalam plastik saja sudah pelan dan gemetar.

“Sini saya yang tuangin, Pak.” ucap Ghazy berinisiatif. Lagi-lagi Julia tersenyum kecil.

“Bapak jualan disini setiap hari?”

“Iya, mas. Kadang muter kalo taman belum rame.”

“Muter bawa gerobak ini, pak?”

“Iya, mas.”

“Berat ya, pak?”

“Ya lumayan, mas.. Udah tua juga..”

Julia melihat ke dalam panci cilok yang tersisa sebagian. Ghazy membeli 6 porsi.

“Pak, saya beli semuanya deh pak. Tadi kan temen saya beli 6 ya, itu pisahin aja, pak. Pokoknya abisin aja.”

“Seriusan, neng?” ucap penjual itu tidak percaya. Julia mengangguk dengan yakin.

“Iya, pak. Abisin aja semuanya.”

“Alhamdulillah... Makasih ya neng.. Semoga rezekinya dilancarkan oleh Gusti Allah..”

“Aamiin, pak, aamiin..”

Ghazy menatap Julia yang kebetulan juga sedang menoleh ke arahnya. Baru pada saat itu, Julia melihat senyuman yang selama ini disembunyikan oleh Ghazy.

“Pak, rumahnya dimana?”

“Di deket Pasar Tebet, mas.”

Ghazy menoleh pada Julia. “Lo bisa bawa motor kan?”

“Bisa.”

“Nanti boncengin bapaknya ya, biar gue yang dorong gerobaknya.”


Kaki Julia melangkah mendekat ke arah laki-laki dengan kaos hitam dan celana denimnya, berdiri tegak di samping motor Scoopy keluaran terbarunya.

“Lama gak gue?”

Ghazy menggeleng. “Enggak.”

Julia menatap Ghazy, dan sebaliknya. Julia bingung Ghazy yang diam saja, dan Ghazy juga bingung Julia hanya menatapnua diam.

“Ini... Kita nunggu apa?”

“Helm,” Julia berkerut. “Helm lo mana, Julia?”

“Oh! Helm?!! Gak punya.”

“Kenapa gak bilang daritadi?”

“Ya gue bingung lo cuma ngeliatin gue kayak abis ngeliat setan gitu.” Julia melirik helm yang disangkutkan pada stang motor. Hanya satu. Besar pula.

“Harus pake helm emangnya?”

“Kalo lo mau kepala lo bocor ya gapapa.” ucap Ghazy membuat Julia merinding.

“IYA JANGANNN! AYO KITA CARI HELM, GHAZY, AYO CARII!!”

Ghazy diam-diam tersenyum di balik helmnya. Dia menyuruh Julia naik sebentar, membawanya ke rumah yang dia tinggali untuk mengambil satu helm cadangan.

Tak lama dia keluar dengan helm kecil berwarna putih yang memang di-desain untuk perempuan.

Dan bukan Julia namanya kalau tidak ada kelakuan anehnya. Dia struggle sendiri untuk memasang pengait helm di bawa dagu. Malah dia tarik ke atas ke bawah bahkan samping, bukannya dikaitkan.

Ghazy membuang napas, tangannya yang sudah memegang stang motor langsung ditarik kembali.

“Masa begini doang gak bisa,” ejeknya sambil memasukkan pengait helm Julia hingga berbunyi klik. “Lo gak pernah pake helm ya kalo naik motor?”

Julia menyengir. “Hehehe, tau aja ganteng.”

“Jangan kebiasaan.”

“Iya iyaa.”

Ghazy menjalankan motornya lalu berhenti di dekat warung nasi padang. Julia yang berpikir Ghazy ingin makan nasi padang hanya mengikuti dari belakang. Baru Julia melotot saat mendengar Ghazy memesan 15 bungkus nasi padang dengan lauk yang berbeda-beda.

“Ghazy, ngapain beli naspad sebanyak itu? Emang abis sama kita berlima?”

“Bukan buat kita, kok. Tapi lo mau?”

“Enggak gue tadi udah makan. Tapi buat siapa sebanyak itu?”

“Buat orang yang butuh, Julia.. Gak mungkin gue beli buat kita doang. Lagian di rumah Dion pasti udah banyak makanan, dan pastinya bukan nasi padang.”

“Gue kira buat kita semua..”

Setelah pesanannya selesai, Ghazy membayar semuanya dan meminta tolong Julia untuk memegangi bungkusan nasi padang di dalam tas belanja yang Ghazy bawa. Lalu mereka berkeliling daerah Tebet yang kata Ghazy, banyak orang-orang berkostum badut yang selalu duduk di pinggir jalan, juga beberapa tunawisma.

Ghazy berhenti di depan dua ibu-ibu dan satu anak kecil yang sedang duduk di pinggir jalan. Pakaian mereka kotor begitu juga tubuh mereka. Kurus dan kurang gizi, tidak sehat tapi tidak sakit.

“Ibu.. Ini saya ada nasi padang untuk makan,” Ghazy menghampiri, berlutut agar sejajar dengan kedua ibu-ibu di depannya. “Diterima ya, bu?”

Kedua ibu tadi langsung mengucap syukur dengan wajah terharu. Berkali-kali berterimakasih dan memegang tangan Ghazy dengan begitu erat. Bahkan ibu yang agak tua—sekitar 50an—matanya sudah berkaca-kaca.

“Alhamdulillah... Terima kasih banyak, dek.. Ibu belum makan dari pagi.. Kasian anak ibu..”

“Iya, bu.. Dimakan ya.. Maaf saya cuma bisa kasih segini.”

“Gak apa-apa, dek.. Segini aja kita juga udah seneng.”

Julia menatap Ghazy yang tersenyum tulus. Berpamitan pada kedua ibu tadi untuk mencari ke tempat lain.

Julia tidak bisa berkata-kata. Tak bisa berkomentar. Jantungnya berdegup menatap bahu lebar laki-laki itu dari belakang. Kagum dan... Jatuh hati.

Ghazy memang terlihat tidak peduli. Air mukanya selalu sama setiap saat kecuali sedang bersama teman-temannya. Baru tadi Julia melihat senyum Ghazy begitu tulus. Begitu sejuk dipandang sampai jantungnya berdetak dengan heboh.

Sesudah semua bungkus nasi itu habis, Ghazy memberhentikan motor di salah satu taman. Membeli cilok pada kakek-kakek yang keriputnya sudah memenuhi tangan dan wajahnya. Yang bahkan menuangkan bumbu kacang ke dalam plastik saja sudah pelan dan gemetar.

“Sini saya yang tuangin, Pak.” ucap Ghazy berinisiatif. Lagi-lagi Julia tersenyum kecil.

“Bapak jualan disini setiap hari?”

“Iya, mas. Kadang muter kalo taman belum rame.”

“Muter bawa gerobak ini, pak?”

“Iya, mas.”

“Berat ya, pak?”

“Ya lumayan, mas.. Udah tua juga..”

Julia melihat ke dalam panci cilok yang tersisa sebagian. Ghazy membeli 6 porsi.

“Pak, saya beli semuanya deh pak. Tadi kan temen saya beli 6 ya, itu pisahin aja, pak. Pokoknya abisin aja.”

“Seriusan, neng?” ucap penjual itu tidak percaya. Julia mengangguk dengan yakin.

“Iya, pak. Abisin aja semuanya.”

“Alhamdulillah... Makasih ya neng.. Semoga rezekinya dilancarkan oleh Gusti Allah..”

“Aamiin, pak, aamiin..”

Ghazy menatap Julia yang kebetulan juga sedang menoleh ke arahnya. Baru pada saat itu, Julia melihat senyuman yang selama ini disembunyikan oleh Ghazy.

“Pak, rumahnya dimana?”

“Di deket Pasar Tebet, mas.”

Ghazy menoleh pada Julia. “Lo bisa bawa motor kan?”

“Bisa.”

“Nanti boncengin bapaknya ya, biar gue yang dorong gerobaknya.”

—Ghazy Gayandra ©fromranxx