Di Ujung Jalan


“Kata gue mendingan kita mencar sih. Nanti tanya aja di sekitar sini ada yang baru pindahan gak? Terus tunjukkin foto Nathan atau tanya nama gitu. Pokoknya terserah lo pada aja, yang penting dapet clue.”

Gata memberi perintah yang direspon anggukan oleh empat yang lain.

Sesuai rencana, mereka akan mencari Jonathan. Lingkungannya banyak gang kecil dengan mayoritas rumah sederhana. Banyak anak kecil dan lansia duduk di warung atau bangku untuk umum di setiap gang. Hari yang sore membuat jalanan ramai. Tak jarang mereka dilayangi tatapan bingung oleh penduduk situ.

“Permisi, Bu, mau tanya.. Ibu liat orang pindahan gak bu di sekitar sini?”

Tak peduli beberapa kali Lunar bertanya, yang dia dapat hanya gelengan. Teman-teman yang lain juga mengabarkan tidak mendapat clue sama sekali. Bahkan Ares dan Karin sudah menemui jalan buntu.

Dengan langkah pasrah, mereka akhirnya memutuskan untuk berkumpul di titik sebelumnya. Lunar memilih jalan lain, yang lebih sepi dari penduduk karena dia tidak suka dijadikan pusat perhatian.

Di ujung jalan dia mendapati laki-laki yang berdiri membelakanginya seraya menunduk. Tubuh laki-laki itu hampir menutupi jalanan kecil yang Lunar lewati. Lunar sempat melihat berita, ada kasus pemerkosaan di gang sempit seperti ini. Jadi Lunar hanya punya dua pilihan, berjalan di samping laki-laki itu, atau memutar balik. Karena yang dilewati hanya gang kecil tanpa cabang kanan dan kiri.

Dengan keberanian berkat ilmu bela diri semasa kecilnya, Lunar maju. Matanya membelalak saat merasa orang itu tidak asing.

Baru saja Lunar ingin memanggil, dia malah melihat Nathan menonjok tembok gang yang kasar berkali-kali. Lunar langsung sigap menahan tangan Nathan, membuat sang empu kaget.

“Tangan lo luka,” ucap Lunar.

“Lo...”

“Gak suka, kan, kalo tangannya luka? Soalnya kalo mandi jadi perih kalo kena air.” Lunar mengeluarkan tisu kering dari tasnya untuk menutupi luka Nathan.

“Lo kenapa bisa disini?”

“Lagi jadi detektif. Nyari temen gue yang tiba-tiba ilang tanpa kabar.” jawabnya sekaligus menyindir Nathan.

“Lun-”

“Lain kali kalo mau kabur ajak gue, Nat. Gue juga seneng kabur soalnya,” Lunar lalu menghapus air mata yang membekas di pipi Nathan. “Dan kalo mau nangis, jangan sendirian. Lebih enak nangis kalo ada temennya.”

“Lun, Jesslyn kabur dari rumah..”

“Iya, tau.”

“Gue harus gimana, Lun? Kalo Jesslyn kenapa-kenapa gue bisa dibunuh kali sama bapak gue.”

“Lo gak bakal dibunuh.”

“Tapi dia gak tau daerah sini, Lun, dia bisa nyasar. Kalo misalnya dia-”

“Jesslyn ketemu sama Karin, Nat. Lo tenang aja. Waktu nyari lo katanya dia ngeliat Jess lagi nangis di gang buntu. Mendingan lo simpen tenaga lo buat jelasin semuanya ke kita nanti.”