Penyembuh
Raja memacu motornya kencang. Beruntung jarak rumahnya dan rumah Lunar Gata tidak jauh. Jalanan juga lumayan bersahabat membuat dia sampai hanya dalam waktu 10 menit. Saat di pagar dia ditanya oleh satpam ada perlu apa karena Gata tidak di rumah, dan dia dengan kehabisan akal hanya menjawab kalau buku tugasnya terbawa oleh Lunar.
Setelah bertemu dengan Ibunda kedua sahabatnya, dia mohon izin untuk bertemu Lunar. Dengan alasan sama. Kebetulan katanya Lunar sedang di rooftop, jadi lebih mudah untuk Raja bertemu. Karena memang tidak etis rasanya bila dia masuk ke kamar Lunar hanya sendiri saja.
Kakinya melangkah cepat menaiki tangga mewah keluarga Prasetyo. Netranya lalu menangkap sosok Lunar yang sedang berdiri membelakanginya. Kepala Lunar menengadah ke langit yang malam itu bersih dari bintang. Angin malam itu cukup dingin, tapi Lunar malah berdiri di luar dengan baju tanpa lengan.
Raja melepas jaketnya, lalu dalam diam dia menaruhnya di bahu Lunar. Memberi Lunar kehangatan dari jaketnya. Tentu saja itu membuat Lunar terlonjak, dia bahkan hampir berteriak.
Memang niat hati ingin menghirup udara segar, menjernihkan pikiran sekaligus berusaha menenangkan hati setelah dia tau Gata sedang pergi.
“Raja, anjrit! Kaget tau gak?!”
Raja tersenyum tanpa melihat Lunar. “Iya, maaf.”
“Lo ngapain kesini?”
“Main aja ke rumah sultan. Mau ngotorin lantai yang dilapisin emas.”
“Lantai gue marmer, gak pake emas.”
“Ya marmer mahal juga, Lun, rumah gue ubin biasa tuh.”
Lunar membuang napas. Pembicaraan aneh ini harus dihentikan. “Iya, terserah.”
Kali ini gantian Raja yang menghadap Lunar, memperhatikan perempuan yang sedang berusaha kuat menahan tangis.
“Nangis aja,” ucap Raja akhirnya. Lunar melirik Raja, perlahan merasakan pandangannya semakin terhalang air. “Lo gak perlu nahan tangis di depan gue.” lanjut Raja lagi.
Sejak itu meledaklah tangis Lunar. Dia menangis deras, melepaskan seluruh emosi yang dia tahan. Tangannya mengepal, kepalanya tertunduk dalam, napasnya tidak teratur.
Raja dengan sigap membawa Lunar ke pelukannya. Sudah hampir 8 tahun mereka berteman, dan sudah 8 tahun juga Raja menjadi tempat kedua untuk Lunar beristirahat selain Gata. Bagi Lunar, Raja tempat cadangan yang selalu ada.
“Ja.. Gue capek..” ucap Lunar pelan, begitu menyakitkan untuk didengar Raja.
“Iya, tau, lo capek..”
“Gue cuma- mau punya temen, Ja.. Tapi- gue selalu dibilang sombong lah- seenaknya lah.. Gue gak maksud buat nyakitin siapa-siapa, Ja..” ucap Lunar dengan terputus-putus akibat tangisnya.
“Iyaa.. Gue tau lo gak mau nyakitin siapapun. Mereka yang sok tau.”
“Ja, gue harus gimana..?”
Raja menghela napas, lalu mengendurkan pelukannya. “Liat gue deh, Lun,” pintanya.
“Selama gue temenan sama lo, gak pernah sekalipun gue ngerasa lo bersikap sombong dan egois. Lo selalu bantu orang dan berbagi. Gue tau lo selalu mau ngajak kita semua buat belajar bareng, tapi emang kitanya aja yang males. Dan karena anugrah yang dikasih Tuhan sama lo, orang-orang jadi ngeliat lo terlalu menonjol.”
Raja mengambil jeda. “Masalah Karin diomelin Bu Susi, itu bukan salah lo sama sekali. Inget, ya? Itu pure emang Bu Susi aja yang gak ada adab,”
“Dan untuk masalah di twitter, mereka yang udah ngatain lo, mereka bener-bener gak pernah tau rasanya jadi temen lo. Mereka cuma jadi penonton yang ngiler liat lo. Gimana enggak? Lo pinter, lo cantik, orang-orang selalu beri lo lampu sorot kemanapun lo pergi, lo humble dan lo punya keluarga yang kaya. Semua yang orang mau ada di diri lo. Mereka cuma orang tolol yang iri tapi gak berusaha. Jadi lo gak perlu nyia-nyiain air mata lo buat orang kayak mereka.”
Raja menyeka air mata Lunar. “Lo berhak nangis, gue ga ke ngelarang. Berhak capek juga. Tapi gue rasa lo gak perlu dengerin mereka lagi. Lo harus fokus sama diri lo sendiri. Lo harus belajar buat gak nyalahin diri sendiri atas kegagalan temen lo. Masalah Karin itu bukan salah lo, tapi salah orang yang selalu bandingin lo.”
“Tapi Karin tadi jauhin gue, Ja..”
“Itu namanya dia juga lagi kondisi emosi dan gak stabil, Lun. Wajar. Karin's feelings are valid, and so are you. I'm not gonna blame anyone because none of you two are wrong. You guys just need some rest.“
“Karin gapapa, Ja?”
“Bisa fokus sama diri lo sendiri gak, Lun?”
Lunar terdiam. “Karin gapapa. Dia ditemenin yang lain. Tadi kata Ares, Gata juga nyamper Karin, mungkin karena dia belom liat kalau ada menfess yang ngehate lo, jadinya dia Buru-buru ke Karin.”
“Kok gak ngajak gue ya?”
“Karena dia tau kalian berdua butuh waktu sendiri dulu.”
“Karin yang butuh waktu sendiri dulu, Ja. Gue sih gapapa.”
“Enggak. Lo juga butuh. Lo pasti jadi beban merasa bersalah karena Karin jadi dipandang buruk dengan eksistensi lo. Jadi orang yang 'lebih' itu gak selalu nyenengin kan?”
“Udah, pokoknya jangan nangis terus. Sini peluk, lo kan demen berzina sama gue.”
“GAK GITU YA, BRENGSEK!”
“HAHAHAHA, iya bercanda.”
Lunar tidak tau apa yang salah. Tapi sejak Raja datang menaruh jaket di pundaknya, dunianya terasa begitu aman. Keberadaan Raja selalu jadi penyembuh. Dan karena hal itu, membuat Lunar takut kalau dia menyayangi Raja bukan hanya sebagai sahabat.