Perjalanan
“Lo nabrak nanti nyawa lo melayang loh, Nat.” ucap Raja. Dia memandang ragu Nathan yang sedang membuka pintu kemudi mobil Lexus LM 350 milik keluarga Gata.
“Enggak elah gak nabrak.” balas Nathan percaya diri. Meskipun dalam hati dia sebenarnya keringat dingin takut mobil seharga 2 milyar lebih itu lecet.
Masalahnya yang baru punya SIM mobil baru dia, Gata hanya punya SIM motor, begitupun Raja dan Ares. Jadi demi liburan privasi tanpa sopir, Nathan menyalonkan diri untuk menyetir.
“Pelan-pelan aja ya, nyet.” peringat Gata dari samping kursi kemudi. Di kursi tengah ada Raja dan Lunar dan di kursi paling belakang ada Karin dan Ares.
Setelah mobil jalan, Gata lalu memencet tombol play di ponselnya untuk menyetel musik agar tidak terlalu membosankan.
“You gotta help me, i'm losing my mind..” nyanyi Gata tiba-tiba membangun atmosfer ceria di dalam mobil.
“Keep getting the feel you wanna leave this all behind, thought we were going strong, i thought we were holding on.. Aren't we?” Raja, Lunar, Nathan, Karin bahkan Ares mulai ikut bernyanyi.
Sampai pada reff mereka mulai meninggikan suara. Tidak lagi peduli nada yang pas pada lagu, tak juga peduli suara mereka jelek atau bagus.
“YOU AND ME!! GOT A WHOLE LOT OF HISTORY!”
“WE COULD BE THE GREATEST TEAM, THAT THE WORLD HAS EVER SEEN!!”
Lagu ini sudah menjadi lagu wajib mereka kalau mengadakan liburan bersama. Bahkan sopir keluarga Gata Lunar yang 5 tahun menyetir untuk mereka saja sudah hafal.
Setelah disetel beberapa lagu, mereka berhenti di rest area untuk membeli makanan dan minuman. Seperti sudah biasa membagi tugas, Gata dan Ares pergi ke Starbucks untuk membeli minuman untuk yang lain. Nathan dan Lunar pergi ke arah supermarket untuk membeli makanan ringan. Sedangkan Raja dan Karin mencari makanan random dari rest area itu.
Tak butuh waktu lama, mereka sudah kembali duduk di tempatnya masing-masing sambil sibuk memakan makanan yang dibeli.
Raja menepuk lutut Lunar yang sekarang dalam posisi jongkok di atas jok. “Duduk yang bener!”
“Apaan sih enakan gini,”
“Lu lagi makan nanti makanannya langsung keluar kalo lu jongkok!”
“YA MASA GAK DICERNA DULU?!” balas Lunar kesal. Tapi akhirnya dia tetap menuruti Raja untuk duduk yang lebih normal.
Lain lagi dengan Karin yang sedari tadi meluruskan kakinya di atas kaki Ares yang posisi duduknya di tengah kursi Raja dan Lunar. Maksud Ares tadinya agar dia bisa menggapai makanan yang di taruh di depan dengan lebih mudah, tapi dia malah dijadikan bantal.
“Gue jalan lagi, ya? Takut macet kalo makin malem.” tanya Nathan yang dibalas anggukan yang lain. Karena mereka berangkat sore, sudah dipastikan mereka akan sampai tengah malam.
“Mereka tidur apa pingsan, Res?” tanya Gata tiba-tiba setelah melihat Lunar, Raja, dan Karin tertidur pulas. Bahkan suara musik yang disetel kencang oleh Gata tidak mengganggu acara tidur mereka.
“Pingsan itu mah,” sahut Nathan sembari melihat ke spion. Ares tertawa kecil lalu membenarkan posisi tidur Karin, khawatir lehernya sakit.
“Eh,” panggil Gata usai mengganti lagu menjadi instrumental piano. “Kalo ada yang keluar negeri beneran, kita gak full team lagi dong, ya.”
“Iya pasti.” sahut Nathan. “Emang lu mau keluar, Ta?”
“Gue..” Gata lalu melirik sekilas ke arah Lunar, memastikan dia benar-benar tidur. “Gue gak tau.”
“Lo bukannya fix di Indo, Ta?” tanya Ares.
“Pengennya sih gitu, Res, tapi lo tau sendiri bokap gue gimana..”
Ares dan Nathan lalu mengangguk mengerti. Siapa yang tidak kenal dengan ketegasan Ayah Gata dan Lunar?
“Lo jadinya gimana, Res? Keluar kota?”
“Gak tau, Ta.”
“Jangan jauh-jauh lah, nyet. Muka lo tuh muka-muka mau kabur tau gak?”
“Iya anjir, dibandingkan Gata gue lebih ngeri sama lu, Res. Kalo Gata kan ada Lunar yang bisa ngasih kabar, lah lu kan suka ilang tiba-tiba.” sahut Nathan mengiyakan.
“Iya, lo inget gak yang lo ilang gak bisa dihubungin waktu kelas 8? Itu kita panik gila, Res. Sumpah!” ucap Gata menggebu-gebu.
“Bener! Kita udah nyari sampe hampir ribut sama sekolah tetangga ngeri lo dijadiin tumbal tawanan supaya kita tawuran. Bangsat gue beneran gemeteran.”
“Itu yang gue kemana, ya?” Ares menerawang, lupa tujuan dia waktu itu kemana.
“Lo ke Ancol, anjrit!! Inget gak sih yang lo ketemu sama guru BK yang lagi cuti waktu itu?”
Ares menatap Gata yang sedang membalikkan badannya itu dengan tatapan bingung. “Yang mana?”
“Ih itu lohh, Bu Mega. Masa gak inget?”
“Oh Bu Mega?! Iya iya, gue baru inget.”
“Itu karena informasi Ares ilang udah sampe grup guru bukan sih?” tanya Nathan memastikan.
“Iya anjir, karena guru pada panik bokap Ares marah-marah jadinya bikin broadcast gitu.”
Nathan tertawa geli. “Udah kayak anak bayi aja anjir sumpah. Lo yang ilang kita yang panas dingin, Res.”
“Lagian kebiasaan anjir kalo pergi gak pernah ngomong. Kenapa sih lo?” tanya Gata.
Bahu Ares terangkat. Mengisyaratkan dia tidak peduli. “Kayaknya gue lagi berantem sama bokap waktu itu.”
Gata mengangguk-angguk. “Gue ngerti sih, kalo lagi berantem sama bokap emang enakan kabur.”
“Kenapa kabur dah?” tanya Nathan penasaran. Di antara mereka bertiga, yang jarang terdengar bertengkar dengan Ayahnya memang Nathan.
“Lo tau gak, Nat? Rasanya kayak lo mau nonjok orang karena kesel tapi gak bisa soalnya dia bokap lo.”
“Ya kalo nonjok kan durhaka, Ta.”
“Makanya gue sama Gata kabur kalo berantem sama bokap, Nat, soalnya kesel.”
Nathan mengangguk tanda paham. Perjalanan diisi dengan obrolan ringan mereka bertiga. Sesekali menertawakan dengkuran Raja yang menginterupsi.
“Anggep aja backsound.” kalau kata Gata.