1:30 AM Confession


“Pake aja selimutnya,” kata Raja pada Lunar yang malah bengong. Sebelum keluar kamar tadi Raja membawa selimut yang ada di kasurnya untuk dipakai Lunar. “Ih, ini pake dulu selimutnya, Lunar.... Dingin!”

Lunar melirik Raja lalu berkata, “Pakein dong.”

Raja berdecak, tapi tetap memakaikan selimutnya dengan hati-hati dan rapat. Memastikan tidak ada angin yang masuk ke dalam. Sedangkan dirinya hanya dibalut kaos dan kemeja yang dipakainya tadi sore. Lunar yang melihat itu langsung membuka selimutnya kembali. Raja yang sudah siap protes dibungkam dengan balutan selimut yang kini tersampir pada tubuhnya juga.

“Kalo cuma gue yang make, gak adil.” kata Lunar, menjawab kebingungan Raja.

Berhubung selimutnya cukup lebar dan tebal, jadi mereka memutuskan duduk bersebelahan dengan posisi itu.

“Yang lain pada tidur, Ja?” tanya Lunar membuka obrolan.

“Pada pules banget abis makan, Lun. Terus kan tadi mereka pada gak tidur di jalan, jadinya pada capek.”

Sewaktu di mobil, Karin terbangun di tengah perjalanan dan memutuskan untuk mengobrol hingga mereka sampai di tempat tujuan. Sedangkan Raja dan Lunar tetap tidur. Jadi wajar saja mereka tidak mengantuk berhubung mereka baru sampai 1 jam lalu.

“Ja,” panggil Lunar.

“Apa?”

“Lo pernah suka sama temen atau sahabat sendiri gak?”

Raja terdiam. Tidak berekspetasi dia akan dihadapkan dengan pertanyaan macam itu. Lunar, yang diam-diam sedang menunggu jawaban dengan hati tak tenang, bergerak gusar. Dimainkannya ujung rambut yang tergerai di pundak, berusaha menghilangkan gugup yang entah kenapa menyerang.

“Gak pernah, Lun.” ucap Raja setelah berpikir panjang.

“Lo setuju gak kalo sahabat bisa jadi pacar?”

“Kenapa lo nanya kayak ginian?”

“Hah?” Lunar menatap Raja bingung. “O- oh.. Enggak, yaa nanya aja.”

“Coba lo dulu yang jawab.”

“Lah gue nanya duluan?!”

“Ya lo jawab aja dulu.”

Lunar berdecak pelan, tapi setelahnya menjawab. “Gue setuju sih.”

“Kenapa?”

“Karena gue percaya cinta datang karena terbiasa. Gue dari dulu selalu berpendapat kalo cinta pandangan pertama tuh bullshit. Kalo lo ketemu orang pertama kali dan lo suka, ya itu karena lo tertarik aja. Gue lebih percaya cinta datang karena lo terbiasa sama orang itu.”

“Terbiasanya?”

“Ketemu, ngobrol, ketawa, nangis, atau bahkan— pelukan. Semua hal itu kalo dilakuin secara berkala dan berulang-ulang, ya kemungkinan buat jadi cintanya besar pasti.”

“Tapi kalo misalnya kedua sahabat itu jadi pacar dan suatu saat mereka putus? Lo berarti harus terbiasa sakit hati dengan orang yang ngelakuin banyak hal sama lo secara berulang-ulang itu?”

Lunar terbungkam. Seluruh gambaran romantis dua sahabat yang menyatu karena perasaan di benaknya tiba-tiba pudar. Tidak terpikirkan sama sekali olehnya tentang hal itu. Dia selalu berpikir bahwa seandainya dua orang sahabat itu putus dari status pacaran, maka semua akan tetap kembali seperti semula.

“Jujur, Lun, gue gak pernah mau suka sama sahabat sendiri. Gak berniat dan gak mau, lebih tepatnya,” Raja membuang napasnya kasar. “Karena kalo gue pisah sama orang itu, gue gak bisa tetep jadi sahabat dia yang dulu lagi. Gue atau pun dia pasti bakal nyimpen rasa sakit yang besar.”

“Seandainya lo tetep mau balik sahabatan setelah putus, you have to deal with your pain setiap kali lo ngeliat dia. Gue gak yakin gue kuat buat berdamai sama patah hati. Begitu juga sama dianya.” lanjut Raja.

“Ja,” panggil Lunar. Raja menoleh, menatap Lunar yang menatapnya dengan mata sayu. “Kalo gue bilang gue suka sama lo, hidup gue pasti keliatan bercanda banget, ya?”

“Lun..?”

“Don't worry, i can deal with my own pain. It's okay as long as i have you by my side— as a friend, maksudnya.”

“Lun..”