Bodoh
Biasanya setelah ulangan sosiologi selesai, Bu Susi —guru mata pelajaran sosiologi— akan menyuruh mereka untuk langsung mengoreksi lembar ulangan milik teman sebangkunya. Setelah itu beliau akan memanggil nama siswa sesuai absen dan sang pengoreksi akan meneriakkan nilainya.
Karin sudah dalam keadaan pasrah, Lunar yang menjadi teman sebangkunya melirik sekilas. Dia tau Karin akan seperti apa kalau nilainya di bawah standar.
Membenci dirinya sendiri.
“Lun, gimana ini nilai gue jelek, Lun...” bisik Karin pada Lunar saat melirik kertas ulangannya banyak coretan salah.
“Nilai gue juga gak bagus amat, Rin, ini soal emang gak jelas anjir.” balas Lunar juga berbisik.
Jonathan dan Raja sudah benar-benar pasrah, mereka malah menertawakan kegiatan 'mencoret nomor yang salah' mereka. Masalahnya, mereka mencoret hampir semua nomor, jadi tawa keduanya seakan mengatakan “lu salah semua bego!” pada satu sama lain.
Ares tidak terlalu banyak salah, Gata apalagi. Kebetulan saat kelas 10, dirinya dan Lunar pernah mengikuti lomba sosiologi, jadi ada beberapa materi yang dia ingat.
Nama siswa satu per satu mulai dipanggil. Karin menundukkan kepala setelah mengetahui fakta bahwa dia lah siswa dengan nilai nilai paling kecil—40. Semua memang di bawah KKM, tetapi tidak ada yang dibawah 50 seperti Karin.
Fakta itu membuat Bu Susi berdiri dari duduknya lalu menyilangkan tangan di depan kelas. Menatap tajam pada wajah tertunduk di depannya satu per satu.
“Kalian tuh niat masuk jurusan IPS gak sih?” tanyanya dengan nada kesal. Tidak ada yang menjawab.
“Ibu tanya, kalian niat gak?!” ulangnya dengan nada lebih tinggi membuat beberapa murid menjawabnya dengan ciut.
“Dari 36 siswa yang bagus nilainya cuma Gata sama Lunar! Yang lain itu belajar atau enggak?!”
“Bu, maaf..” Gata mengangkat tangan. Tidak ingin dirinya dan kembarannya menjadi bahan perbandingan dengan teman-teman yang lain. “Tapi memang beberapa soal ada yang materinya belum diajarkan, Bu.. Jadi mungkin itu alasan nilai kami belum memuaskan.”
Bu Susi tidak merasa bersalah. Masih juga tidak gentar. “Ya memang! Ibu memang mengeluarkan materi kelas 12 semester awal karena kalian sedikit lagi naik kelas. Kalau kamu dan Lunar saja bisa di atas KKM, kenapa yang lain enggak?” tanyanya pada Gata.
Gata mengepalkan tangan. Niat hati ingin meredakan amarah sang guru, tapi malah perkataannya diserang balik.
“Kalian tuh harusnya siap-siap belajar untuk dapat PTN dari sekarang! Jangan leha-leha, jangan cuma main aja bisanya! Masa materi kelas 12 aja kalian belum berusaha paham sih?”
Seluruh siswa sudah mendumel dalam hati. Ada yang menjawab dengan nada kesal, ada juga yang mengeluarkan sumpah serapah diam-diam.
“Dan kamu, Karin!” Bu Susi menunjuk Karin dan menatapnya tajam. Membuat yang ditatap menjadi ciut dan tidak berani menatap balik. “Kamu tuh ya, dari kelas 10 gak pernah gak remed! Selalu remed! Kamu tuh memang ditakdirin jadi bego atau gimana?!”
Perkataan Bu Susi membuat Gata, Lunar, Ares, Raja, dan Jonathan naik pitam. Tak terima sahabat tersayangnya dicela dengan frontal di depan seluruh teman-teman kelas.
“Kamu mau jadi apa sih? Gembel? Gak cocok banget kamu temenan sama Lunar. Dia aja bisa pinter, masa kamu masih jalan di tempat aja? Nilai 40 mah buat anak SD!”
Bibir Karin bergetar, tangisnya ditahan. Tidak ingin dibilang lemah dan dicela sekali lagi oleh guru di depannya. Lunar yang melihat itu tidak tinggal diam.
“Ibu—”
“Perkataan Ibu sudah saya rekam. Ibu mau saya laporkan ke kepala sekolah, Bu?” potong Ares sebelum Lunar berbicara.
Memang sejak Bu Susi berdiri di depan dan memulai ceramahnya, dia sudah menyiapkan rekaman karena yakin akan ada kata-kata kasar yang akan dilontarkan guru itu. Sudah 2 tahun dia bersekolah disini, dia sudah hafal betul tabiat sang guru. Sudah sering siswanya dicela dengan kata kasar seperti bego, tolol, bodoh dan lainnya. Tapi tidak ada yang berani melaporkan karena takut dan tidak punya bukti.
Sekarang tangan Ares mengangkat tinggi layar ponsel yang menunjukkan aplikasi perekam. Bu Susi yang melihatnya tentu terkejut dan merinding ketakutan. “Apa-apaan kamu?! Gak sopan sama guru!”
Ares mengangkat bibirnya, tersenyum mengejek. “Saya? Gak sopan? Hanya karena saya merekam bukti bahwa Ibu selama ini mencela murid sendiri? Bu, kami ke sekolah untuk belajar, bukan untuk dikatain sama guru sendiri. Kalau nilai kami di bawah KKM karena kami diberi soal yang kapasitasnya sudah lebih dari yang diajarkan, apa kami harus tetap dapat nilai sempurna? Enggak, Bu.”
“Ibu selama saya sekolah disini sudah berkali-kali mencela murid yang menurut Ibu 'bodoh'. Tapi nyatanya teman saya gak ada yang bodoh, Bu. Semua teman saya pintar dengan caranya masing-masing. Jangan hanya nilai di atas kertas kami jadi dicap bodoh.”
Bu Susi mati kutu. Dikiranya selama ini tidak ada yang keberatan dengan perkataannya. Karena menurutnya memang seluruh murid wajib pintar tanpa terkecuali. Menurutnya nilai di atas kertas itu penting untuk jadi tolak ukur kepintaran seseorang. Dan menurutnya, perkataan tercela yang dia lontarkan memang menjadi tanggung jawab seorang guru untuk menyadarkan muridnya.
“Kamu tuh bukan guru, Ares! Kamu gak ngerti cara jadi guru, jadi gak usah menggurui Ibu!”
Ares mengangguk. “Iya, Bu, bener. Saya memang bukan guru dan gak ngerti caranya jadi guru. Tapi seenggaknya saya tau mana yang salah dan yang benar. Disini posisi kami semua benar. Kami benar dan punya hak atas nilai di bawah KKM itu. Saya yakin seluruh teman saya pintar dan paham betul materi yang sudah Ibu jelaskan. Tapi yang jadi masalah adalah ada materi kelas 12 yang dikeluarkan tanpa sepengetahuan kami. Kami belum diajarkan materi itu, Bu, gimana kami bisa dapat nilai bagus?”
“Tapi Gata dan Lunar saja bisa bagus. Kalian juga dong?!”
“Bu, maaf. Saya dan Gata dapat nilai segitu mungkin karena dulu kami pernah mengikuti lomba sosiologi yang materinya dari kelas 10 sampai kelas 12. Kami masih ingat beberapa materinya jadi kami bisa menjawab soal itu dengan benar. Tapi teman-teman yang lain sama sekali belum diajarkan, Bu. Saya mohon, jangan bandingkan kami berdua dengan yang lain, kami juga manusia, Bu, gak pantas untuk dijadikan perbandingan terus-menerus.” ucap Lunar pada akhirnya.
Lelah dengan drama dan segala perkataan egois dari guru yang semena-mena itu.
Bu Susi terdiam, menatap keduanya dengan tatapan tajam dan kesal. Keduanya tak gentar, merasa harus membela seluruh kelas yang dicemooh terus-menerus. Karena merasa kalah, Bu Susi langsung keluar kelas setelah membawa seluruh barang-barangnya. Bertepatan dengan bunyinya bel istirahat, membuat Karin langsung melesat pergi tanpa kata.
“Karin!” Lunar yang ingin mengejar Karin pun ditahan oleh Ares.
“Biarin dulu, Lun. Biar tenang dulu.”