fromranxx


“Halo, assalamu'alaikum, Bunda..?” sapa Raja sedetik usai telfon dengan Bundanya tersambung.

“Wa'alaikumsalam... Anak Bunda sehat, kan?” jawab Bundanya—Renjana dari seberang sana.

Mendengar suara lembut Renjana membuat Raja terdiam. Disaat terendah seperti ini yang dia perlukan sebenarnya hanya pelukan Renjana. Tapi sayang, sudah hampir satu bulan Renjana sibuk bolak-balik Jakarta-Bandung untuk mengurus nenek Raja yang sakit, jadi Raja hanya sendiri di rumah.

“Alhamdulillah sehat terus kok, Bun.. Bunda gimana? Aman, kan?”

“Alhamdulillah Bunda juga sama, kok.. Nenek juga mulai bisa ketawa. Jadi gimana? Raja kenapa?” tanya Renjana lembut.

Raja lalu menceritakan semua kesalahpahamannya dengan Lunar, serta hubungan keduanya yang sedikit renggang beberapa minggu terakhir. Renjana mendengarkan dengan baik, mengerti betul perasaan khawatir yang dirasakan Raja.

Setelah cerita Raja usai, Renjana sedikit menghela napas. Agak tidak percaya anaknya sudah besar, sudah bisa menceritakan keluh hatinya tentang wanita kesayangannya.

“Dulu.. Bunda sama Ayah juga begitu. Ayah dulu anaknya rajin.... banget. Sekalinya ngerjain sesuatu harus tuntas dan sempurna. Kalau gak tuntas, dia pasti nyalahin dirinya sendiri dan mikir kalau kegagalannya karena dia kurang usaha. Bunda yang ngeliat cara pikir Ayah kamu dulu juga ikut pusing.” Renjana terkekeh pelan. Menerawang kisah lampaunya dengan mendiang Ayah Raja.

“Raja pasti capek, ya?” Raja tertunduk diam, masih dengan tangan yang menahan ponsel agar tetap menempel di telinga kanannya. “Punya pasangan yang punya ambisi besar memang kadang capek, Raja. Kita disini cuma gak pengen dia sakit, tapi dia yang disana masih kekeuh dengan tujuannya. Gak ada yang salah disini.”

“Terus Raja harus gimana, Bun? Jujur Raja juga capek kalo begini terus. Lunar kalo diajak chat selalu emosi. Apalagi karena kesalahan Raja nuduh dia berduaan sama temen kelas Raja.”

“Iya, Raja salah. Tapi Raja juga berhak istirahat, kok. Menurut Bunda, kalian berdua lagi ada di posisi sama-sama capek. Lunar capek ngejar tujuannya, Raja juga capek ngajak dia pelan-pelan. Karena ibaratnya Raja itu narik tangan Lunar buat jalan padahal dia lagi lari kenceng, pasti dia marah. Terus untuk masalah Raja nuduh Lunar itu, sebisa mungkin jangan dibahas dulu sampai semuanya reda, ya? Kalau dua-duanya masih dalam keadaan emosi semuanya gak akan berhasil.”

Raja membuang napasnya kasar. Tangan kirinya mengacak-acak rambut frustasi. Bingung juga harus menjawab perkataan Renjana dengan kalimat apa.

“Maafin Bunda, ya. Bunda gak ada di sisi Raja padahal Raja lagi begini. Bunda usahain sabtu ini Bunda pulang, oke?”

Raja menggeleng, padahal Renjana pun tidak bisa melihat. “ Gak usah, Bunda. Kalau Bunda masih diperluin di rumah sana gapapa, gak usah mikirin Raja. Nanti juga masalahnya selesai, kok.”

“Yakin?” tanya Renjana masih dengan lembut.

Raja menggeleng, tapi menjawab, “yakin, Bun.” Membuat otak dan mulutnya bekerja secara tidak sinkron.

Renjana lalu berpesan pada Raja sebelum menutup telfon. “Yang namanya tujuan hidup itu pasti beda-beda. Yang menurut kamu A bisa jadi menurut mereka B. Yang menurut kamu gak penting, bisa jadi menurut mereka amat penting. Jadi kamu jangan sekali-kali menyepelekan tujuan hidup orang, ya? Selalu hargai orang lain kalau kamu mau dihargai. Selama tujuan Lunar baik, kamu harus dukung. Tapi kamu tetep disampingnya, mengawasi supaya dia gak keluar garis terlalu sering.”

“Iya, Bunda..”

“Tapi jangan lupa juga..” Renjana menjeda. “Yang paling penting adalah sayang sama diri sendiri dulu, baru orang lain.”


Mereka sudah berkumpul, menunggu kedatangan Amanda yang mengabari bahwa dia terjebak macet. Gata berulang kali mendelik ke arah Raja dan Lunar yang terlihat begitu kasmaran. Rasa dunia milik berdua, kalau kata orang.

“Eh, Nat, lo sama Laura itu gimana jadinya deh?” tanya Karin membuat semua yang awalnya sibuk sendiri jadi menoleh ke arah Nathan.

Nathan tersenyum malu. “Ya gitu, deh..”

“Gitu deh, tuh, apaan? Yang jelas, kek!” omel Karin kesal.

“Gue sih udah kode-kode kalo gue suka sama dia, terus dia juga udah nerima kode gue dengan baik sih. Pokoknya tunggu aja deh.” Nathan langsung menyeruput ice lemon teanya.

“Semalem gue liat snapgramnya Laura, lo berdua abis video call-an, ya?” tanya Lunar. Nathan mengangguk.

“Widih, ini mah tinggal tembak aja, Nat, gas lah, Men!!!”

“Gas gas aja, lo. Ogah! Gue gak mau buru-buru,” sanggah Nathan yang dihadiahi remukan tisu oleh Raja.

“Sok banget!”

“Tapi Laura anaknya emang baik sih, mana cantik banget. Dia kalo lagi ngebimbing dekel jurnalis tuh berwibawa banget. Gue setuju, Nat, lo sama dia,” ucap Karin.

“Pilihan gue mah emang gak pernah salah, Rin.” Nathan menaikturunkan alisnya.

Gata diam-diam lega, melihat teman-temannya yang mulai menemukan kebahagiaannya masing-masing membuat dia semakin ringan untuk meninggalkan mereka tahun depan ke luar negeri. Iya, janjinya pada Sang Ayah saat membantu Nathan. Belum ada yang tau rencananya untuk ke luar negri, bahkan Lunar.

Bel di pintu masuk terdengar, mereka kompak menoleh, mendapati Amanda dengan kedua tangan yang penuh berjalan ke arah mereka. Dia lalu menaruh tas-tas belanjaan yang dia bawa di atas meja lalu membalas sapaan kelima anak manusia itu.

“Halo, Tante.. Apa kabar?” tanya Karin sambil menyalami tangan Amanda. Yang lain juga mengikuti Karin dan menyapa Amanda satu per satu.

“Baik.. Tante alhamdulillah baik..” ucap Amanda masih dengan senyum lebar. “Oh iya, ini ada hadiah buat kalian..” lanjutnya.

Dia memberikan tas itu satu per satu pada mereka. Diterimanya hadiah-hadiah itu dengan wajah senang. “Tante.. Kok repot-repot gini, sih..?” ujar Lunar terharu.

“Tante ih, kalau begini kan Raja jadi enak..” canda Raja mengundang tawa semuanya.

“Makasih banyak loh, Tan, ini bagus banget..” ucap Nathan, membuka lebar jaket yang diterimanya. Mereka masing-masing dapat satu baju yang ukurannya benar-benar pas di tubuh mereka.

“Tante kok jago banget, deh, nebak ukuran baju kita?”

“Bukan Tante yang nebak, kok. Tante dikasih tau,” jawab Amanda.

“Dikasih tau siapa, Tan?”

“Sama orang yang Tante ajak kesini. Mana ya? Tadi katanya sih cari parkiran mobil dulu..” Amanda menoleh ke arah pintu masuk membuat semuanya mengikuti arah pandangnya.

“Nah, itu dia!” seru Amanda membuat semuanya makin memanjangkan leher mereka mencari orang yang dimaksud.

Bel pintu masuk kembali berbunyi, membawa masuk seorang anak manusia dengan senyum kecil di wajahnya. Orang itu menatap langsung ke arah mereka sambil tersenyum.

“ARES?!”


Hari ini Lunar berangkat lebih pagi karena Raja mengajak sarapan bubur sebelum pergi ke sekolah.

“Ikut, dong!” sewot Gata saat melihat Lunar sudah mengikat tali sepatunya dengan Raja yang berdiri bersender di daun pintu.

“Gak mau, acara privat,” ucap Raja sambil mengangkat tangannya di depan wajah Gata.

“Halah acara privat pala lo. Lagian ngapain sih pagi-pagi banget?”

“Dibilang nyarap bubur!” kesal Lunar usai mengikat tali sepatunya. Dia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan sambil menatap Gata sewot.

Raja tiba-tiba menunduk, mengikat ulang tali sepatu Lunar yang menurutnya kurang kencang. Gata yang melihatnya langsung heboh sendiri. “WIDIH WIDIH, MAU KELIATAN GENTLE LO, YA?!”

“Apaan, sih.” Raja membuang muka malu.

Lunar langsung memukul dada Gata. “Udah sana mandi! Gue mau berangkat. Bye!”

“Udah izin Bunda belom?” tanya Gata memastikan. Lunar mengangguk. “Udah.”

Gata yang masih dengan celana pendek hitam dan kaos abu-abunya mengantarkan mereka sampai di depan pagar. Berpesan agar Raja berhati-hati membawa motor.

Di atas motor, Lunar membahas tentang film Frozen yang baru dia tonton semalam. “Nah abis itu Si Olaf manggil Elsa, Anna, gitu kan, tapi dia malah manggilnya Samantha, anjir! Padahal kan gak ada yang namanya Samantha! Hahahahah.” Lunar bercerita dengan semangat sedangkan Raja tersenyum di balik helm full facenya.

“Terus abis itu?”

“Terus ada adegan Si Kristoff mau ngelamar Anna tapi dianya malah keburu pergi nemenin Elsa buat ke tempat tujuannya itu. Kasian banget deh pokoknya, padahal udah nyiapin rusa banyak banget.” Lanjut Lunar.

“Emang ada rusanya?” tanya Raja. Kebetulan dia tidak pernah ingin tau kartun anak seperti ini. Yang dia tonton hanya serial Marvel dan superhero lainnya.

“Ada!! Ih pokoknya lo harus nonton deh, Ja,” ujar Lunar lalu turun dari motor Raja karena mereka sudah sampai di tukang bubur langganan mereka.

“Iya, nanti nonton sama lo, ya?”

“Iya, gue juga mau nonton lagi. Keren banget lagunya!” Raja terkekeh melihat Lunar begitu semangat menceritakan film itu.

Mereka duduk di bangku kosong setelah memesan bubur. Lunar tanpa kacang dan Raja tanpa seledri. Raja menatap Lunar. Syukur perempuan itu sudah lupa dengan hal yang membuatnya emosi dua hari lalu. Setelah acara baku hantam dengan adik kelas itu, Lunar sempat diperingati oleh wali kelas tetapi tidak dipanggil oleh BK karena dirinya yang sudah mengharumkan nama sekolah. Agak tidak adil memang, tapi bagi Raja yang penting Lunar tidak kesulitan.

Karena Lunar yang terus-menerus memaksa ingin tau nomor telfon adik kelas yang rambutnya hampir dia bikin rontok, Raja memberi Lunar satu akun Disney Hotstar yang tidak dia pakai untuk mengalihkan pikiran Lunar. Beruntungnya perempuan itu menurut dan sudah mulai melupakan masalah kemarin.

Mereka makan bubur dengan diisi ocehan Lunar tentang daftar film yang ingin dia tonton, juga cerita Raja tentang betapa serunya film Marvel yang dia ikuti. Tidak sadar, bubur mereka sudah habis. Lunar meminum teh tawar hangat yang dia pesan, membuat Raja melihatnya sambil tersenyum.

“Kenapa senyum-senyum?” ucap Lunar sambil mendelik.

“Minumnya sampe habis dong, Lun,” bujuk Raja.

Lunar yang heran tetap menghabiskan minumnya sampai tak bersisa. “Coba baca bawah gelasnya,” pinta Raja.

Lunar mengecek yang dikatakan Raja, dilihatnya dengan seksama. Ada tulisan kecil yang ditulis dengan spidol hitam.

“Ja..” panggil Lunar membuat Raja berdeham sebagai respon. “Ja.. ini serius?”

“Ya serius, lah. Mau gak?”

“Ini prank, ya?” tanya Lunar lagi, masih ada trust issue rupanya.

“Kalau gak mau gapapa, sih.. Paling gue lempar ke cewek la—”

“Iya iya, mau.” Lunar menjawab malu dan langsung membuang muka. Senyum Raja mengembang.

“Serius mau?”

“Iya..” cicit Lunar. Kecil sekali, akibat malu.

“Ciee, jadi pacar gue..” Raja terkekeh sambil menoel pundak Lunar.

“Apa sih,” balas Lunar dengan pipi merahnya.

Raja senang rencananya berjalan lancar. Usai bekerja sama dengan penjual bubur agar mengizinkan dia menitipkan gelas bening yang sudah dia tambahkan tulisan itu, dia akhirnya berhasil mengubah status Lunar menjadi miliknya. Satu kata tanya singkat, tapi ternyata diam-diam ditunggu.

Pacaran yuk?


flashback

Sesudah Karin mengerjakan remedial dari guru Geografi, dia berjalan ke arah Gata yang berdiri di bawah tiang basket. Gata berdiri dengan tas yang hanya disangkutkan ke satu bahunya, menatap Karin dengan senyum yang memperlihatkan gigi rapihnya.

“Bete banget mukanya?” tanya Gata heran, sambil masih tersenyum karena wajah Karin yang ditekuk.

“Gue udah ngerjain semua tapi nilainya tetep 70,” gerutu Karin. Tangan Gata terangkat untuk mengelus puncak kepala Karin, berusaha menghibur.

“Gapapa, geografi emang susah, kok.” Lalu digenggamnya pergelangan tangan Karin, mengajaknya menuju motor yang masih terparkir rapi di tempatnya.

“Kita main timezone dulu, mau gak?” tanya Gata. Karin langsung mengangguk senang. “Tapi makan dulu! Ya, yaa?”

“Iyaa, makan dulu.” Gata lalu memakaikan helm putih ke kepala Karin. Helm yang hanya dipakai oleh dua perempuan kesayangannya setelah Bunda, yaitu Lunar dan Karin.

Mereka menghabiskan waktu 25 menit untuk makan, setelahnya bergegas menuju timezone yang terletak di pojok. Baju mereka sudah diganti dengan sweater yang selalu dibawa di tas, sedangkan bawahan mereka masih tetap rok dan celana abu-abu khas anak SMA. Mereka mengganti baju hanya untuk menghilangkan identitas sekolah mereka yang terpampang di kerah yang bermotif itu.

Ada hampir 2 jam mereka berkeliling mencoba satu per satu permainan yang tersedia. Mereka juga bermain bowling yang disedikan di dalam timezone. Karin berkali-kali memuji ketampanan Gata saat memegang bola berat itu. Meskipun tidak sejago pemain profesional, menurutnya Gata tetap tampan.

Usai bermain, mereka membeli es krim lalu duduk di bangku kosong. Sambil menyantap es krim, mereka memperhatikan ke sekeliling, sesekali menertawakan orang-orang yang bertingkah aneh. Sampai Gata tiba-tiba menatap Karin dan membersihkan es krim yang berantakan di sudut bibirnya. Hal itu membuat Karin ikut menatapnya, menyembunyikan detakan jantung yang mulai tak normal.

“Rin,” panggil Gata pelan. “Kalau gue bilang gue suka sama lo, lo bakal nerima gue jadi pacar lo, gak?”

Karin menahan napasnya, tidak sangka akan mendapatkan pernyataan perasaan seperti ini. Dia mengalihkan pandangan, memutus kontak matanya dengan Gata, berpura-pura bersikap biasa saja dengan menyuapkan es krim yang mulai meleleh di tangannya.

“Lo... ngerasain hal yang sama kan, Rin?” Gata kembali bertanya. Dirinya tidak bodoh, bertahun-tahun dia mengenal Karin, dia tau ada yang lain dari cara Karin menatap dirinya. Berkat pesan Ares yang bilang dia harus mencoba menyatakan perasaannya dan berhenti menjadi pengecut, akhirnya Gata meyakinkan dirinya untuk mengejar Karin. Now or never, pikirnya.

Karin tentu senang saat tau Gata juga merasakan hal yang sama dengan dirinya, malahan, ini yang dia tunggu. Tapi semenjak kepergian Ares ke Surabaya usai menyatakan perasaan yang tidak bisa dia balas itu, rasanya Karin memiliki beban berat di pundak. Bahkan setelah beberapa kali berbincang dengan Lunar dan ditenangkan dengan kata-kata “Itu bukan salah lo.” berkali-kali, dia masih merasa bersalah. Rasanya berat, rasanya tidak adil bila dia bahagia sendirian.

“Ta..” panggil Karin, membuat Gata diam-diam menarik napas dalam. “Gue gak bisa, Ta..”

Gata membuang muka, lumayan kecewa mendengar jawaban Karin. Dia pikir semua akan berjalan lancar. “Gue gak bisa nerima lo sekarang, Ta. Tapi gue juga gak bisa janji bisa nerima lo di lain waktu. Ada urusan perasaan yang belum selesai, Ta, harus gue selesaiin dulu.” Karin menatap Gata yang sekarang tatapannya kosong ke depan.

“Maaf ya, Ta?”

Gata menoleh, mengukir senyum di bibirnya. “No need to say sorry kali, Rin. Gapapa.” Gata mengangguk kecil lalu berdiri.

“Udah selesai, kan, makannya? Pulang, yuk? Gue gak enak sama nyokap lo kalau mulangin lo terlalu malem.”

Karin mengangguk lalu berdiri. Sebelum Gata melangkahkan kakinya, dia menahan tangan Gata. “Ta,” panggilnya. “Lo boleh kok jaga jarak dulu sama gue kalau ngeliat gue rasanya terlalu sakit dan kecewa.”

Gata tertawa kecil. “Gue gak akan jaga jarak, Rin. Gue bakal nunggu lo dengan urusan perasaan lo itu tepat di samping lo. Gue gak akan kemana-mana.”


Saat mereka selesai memarkirkan motor dan ingin berjalan ke lobby kantor, tiba-tiba seorang wanita menghampiri dengan wajah panik.

“Kalian ngapain disini?”

“Tante?” mereka otomatis menoleh ke arah Ibu Ares—Amanda—yang menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada yang melihat mereka.

“Kalian ada perlu apa disini?” tanya Amanda lagi.

“Tante, kemarin kita ke rumah Tante buat nanya Ares dimana tapi kita gak boleh masuk.. Jadinya kita pikir dengan kita kesini Om Mada bakal kasih tau kita.” jelas Nathan.

Amanda menghela napas lalu menggeleng. “Jangan. Jangan tanya tentang Ares ke Ayahnya. Sekarang kalian ikutin mobil Tante, kita bicarain hal ini di tempat lain.” ucap Amanda memberi perintah.

Mereka yang merasa bisa dapat pencerahan akhirnya mengangguk semangat lalu bergegas naik ke motor masing-masing. Amanda membawa mereka ke salah satu kafe daerah Kemang yang tidak terlalu banyak pengunjung.

Setelah memesan mereka duduk melingkar, menatap Amanda dengan tatapan menagih penjelasan.

“Sebelumya, Tante minta maaf karena kemarin Tante gak keluar buat temuin kalian. Maaf kalau kalian merasa diusir sama satpam Tante kemarin,” ucap Amanda memulai percakapan. Yang lain hanya mengangguk pertanda mereka tidak mempermasalahkan hal itu. Berarti bisa dipastikan bahwa yang dilihat Raja dari jendela adalah Amanda.

“Ares baik-baik aja kan, Tante?” tanya Karin.

Amanda mengangguk. “Ares baik, sehat.”

“Tapi kenapa Ares tiba-tiba pindah begini, Tan?” kini Lunar yang bertanya.

“Ares dipaksa sama Ayahnya untuk ninggalin Jakarta. Handphone Ares ditinggal disini, Tante yang pegang. Ares disana tinggal sama yang ngurus dia dari bayi.”

“Disananya itu dimana, Tan?” tanya Gata. Dalam hati berniat untuk menghampiri Ares.

“Surabaya..”

”...Tapi kalian gak boleh kesana. Kalian gak boleh ngehubungin atau nemuin Ares.”

Kelima dari mereka mengerutkan dahi keheranan. Tidak mengerti mengapa semua jadi rumit seperti ini. “Maksudnya gimana, Tan? Kami ini, kan, temennya Ares?!” ucap Gata dengan nada sedikit meninggi. Menurutnya semua tidak masuk akal.

“Bukan, kalian bukan temen Ares. Kalian cuma beban yang bikin Ares semakin ditekan sama Ayahnya. Selama bertahun-tahun Ares temenan sama kalian, yang dia dapat cuma tuntutan dan amarah untuk ngalahin kalian dalam pelajaran.”

Semua benar-benar kebingungan. Mereka tidak pernah mendengar Ares mengeluh tentang hal ini. Semua ditutup rapat oleh Ares, membiarkan semuanya dia pikul sendiri tanpa diketahui oleh mereka.

“Tante seneng Ares bahagia sama kalian. Kalian anak baik dan ramah. Tapi selama kalian temenan sama Ares, yang Ares dapat cuma omelan dari Ayahnya. Tinggalin Ares sendiri, jangan cari dia dan jangan temui dia lagi. Tante mohon sama kalian..” Amanda menunduk, menahan air mata agar topeng tegas yang dia pakai tidak jatuh.

Sejujurnya dia pun tidak tega. Dia tau bahwa kelima sahabat Ares adalah anak-anak baik. Mereka tidak salah, tidak juga berhubungan dengan masalah rumah tangganya. Tapi dia harus melakukan ini. Agar keluarganya dibenci, agar mereka tidak lagi menemui Ares yang diancam akan dikirim keluar negeri seandainya bertemu dengan sahabat-sahabatnya tanpa sepengetahuan sang ayah.

Semua hanya wujud kasih sayang seorang Ibu yang tidak ingin anaknya dikurung lebih jauh oleh suaminya sendiri. Kalau dengan menjauhkan Ares dari sahabatnya adalah jalan terbaik, maka dia akan lakukan itu.

“Tante, sebentar, aku bener-bener gak bisa mencerna semuanya dengan baik. Jadi maksud Tante, kami harus jauhin Ares, pura-pura gak kenal sama Ares dan ngelupain Ares yang keadaannya sekarang gak tau di Surabaya bagian mana? Iya, Tan? Setelah 8 tahun kami jadi sahabat Ares, kami gak boleh ketemu dia lagi?” ucap Lunar, menjabarkan kenyataan pahit yang benar-benar tidak bisa diterima akal sehatnya.

“Iya. Kalian udah gak punya hak untuk ketemu sama Ares lagi. Cukup sampai disini, kalian harus putusin hubungan kalian sama Ares.”

“Kenapa sih, Tan? Karena ambisi suami Tante yang mau ngalahin Ayah saya?” pertanyaan Gata sukses membuat semuanya terbelalak.

“Awalnya saya rasa semuanya gak masuk akal. Tapi saya inget, Raja pernah bilang kalau Om Madani dan Ayah saya itu rival dalam hal bisnis, saya jadi semakin yakin kalau kami juga dibikin seperti rival dalam hal akademis. Saya dan Lunar selalu di atas, membanggakan, Ayah saya selalu membawa nama kami di setiap kesempatan atas prestasi kami. Ares pintar, dia selalu hampir menyusul peringkat kami tapi selalu hanya 'hampir'. Jadi Ayah Ares marah, dan meminta Ares untuk jauhin kami? Gitu, Tan?”

Amanda tau kalau Gata jenius, tapi dia tidak menyangka kalau hal yang ditutupi rapat-rapat justru terbongkar hanya dengan logika anak kelas 12 SMA. Air mata lolos dari kedua mata Amanda, pembawaannya yang tegas sudah luntur. Dia tidak bisa berpura-pura jahat di depan lima anak baik ini. Sudah 8 tahun dia mengenal mereka, dia tau watak dari tiap-tiap mereka.

“Tan, saya gak bermaksud untuk ikut campur masalah Tante dan Om Mada. Tapi saya akan ikut campur kalau ini menyangkut kebahagiaan Ares. Cara Tante barusan pasti cuma akal-akalan supaya kami benci Tante dan nyerah untuk ketemu Ares, kan? Tapi nyatanya kami gak akan nyerah, Tante. Ares itu teman kami dari kecil, kami tau Ares susah bersosialisasi, kami tau Ares bahagia disini, sama kami, sama Tante. Dengan Tante misahin Ares sama kami, semua masalah gak akan selesai, Tan. Yang harusnya Tante selesaikan itu masalah Tante dan Om Mada. Harusnya Ares gak jadi korban disini, Tan..”

Amanda menangis. Tertampar kenyataan yang dijabarkan oleh anak umur 17 tahun. Merasa dirinya bodoh karena pasrah dengan keputusan Ares yang tiba-tiba ingin mengikuti kemauan egois suaminya. Mengorbankan kebahagiaan anaknya, berpikir bahwa ini hanyalah fase dan berpikir bahwa dia dan Ares akan lepas dari Mada jika mereka mengikuti alur. Tapi Amanda baru sadar, bahwa semakin dia mengikuti alur yang dibuat oleh Mada, semakin terkurung lah dia dan Ares dari dunia luar. Semakin hilang kekuatan yang dia punya untuk mengontrol hidupnya. Seharusnya sedari awal, yang dia akhiri adalah hubungannya dengan Madani, bukan hubungan Ares dengan lima sahabatnya.

“Tante, saya mohon maaf kalau saya lancang. Tapi kami gak bisa tenang kalau begini caranya. Kami gak bisa tau kabar Ares, kami gak bisa ketemu sama Ares, apa Tante pikir kami akan diem aja dan ngelupain Ares? Enggak akan, Tante, Ares itu sahabat kami.”

“Tante minta maaf.. Tante— tante merasa bodoh. Harusnya Tante larang Ares untuk pergi, harusnya Tante yang bawa Ares pergi dari ayahnya. Tante selama ini menunggu waktu yang tepat, berpikir bahwa kalau Tante ikuti apa yang Mada mau, maka Tante dan Ares akan bebas. Tapi nyatanya enggak. Kami semakin terpuruk dan keadaan malah semakin sulit.”

“Tante..” Lunar berpindah tempat duduk dan menempati bangku kosong di sebelah Amanda. Memeluk Amanda erat, menenangkan Ibu sang teman yang sudah dia anggap ibu sendiri. “Tante gak salah.. Tante cuma lakuin apa yang menurut Tante benar. Sekarang keputusan ada di tangan Tante, ibaratnya, Tante yang tau keadaan di belakang dapur itu kayak apa. Bahkan cuma Tante yang bisa menggugat cerai Om Mada dengan segala alasan masuk akal di dalamnya. Kalau menurut Tante dengan pisah sama Om Mada akan menyelesaikan masalah, silahkan, Tan.. Kami pasti akan dukung Tante. Tante udah baik banget sama kami selama kami temenan sama Ares, jadi gak ada alasan untuk kami benci sama Tante..”

Pertemuan sore itu memberi jawaban pada kedua pihak. Memberi jawaban atas seorang wanita yang tersesat penderitaan, dan juga jawaban pada para sahabat yang kehilangan. Tidak pernah mereka sadari bahwa diskusi hidup seperti ini begitu diperlukan. Tidak pernah juga mereka sadari bahwa sahabat yang sebenar-benarnya sahabat adalah mereka yang berusaha untuk selalu bersama.


Sepulang sekolah, mereka berlima tanpa babibu langsung pergi ke rumah Ares. Terletak di sebuah perumahan besar yang dijaga oleh dua satpam masing-masing pada pintu depan dan belakang yang mengharuskan mereka membuka kaca helm atau kaca jendela mobil.

Beruntung, mereka sering mampir ke rumah Ares. Terhitung bisa lebih dari 10 kali per satu bulan. Karena Ares memiliki ruangan khusus yang dibangun untuk tempat teman-temannya berkumpul. Karena itu mereka sudah dikenal baik dengan satpam perumahan dan juga satpam rumah Ares sendiri.

“Temen-temennya Mas Ares anaknya Pak Madani itu ya?” tanya satpam perumahan Ares, membuat mereka membuka kaca helm dan tersenyum.

“Iya, Pak. Izin masuk ya?” ucap Nathan mewakili mereka semua.

“Iya boleh. Udah ada izin kan? Kok gak ada Mas Aresnya ini?”

“Gini, Pak.. Tadi Ares gak masuk sekolah dan gak bisa dihubungi, jadi kami kesini mau jenguk siapa tau Ares sakit..” jawab Karin.

“Ohh iya iya, biasanya begitu sih langsung jenguk. Yaudah sok masuk atuh.” respon satpam itu sambil menunjuk gestur mempersilahkan.

“Makasih, Pak..” ucap mereka lalu kembali menjalankan motornya ke rumah Ares.

Sampai di depan pagar, mereka membunyikan lonceng yang tergantung di tembok dekat pagar. Tak lama, keluar laki-laki umur 40 tahun dengan seragam hitamnya dari pagar, berjalan keluar sambil menatap mereka sedikit panik.

“Assalamu'alaikum, Pak Malik,” sapa Nathan dengan senyumnya. Pak Malik mengangguk kecil sambil tersenyum canggung.

“Wa'alaikumsalam. Ada perlu apa ya, Mas? Mbak?”

“Aresnya ada kan, Pak?” tanya Nathan lagi, to the point.

Pak Malik menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung harus berkata apa. “Ehm.. Anu, Mas Ares..”

“Kita boleh langsung masuk aja gak, Pak?” tanya Gata tak sabar. Biasanya mereka memang langsung dibukakan pagar untuk masuk ke dalam, tapi kali ini mereka tidak dibukakan pagar sama sekali.

“Enggak, Mas Gata, gak boleh. Kata Tuan gak boleh masuk.”

“Loh? Kenapa, Pak?”

“Pokoknya kata Tuan, kalau ada teman Mas Ares datang, saya gak ngebolehin kalian masuk. Aduh, maaf banget ini mah, saya juga cuma jalanin tugas.”

“Tapi kenapa, Pak? Kita cuma mau ketemu Ares, kok! Kita cuma mau nanya kenapa dia gak bisa dihubungi dan tiba-tiba pindah sekolah.” jelas Karin.

“Maaf, Mbak.. Saya juga gak tau.”

“Yaudah, Pak, tolong panggilin Ares keluar aja. Saya cuma mau nanya dua hal kok. Gak lama.”

Pak Malik makin ketar-ketir, bingung harus beralasan apa berhubungan Ares sudah dua hari tidak ada di rumah ini. Sudah diperintahkan dia oleh Madani—ayah Ares— bahwa dia tidak boleh menyebut perihal ketiadaan Ares di rumah itu apalagi sampai menyebut kota tempat Ares sekarang berada. Pekerjaannya terancam, sekarang yang berjalan hanya logika, tidak ada nurani.

“Gak bisa, Mas Nathan, pokoknya gak bisa. Mendingan kalian pulang aja. Gak ada gunanya kalian disini.”

“Pak, tapi—”

“Pulang ya, saya gak akan bukain pintu untuk kalian juga.” ucap Pak Malik final lalu berbalik masuk, mengabaikan panggilan dari mereka.

Frustasi, mereka semua menatap nanar rumah besar Ares. Berharap mereka bisa melihat Ares dari balkon kamarnya. Sebenarnya mereka benar-benar hanya ingin menanyakan mengapa Ares tiba-tiba pindah. Mereka hanya ingin memastikan bahwa Ares baik-baik saja. Tapi semesta menutupi, membiarkan mereka tenggelam dalam lautan bernama tanda tanya.


Namanya Areska Mahadana. 17 tahun, lahir di Jakarta dan besar di Jakarta. Sejak kecil hidupnya penuh tekanan dan air mata. Ia dipaksa keras dan kuat bagai baja sedangkan dirinya hanya kayu lapuk yang bisa hancur kapan saja. Dipaksa sempurna dengan di-setting sedemikian rupa bagai robot yang akan ditaruh di pameran untuk menjadi kebanggaan sang pembuat. Diharapkan menjadi kebanggaan tanpa cacat, dipoles dengan amarah, lalu ditaburi dengan kata-kata keras.

Namun karya seni manapun tidak ada yang sempurna. Sebuah lukisan bisa hancur bila disiram air. Sebuah robot bisa rusak bila lama tak diisi baterai. Dan seorang anak manusia bisa hancur bila tak diberi kasih sayang. Karya seni yang dipaksa berdiri di depan banyak orang juga bisa hancur bila tak dihargai.

Ares sejak dulu hidup untuk menjadi karya seni yang dipaksa sempurna. Tumbuh dengan melihat ibunya menangis mohon ampun agar tidak dipukul oleh sang ayah. Berkembang dengan segala ancaman yang menjadi teman baik.

Satu-satunya cahaya berharga yang ia punya hanya kelima sahabatnya dan juga sang ibunda. Tanpa mereka, mungkin Ares sudah menyerah hidup di dunia fana ini.

Lagi dan lagi, Ares tidak pernah merasa dihargai. Setelah peperangan batin yang ia lalui, dia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan semua sahabatnya di belakang demi menyelamatkan ibu tercintanya.

Perjanjian Ares dan ayahnya diputuskan dengan isakan waktu itu. Ayah Ares akan berhenti menyakiti ibunya asalkan Ares pergi dan berpisah dengan sahabatnya di Jakarta.

“Tujuan awal kamu temenan sama Gata dan Lunar memang bukan untuk senang-senang, tapi bersaing.” kata sang ayah malam itu. Meninggalkan emosi di dalam diri Ares.

Dia tau, memang sejak awal perintah itu yang keluar dari mulut ayahnya. Tapi dia tidak menyangka bahwa ayahnya benar-benar tega memisahkan dia dengan sahabatnya setelah 8 tahun berjalan.

8 tahun, banyak cinta dan kasih. Ares yang selalu memerhatikan setiap detail dari para sahabatnya akhirnya mengerti bahwa beberapa di antara mereka saling mencintai. Rela mengorbankan ego dan perasaannya demi kebahagiaan orang lain. Toh dirinya juga akan pergi setelah ini, pikirnya.

Hadiah. Ucapan terimakasih. Api unggun hangat. Semua telah dia selesaikan dengan baik. Berharap akan meninggalkan kesan di hati para sahabat. Berharap juga dirinya akan dilupakan tetapi diingat. Dilupakan kehadirannya, tetapi diingat kenangannya. Berharap juga agar tidak meninggalkan kekecewaan yang begitu besar walau ia tau itu tidak mungkin.

“Ares..” panggil ibunya lembut. Beliau masuk ke kamar Ares dan duduk di samping putranya yang sedang merenung di pinggir kasurnya.

Satu minggu sudah Ares tidak keluar dari kamar selain untuk mengurus surat pindah sekolah dan juga makan. Ibunya mengerti rasanya, sekaligus merasa bersalah karena secara tidak langsung menjadi alasan utama penyebab kebahagiaan Ares direnggut.

“Ya, Ma?”

“Belum tidur?”

Ares menggeleng. “Belum.”

Tangan ibunya terulur, mengelus kepala Ares dengan kasih. “Maafin mama ya, Ares?”

Ares langsung menoleh, menggeleng kecil. “Bukan salah mama. Ares emang gak suka mama disakitin terus. Ares gapapa, Ma.”

“Tapi Ares jadinya harus pisah sama temen Ares.. Mama gak tega..”

Tangan Ares terulur, mengelus tangan sang ibu lembut. “Ma, sahabat Ares emang berharga buat Ares, tapi mama jauhh lebih berharga. Lagipula Ares udah tau kok, konsekuensi kalau Ares gak bisa ngalahin Gata dan Lunar, ya Ares harus putusin pertemanan sama mereka. Lagian, 8 tahun udah cukup kok buat Ares bahagia sama mereka.”

Bohong.. 8 tahun gak akan cukup.. Lo mau selamanya, Res.. Bukan cuma 8 tahun..

Ibunya meneteskan air mata. Sedih karena harus melihat anak semata wayangnya berkorban begitu banyak. “Semoga di lain kesempatan kamu dikasih ganti dengan yang lebih baik ya, sayang.. Semoga kamu sukses dan bisa lepas dari dikte papa kamu. Mama percaya kamu pasti bisa.”

“Iya, Ma.. Ares pasti bisa. Mama percaya sama Ares, kan?”

“Mama percaya sama Ares.”


“Buset, kita ada omongan mau tuker kado?” ucap Raja sesaat setelah ia melihat Ares menenteng dua tas besar di tangannya.

Bukan hanya Raja yang bingung, tapi juga yang lain. “Itu isinya apaan, Res?” timpal Karin, dengan kebingungan yang sama.

“Isinya buat kalian.” ucap Ares lalu membagikan kotak-kotak tersebut kepada kelima temannya.

Masih dengan wajah bingung, mereka berusaha merobek bungkus yang melekat di kotak hadiah itu tapi dicegah lebih dulu. “JANGAN SEKARANG BUKANYA! PAS DI RUMAH AJA!”

“Yaudah santai aja ngomongnya, gue kaget, bangsaatt!!” balas Nathan hampir melempar Ares dengan sendalnya.

Walaupun penasaran, mereka semua menuruti kata Ares untuk tidak membuka sekarang. Mereka menyimpan kotak itu di tempat aman, tepat di samping mereka. Keenamnya terdiam, menatap kobaran api unggun yang telah dipersiapkan oleh penjaga villa sebelum mereka kemari.

Api malam itu tidak terlalu besar, tidak juga terlalu kecil. Pas untuk menghangatkan tubuh di suhu dingin Puncak pada jam 10 malam. Mereka duduk memutar dengan berbagi satu selimut per dua orang untuk menambah kehangatan. Gata dengan Lunar, Ares dengan Karin, lalu Nathan dengan Raja.

Beberapa menit sunyi menjadi yang paling dominan, sampai suara Nathan memaksa masuk. “Udah 8 tahun ya kita bareng, lama juga.”

“Lebih tepatnya 10 tahun sih, kan kita dulu satu SD juga, cuma baru temenan pas kelas 3 aja.” ralat Karin.

“Gue inget dulu yang pertama deketin gue itu Ares, katanya 'jangan panas-panasan, kita neduh aja di belakang.' waktu lagi pramuka jam 12 siang.”

Ares terkekeh. “Abisnya muka lo kayak mau meledak gitu, merah banget gara-gara kepanasan.”

Yang lain ikut tertawa mengingat hal itu. Nathan memang tak pernah tahan cuaca panas, kalau dijemur di bawah matahari, sudah dipastikan wajahnya akan merah seperti ingin meledak.

“Dulu tuh gue awalnya gak mau temenan sama Lunar tau,” ucap Karin memutar topik pada Lunar.

Lunar langsung mengerutkan dahi. “Lah? Emang gue ngapain?”

“Lonya sih gak ngapa-ngapain, tapi kembaran lo tuh! RESE!”

Gata langsung melongo. Merasa dia tidak pernah melakukan kesalahan apa-apa. “Gue emangnya ngapain, monyet?!”

“LAH, ELO NARO PENGAPUS PAPAN TULIS DI BANGKU GUE WAKTU PAKE ROK PUTIH!!” jawab Karin emosi.

Semua otomatis memutar memori pada saat kelas 2 SD, Gata kecil yang lagi iseng-isengnya, menaruh penghapus papan tulis yang super kotor pada bangku Karin yang saat itu sedang berdiri untuk mengobrol dengan teman yang lain. Karena Karin juga anaknya sembrono, dia tidak menyadari benda itu ada di bangkunya. Baru saat dia duduk, dia merasa ada yang mengganjal, lalu berteriak kesal setelah melihat roknya penuh noda hitam.

“OHHH!! Ahahaha iya iya, inget! Abisnya gue kesel banget liat lo gak bisa diem pas gue mau nyatet dari papan tulis. Lo tau gak pala lo tuh goyaannggggg mulu kayak badut mampang?!”

“Ya tapi jangan iseng juga kek!!”

“Terus hubungannya sama gue apa, Rin? Kan yang iseng Gata, bukan gue?” tanya Lunar usai tawanya selesai.

“Ya gue kira kan, lo juga sama isengnya sama Gata. Terus gue pikir kalo lo temenan sama lo, otomatis Gata ngintil terus gue jadi ketemu dia mulu.”

“Eh beneran ketemu mulu anjrit sampe sekarang.” tambah Gata.

“Iya, eneg gue sama lo.”

“Yehh.. Nanti kalo gue pergi, lo nangeess!!”

“Dih? Enggak ya!”

“Duhhh! Udah! Mending kita bikin perjanjian dah.” usul Raja. Membawa tanya pada lima sahabatnya.

“Perjanjian apa? Perjanjian dilarang gelut lo sama Gata yang dibilang Lunar?” tanya Nathan yang langsung disanggah oleh Gata dan juga Raja.

“OGAH!!!”

“Bukan! Ihhh ogah gue!” Raja mendelik kesal pada Gata lalu kembali fokus pada topik. “Perjanjian nanti anak cucu kita harus nikah.”

“YAELAH JAAAAA, LO IDUP DI JAMAN SITI NURBAYA EMANGNYAAA?!” ucap Lunar paling kencang sedangkan yang lain ikut menyoraki ide konyol Raja.

Nathan menggeleng. “Gak setuju gue.”

“Lah? Kenapa sih lo pada, kan keren! Bisa menyambung tali silaturahmi.” ucap Raja dengan nada bercanda. Yaa sebenarnya dia sendiri juga tidak terlalu serius dengan perkataannya.

“Kagak, gue gak mau anak cucu gue dapet gen dari lo, nanti sawan mereka.”

“Yeee, bangsatt, gak boleh gitu luuu!!”

“Lagian ide lo aneh, Ja, gue sih gak mau, mending anak gue pilih sendiri aja dah dia mau sama siapa.” ucap Gata, yang lain ikut membenarkan.

Malam diisi dengan canda tawa, dengan obrolan penuh kehangatan yang siapapun mendengarnya bisa merasakan kasih antar 6 anak manusia itu. Bersama dalam jangka lama memang tak mudah, banyak masalah yang menyebabkan semua nyaris patah.

“Nanti, kalo kalian udah gak bisa liat gue lagi. Jangan lupain gue, ya.” pesan Ares, semua mengangguk tanpa menyadari bahwa Ares mengatakan itu dari lubung hati yang terdalam.


“Ini apaan sih, kok pada diem-dieman gini?” ucap Ares memecah keheningan. Dia tak tahan melihat teman-temannya yang tidak seperti biasanya.

Sepulang dia dan Karin membeli makanan untuk disantap bersama nanti siang, dia sudah mendapati ke-empat temannya duduk di ruang tengah tanpa ada pembicaraan sedikitpun. Semua sibuk dengan ponsel masing-masing.

“Tau, kalian kenapa deh? Biasanya kalo liburan pada main atau nyanyi-nyanyi. Ini kenapa diem doang?” kata Karin menimpali. Dia menatap Nathan yang justru mengangkat bahu.

Dia yakin, ada yang aneh antara Raja, Gata, dan Lunar.

“Lo bertiga kenapa sih?” Ares bertanya lagi.

“Gapapa, Res. Emang lagi males ngobrol aja.” ucap Lunar sebagai jawaban untuk menutupi masalah perasaannya. Menurutnya apa yang menjadi masalahnya, tidak perlu diperbesar sampai seluruh sahabatnya tau.

“Gak mungkin gak ada apa-apa, Lun. Lo kira gue tolol, apa?”

“Enggak gitu, Res.. Tapi maksudnya—”

“Raja nolak kakak gue.” potong Gata. Sekarang dia menatap tajam udara di depannya, enggan melihat ke arah lain.

“Hah? Gimana?” terlihat jelas kebingungan di wajah Karin, Nathan, dan Ares.

Sejujurnya Lunar tidak menyangka Gata akan membongkar masalah ini ke semuanya. Baginya ini tidak penting dan tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan yang lain.

“Raja nolak Lunar gimana maksud lo?” tanya Nathan meminta Gata memberi penjelasan lebih.

Gata menatap tajam Raja yang menunduk dalam. “Kakak gue suka sama Raja, dan dia nolak kakak gue. Dasar bangsat.”

“Ta, udah lah—”

“Lo nangis kayak gitu emang lo pikir gue gak marah, Lun? Lo gak boleh sedih, anjing, gak boleh! Gak boleh ada yang nyakitin lo.” potong Gata lagi. Dia kini menatap Lunar serius.

“Tapi ini masalah perasaan, Ta, gue gak bisa maksa orang buat suka sama gue. Kenapa lo jadi ribet, deh?”

“Ribet? Ribet kata lo? Gue ngelakuin ini juga buat lo, Lun!”

“Tapi lo gak bisa maksa gue buat ada perasaan sama Lunar, Ta. Lunar aja gak maksa, kenapa jadi lo yang uring-uringan sendiri?” ucap Raja akhirnya. Tak terima bila dia disalahkan seperti ini. Gata tidak tahu yang sebenarnya, semuanya tidak ada yang tahu. Jadi dia tidak berhak dihakimi.

Melihat api yang mulai panas di antara ketiganya, Nathan angkat bicara. “Bentar, bentar. Jangan emosi, gunain kepala dingin,” ucapnya menjeda, memastikan ketiganya sudah tidak terlalu berapi-api sebelum melanjutkan.

“Jadi selama ini, Lunar suka sama Raja dan dia confess ke Raja tapi ditolak?”

“Gue gak ditolak, Nat, gue emang gak nuntut kejelasaan ataupun perasaan sama Raja. Gue pure confess biar lega aja.” ralat Lunar.

“Oke, ngerti. Terus masalahnya apa, Ta? Toh mereka berdua gak ada masalah kok, Lunarnya pun gapapa?”

Gata mendengus, bibirnya terangkat sebelah, seperti tidak habis pikir dengan semua orang di sekitarnya. Entah kenapa Gata semarah itu, tidak ada yang tahu.

“Gapapa kata lo? Setelah Lunar nangis semaleman? Setelah Lunar nangis pas cerita sama gue? Lo kira gue tega, anjing?!”

“Gata, please, udah dong. Gue gapapa. Itu namanya fase hidup, Ta, wajar lah.”

Bullshit fase hidup. Emang Raja aja tolol masa cewek kayak lo dia gak suka.”

Raja bangkit dari duduknya, meraih kerah Gata, dan langsung meninju pipi kirinya dengan penuh emosi. Belum sempat Gata bangun, Raja langsung duduk di atas tubuh Gata, mengunci gerakannya dengan memegang kedua kerahnya kencang.

“EH, DENGER YA, ANJING— LO GAK BERHAK BUAT IKUT CAMPUR URUSAN GUE SAMA LUNAR. LO GAK BERHAK NGATUR, GAK USAH MERASA SUPERIOR MENTANG-MENTANG LO DI ATAS YA, ANJING!”

Gata yang merasa dipancing langsung mengerahkan kekuatan untuk membalik posisi. Kini dia yang ganti meninju wajah Raja sampai keluar darah dari mulutnya.

“LO JUGA DENGER YA, BANGSAT, GUE GAK MAU LIAT DIA SEDIH APALAGI SAMA LO! LO TAU GAK DIA GAK PERNAH SUKA SAMA ORANG SEBELUMNYA? LO NGEHANCURIN LUNAR SEBAGAI ORANG YANG PERTAMA DIA SUKAIN, TOLOL!”

Melihat itu, Ares dan Nathan langsung menarik paksa Gata. Lunar menghampiri Raja yang berdarah lumayan banyak.

“Ja, lo—”

“Gak usah sentuh gue.” Raja langsung menepis tangan Lunar dan berjalan keluar setelah mengambil jaket dan tas selempangnya. Karin berusaha mengejar tapi ditahan oleh Ares.

“Lepas, bangsat.” Gata melepas kasar tangan Ares dan Nathan yang menahan kedua tangannya.

“Ta, lo apa-apaan, sih?” tanya Lunar setelahnya. Kali ini menurutnya Gata benar-benar keterlaluan. Rasa khawatirnya berlebihan, menyebabkan semua jadi runyam dan berantakan.

“Diem lo. Gue yang belain lo disini.”

“Tapi gue gak perlu dibela, Ta. Gue udah gede, gue tau kali konsekuensi jatuh cinta kayak gimana. Lo gak perlu sejauh ini.”

Gata mendecih lalu menatap Lunar tajam. “Lo selalu belain orang lain ya, Lun, gak pernah belain gue. Padahal gue udah bela-belain semua yang gue punya buat lo, tapi lo malah gak ada terima kasihnya. Terserah lo lah, bangsat, gue capek ngurusin lo.”

Gata meninggalkan semuanya dan keluar juga dari villa. Meninggalkan empat yang lainnya dalam kebingungan.

Semua berantakan. Tanpa ada yang bisa disalahkan sepenuhnya. Terlalu cepat untuk dicegah dan terlalu terlambat untuk diperbaiki.


“Pake aja selimutnya,” kata Raja pada Lunar yang malah bengong. Sebelum keluar kamar tadi Raja membawa selimut yang ada di kasurnya untuk dipakai Lunar. “Ih, ini pake dulu selimutnya, Lunar.... Dingin!”

Lunar melirik Raja lalu berkata, “Pakein dong.”

Raja berdecak, tapi tetap memakaikan selimutnya dengan hati-hati dan rapat. Memastikan tidak ada angin yang masuk ke dalam. Sedangkan dirinya hanya dibalut kaos dan kemeja yang dipakainya tadi sore. Lunar yang melihat itu langsung membuka selimutnya kembali. Raja yang sudah siap protes dibungkam dengan balutan selimut yang kini tersampir pada tubuhnya juga.

“Kalo cuma gue yang make, gak adil.” kata Lunar, menjawab kebingungan Raja.

Berhubung selimutnya cukup lebar dan tebal, jadi mereka memutuskan duduk bersebelahan dengan posisi itu.

“Yang lain pada tidur, Ja?” tanya Lunar membuka obrolan.

“Pada pules banget abis makan, Lun. Terus kan tadi mereka pada gak tidur di jalan, jadinya pada capek.”

Sewaktu di mobil, Karin terbangun di tengah perjalanan dan memutuskan untuk mengobrol hingga mereka sampai di tempat tujuan. Sedangkan Raja dan Lunar tetap tidur. Jadi wajar saja mereka tidak mengantuk berhubung mereka baru sampai 1 jam lalu.

“Ja,” panggil Lunar.

“Apa?”

“Lo pernah suka sama temen atau sahabat sendiri gak?”

Raja terdiam. Tidak berekspetasi dia akan dihadapkan dengan pertanyaan macam itu. Lunar, yang diam-diam sedang menunggu jawaban dengan hati tak tenang, bergerak gusar. Dimainkannya ujung rambut yang tergerai di pundak, berusaha menghilangkan gugup yang entah kenapa menyerang.

“Gak pernah, Lun.” ucap Raja setelah berpikir panjang.

“Lo setuju gak kalo sahabat bisa jadi pacar?”

“Kenapa lo nanya kayak ginian?”

“Hah?” Lunar menatap Raja bingung. “O- oh.. Enggak, yaa nanya aja.”

“Coba lo dulu yang jawab.”

“Lah gue nanya duluan?!”

“Ya lo jawab aja dulu.”

Lunar berdecak pelan, tapi setelahnya menjawab. “Gue setuju sih.”

“Kenapa?”

“Karena gue percaya cinta datang karena terbiasa. Gue dari dulu selalu berpendapat kalo cinta pandangan pertama tuh bullshit. Kalo lo ketemu orang pertama kali dan lo suka, ya itu karena lo tertarik aja. Gue lebih percaya cinta datang karena lo terbiasa sama orang itu.”

“Terbiasanya?”

“Ketemu, ngobrol, ketawa, nangis, atau bahkan— pelukan. Semua hal itu kalo dilakuin secara berkala dan berulang-ulang, ya kemungkinan buat jadi cintanya besar pasti.”

“Tapi kalo misalnya kedua sahabat itu jadi pacar dan suatu saat mereka putus? Lo berarti harus terbiasa sakit hati dengan orang yang ngelakuin banyak hal sama lo secara berulang-ulang itu?”

Lunar terbungkam. Seluruh gambaran romantis dua sahabat yang menyatu karena perasaan di benaknya tiba-tiba pudar. Tidak terpikirkan sama sekali olehnya tentang hal itu. Dia selalu berpikir bahwa seandainya dua orang sahabat itu putus dari status pacaran, maka semua akan tetap kembali seperti semula.

“Jujur, Lun, gue gak pernah mau suka sama sahabat sendiri. Gak berniat dan gak mau, lebih tepatnya,” Raja membuang napasnya kasar. “Karena kalo gue pisah sama orang itu, gue gak bisa tetep jadi sahabat dia yang dulu lagi. Gue atau pun dia pasti bakal nyimpen rasa sakit yang besar.”

“Seandainya lo tetep mau balik sahabatan setelah putus, you have to deal with your pain setiap kali lo ngeliat dia. Gue gak yakin gue kuat buat berdamai sama patah hati. Begitu juga sama dianya.” lanjut Raja.

“Ja,” panggil Lunar. Raja menoleh, menatap Lunar yang menatapnya dengan mata sayu. “Kalo gue bilang gue suka sama lo, hidup gue pasti keliatan bercanda banget, ya?”

“Lun..?”

“Don't worry, i can deal with my own pain. It's okay as long as i have you by my side— as a friend, maksudnya.”

“Lun..”