Diskusi Kehidupan
Saat mereka selesai memarkirkan motor dan ingin berjalan ke lobby kantor, tiba-tiba seorang wanita menghampiri dengan wajah panik.
“Kalian ngapain disini?”
“Tante?” mereka otomatis menoleh ke arah Ibu Ares—Amanda—yang menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada yang melihat mereka.
“Kalian ada perlu apa disini?” tanya Amanda lagi.
“Tante, kemarin kita ke rumah Tante buat nanya Ares dimana tapi kita gak boleh masuk.. Jadinya kita pikir dengan kita kesini Om Mada bakal kasih tau kita.” jelas Nathan.
Amanda menghela napas lalu menggeleng. “Jangan. Jangan tanya tentang Ares ke Ayahnya. Sekarang kalian ikutin mobil Tante, kita bicarain hal ini di tempat lain.” ucap Amanda memberi perintah.
Mereka yang merasa bisa dapat pencerahan akhirnya mengangguk semangat lalu bergegas naik ke motor masing-masing. Amanda membawa mereka ke salah satu kafe daerah Kemang yang tidak terlalu banyak pengunjung.
Setelah memesan mereka duduk melingkar, menatap Amanda dengan tatapan menagih penjelasan.
“Sebelumya, Tante minta maaf karena kemarin Tante gak keluar buat temuin kalian. Maaf kalau kalian merasa diusir sama satpam Tante kemarin,” ucap Amanda memulai percakapan. Yang lain hanya mengangguk pertanda mereka tidak mempermasalahkan hal itu. Berarti bisa dipastikan bahwa yang dilihat Raja dari jendela adalah Amanda.
“Ares baik-baik aja kan, Tante?” tanya Karin.
Amanda mengangguk. “Ares baik, sehat.”
“Tapi kenapa Ares tiba-tiba pindah begini, Tan?” kini Lunar yang bertanya.
“Ares dipaksa sama Ayahnya untuk ninggalin Jakarta. Handphone Ares ditinggal disini, Tante yang pegang. Ares disana tinggal sama yang ngurus dia dari bayi.”
“Disananya itu dimana, Tan?” tanya Gata. Dalam hati berniat untuk menghampiri Ares.
“Surabaya..”
”...Tapi kalian gak boleh kesana. Kalian gak boleh ngehubungin atau nemuin Ares.”
Kelima dari mereka mengerutkan dahi keheranan. Tidak mengerti mengapa semua jadi rumit seperti ini. “Maksudnya gimana, Tan? Kami ini, kan, temennya Ares?!” ucap Gata dengan nada sedikit meninggi. Menurutnya semua tidak masuk akal.
“Bukan, kalian bukan temen Ares. Kalian cuma beban yang bikin Ares semakin ditekan sama Ayahnya. Selama bertahun-tahun Ares temenan sama kalian, yang dia dapat cuma tuntutan dan amarah untuk ngalahin kalian dalam pelajaran.”
Semua benar-benar kebingungan. Mereka tidak pernah mendengar Ares mengeluh tentang hal ini. Semua ditutup rapat oleh Ares, membiarkan semuanya dia pikul sendiri tanpa diketahui oleh mereka.
“Tante seneng Ares bahagia sama kalian. Kalian anak baik dan ramah. Tapi selama kalian temenan sama Ares, yang Ares dapat cuma omelan dari Ayahnya. Tinggalin Ares sendiri, jangan cari dia dan jangan temui dia lagi. Tante mohon sama kalian..” Amanda menunduk, menahan air mata agar topeng tegas yang dia pakai tidak jatuh.
Sejujurnya dia pun tidak tega. Dia tau bahwa kelima sahabat Ares adalah anak-anak baik. Mereka tidak salah, tidak juga berhubungan dengan masalah rumah tangganya. Tapi dia harus melakukan ini. Agar keluarganya dibenci, agar mereka tidak lagi menemui Ares yang diancam akan dikirim keluar negeri seandainya bertemu dengan sahabat-sahabatnya tanpa sepengetahuan sang ayah.
Semua hanya wujud kasih sayang seorang Ibu yang tidak ingin anaknya dikurung lebih jauh oleh suaminya sendiri. Kalau dengan menjauhkan Ares dari sahabatnya adalah jalan terbaik, maka dia akan lakukan itu.
“Tante, sebentar, aku bener-bener gak bisa mencerna semuanya dengan baik. Jadi maksud Tante, kami harus jauhin Ares, pura-pura gak kenal sama Ares dan ngelupain Ares yang keadaannya sekarang gak tau di Surabaya bagian mana? Iya, Tan? Setelah 8 tahun kami jadi sahabat Ares, kami gak boleh ketemu dia lagi?” ucap Lunar, menjabarkan kenyataan pahit yang benar-benar tidak bisa diterima akal sehatnya.
“Iya. Kalian udah gak punya hak untuk ketemu sama Ares lagi. Cukup sampai disini, kalian harus putusin hubungan kalian sama Ares.”
“Kenapa sih, Tan? Karena ambisi suami Tante yang mau ngalahin Ayah saya?” pertanyaan Gata sukses membuat semuanya terbelalak.
“Awalnya saya rasa semuanya gak masuk akal. Tapi saya inget, Raja pernah bilang kalau Om Madani dan Ayah saya itu rival dalam hal bisnis, saya jadi semakin yakin kalau kami juga dibikin seperti rival dalam hal akademis. Saya dan Lunar selalu di atas, membanggakan, Ayah saya selalu membawa nama kami di setiap kesempatan atas prestasi kami. Ares pintar, dia selalu hampir menyusul peringkat kami tapi selalu hanya 'hampir'. Jadi Ayah Ares marah, dan meminta Ares untuk jauhin kami? Gitu, Tan?”
Amanda tau kalau Gata jenius, tapi dia tidak menyangka kalau hal yang ditutupi rapat-rapat justru terbongkar hanya dengan logika anak kelas 12 SMA. Air mata lolos dari kedua mata Amanda, pembawaannya yang tegas sudah luntur. Dia tidak bisa berpura-pura jahat di depan lima anak baik ini. Sudah 8 tahun dia mengenal mereka, dia tau watak dari tiap-tiap mereka.
“Tan, saya gak bermaksud untuk ikut campur masalah Tante dan Om Mada. Tapi saya akan ikut campur kalau ini menyangkut kebahagiaan Ares. Cara Tante barusan pasti cuma akal-akalan supaya kami benci Tante dan nyerah untuk ketemu Ares, kan? Tapi nyatanya kami gak akan nyerah, Tante. Ares itu teman kami dari kecil, kami tau Ares susah bersosialisasi, kami tau Ares bahagia disini, sama kami, sama Tante. Dengan Tante misahin Ares sama kami, semua masalah gak akan selesai, Tan. Yang harusnya Tante selesaikan itu masalah Tante dan Om Mada. Harusnya Ares gak jadi korban disini, Tan..”
Amanda menangis. Tertampar kenyataan yang dijabarkan oleh anak umur 17 tahun. Merasa dirinya bodoh karena pasrah dengan keputusan Ares yang tiba-tiba ingin mengikuti kemauan egois suaminya. Mengorbankan kebahagiaan anaknya, berpikir bahwa ini hanyalah fase dan berpikir bahwa dia dan Ares akan lepas dari Mada jika mereka mengikuti alur. Tapi Amanda baru sadar, bahwa semakin dia mengikuti alur yang dibuat oleh Mada, semakin terkurung lah dia dan Ares dari dunia luar. Semakin hilang kekuatan yang dia punya untuk mengontrol hidupnya. Seharusnya sedari awal, yang dia akhiri adalah hubungannya dengan Madani, bukan hubungan Ares dengan lima sahabatnya.
“Tante, saya mohon maaf kalau saya lancang. Tapi kami gak bisa tenang kalau begini caranya. Kami gak bisa tau kabar Ares, kami gak bisa ketemu sama Ares, apa Tante pikir kami akan diem aja dan ngelupain Ares? Enggak akan, Tante, Ares itu sahabat kami.”
“Tante minta maaf.. Tante— tante merasa bodoh. Harusnya Tante larang Ares untuk pergi, harusnya Tante yang bawa Ares pergi dari ayahnya. Tante selama ini menunggu waktu yang tepat, berpikir bahwa kalau Tante ikuti apa yang Mada mau, maka Tante dan Ares akan bebas. Tapi nyatanya enggak. Kami semakin terpuruk dan keadaan malah semakin sulit.”
“Tante..” Lunar berpindah tempat duduk dan menempati bangku kosong di sebelah Amanda. Memeluk Amanda erat, menenangkan Ibu sang teman yang sudah dia anggap ibu sendiri. “Tante gak salah.. Tante cuma lakuin apa yang menurut Tante benar. Sekarang keputusan ada di tangan Tante, ibaratnya, Tante yang tau keadaan di belakang dapur itu kayak apa. Bahkan cuma Tante yang bisa menggugat cerai Om Mada dengan segala alasan masuk akal di dalamnya. Kalau menurut Tante dengan pisah sama Om Mada akan menyelesaikan masalah, silahkan, Tan.. Kami pasti akan dukung Tante. Tante udah baik banget sama kami selama kami temenan sama Ares, jadi gak ada alasan untuk kami benci sama Tante..”
Pertemuan sore itu memberi jawaban pada kedua pihak. Memberi jawaban atas seorang wanita yang tersesat penderitaan, dan juga jawaban pada para sahabat yang kehilangan. Tidak pernah mereka sadari bahwa diskusi hidup seperti ini begitu diperlukan. Tidak pernah juga mereka sadari bahwa sahabat yang sebenar-benarnya sahabat adalah mereka yang berusaha untuk selalu bersama.