The Warmest Campfire
“Buset, kita ada omongan mau tuker kado?” ucap Raja sesaat setelah ia melihat Ares menenteng dua tas besar di tangannya.
Bukan hanya Raja yang bingung, tapi juga yang lain. “Itu isinya apaan, Res?” timpal Karin, dengan kebingungan yang sama.
“Isinya buat kalian.” ucap Ares lalu membagikan kotak-kotak tersebut kepada kelima temannya.
Masih dengan wajah bingung, mereka berusaha merobek bungkus yang melekat di kotak hadiah itu tapi dicegah lebih dulu. “JANGAN SEKARANG BUKANYA! PAS DI RUMAH AJA!”
“Yaudah santai aja ngomongnya, gue kaget, bangsaatt!!” balas Nathan hampir melempar Ares dengan sendalnya.
Walaupun penasaran, mereka semua menuruti kata Ares untuk tidak membuka sekarang. Mereka menyimpan kotak itu di tempat aman, tepat di samping mereka. Keenamnya terdiam, menatap kobaran api unggun yang telah dipersiapkan oleh penjaga villa sebelum mereka kemari.
Api malam itu tidak terlalu besar, tidak juga terlalu kecil. Pas untuk menghangatkan tubuh di suhu dingin Puncak pada jam 10 malam. Mereka duduk memutar dengan berbagi satu selimut per dua orang untuk menambah kehangatan. Gata dengan Lunar, Ares dengan Karin, lalu Nathan dengan Raja.
Beberapa menit sunyi menjadi yang paling dominan, sampai suara Nathan memaksa masuk. “Udah 8 tahun ya kita bareng, lama juga.”
“Lebih tepatnya 10 tahun sih, kan kita dulu satu SD juga, cuma baru temenan pas kelas 3 aja.” ralat Karin.
“Gue inget dulu yang pertama deketin gue itu Ares, katanya 'jangan panas-panasan, kita neduh aja di belakang.' waktu lagi pramuka jam 12 siang.”
Ares terkekeh. “Abisnya muka lo kayak mau meledak gitu, merah banget gara-gara kepanasan.”
Yang lain ikut tertawa mengingat hal itu. Nathan memang tak pernah tahan cuaca panas, kalau dijemur di bawah matahari, sudah dipastikan wajahnya akan merah seperti ingin meledak.
“Dulu tuh gue awalnya gak mau temenan sama Lunar tau,” ucap Karin memutar topik pada Lunar.
Lunar langsung mengerutkan dahi. “Lah? Emang gue ngapain?”
“Lonya sih gak ngapa-ngapain, tapi kembaran lo tuh! RESE!”
Gata langsung melongo. Merasa dia tidak pernah melakukan kesalahan apa-apa. “Gue emangnya ngapain, monyet?!”
“LAH, ELO NARO PENGAPUS PAPAN TULIS DI BANGKU GUE WAKTU PAKE ROK PUTIH!!” jawab Karin emosi.
Semua otomatis memutar memori pada saat kelas 2 SD, Gata kecil yang lagi iseng-isengnya, menaruh penghapus papan tulis yang super kotor pada bangku Karin yang saat itu sedang berdiri untuk mengobrol dengan teman yang lain. Karena Karin juga anaknya sembrono, dia tidak menyadari benda itu ada di bangkunya. Baru saat dia duduk, dia merasa ada yang mengganjal, lalu berteriak kesal setelah melihat roknya penuh noda hitam.
“OHHH!! Ahahaha iya iya, inget! Abisnya gue kesel banget liat lo gak bisa diem pas gue mau nyatet dari papan tulis. Lo tau gak pala lo tuh goyaannggggg mulu kayak badut mampang?!”
“Ya tapi jangan iseng juga kek!!”
“Terus hubungannya sama gue apa, Rin? Kan yang iseng Gata, bukan gue?” tanya Lunar usai tawanya selesai.
“Ya gue kira kan, lo juga sama isengnya sama Gata. Terus gue pikir kalo lo temenan sama lo, otomatis Gata ngintil terus gue jadi ketemu dia mulu.”
“Eh beneran ketemu mulu anjrit sampe sekarang.” tambah Gata.
“Iya, eneg gue sama lo.”
“Yehh.. Nanti kalo gue pergi, lo nangeess!!”
“Dih? Enggak ya!”
“Duhhh! Udah! Mending kita bikin perjanjian dah.” usul Raja. Membawa tanya pada lima sahabatnya.
“Perjanjian apa? Perjanjian dilarang gelut lo sama Gata yang dibilang Lunar?” tanya Nathan yang langsung disanggah oleh Gata dan juga Raja.
“OGAH!!!”
“Bukan! Ihhh ogah gue!” Raja mendelik kesal pada Gata lalu kembali fokus pada topik. “Perjanjian nanti anak cucu kita harus nikah.”
“YAELAH JAAAAA, LO IDUP DI JAMAN SITI NURBAYA EMANGNYAAA?!” ucap Lunar paling kencang sedangkan yang lain ikut menyoraki ide konyol Raja.
Nathan menggeleng. “Gak setuju gue.”
“Lah? Kenapa sih lo pada, kan keren! Bisa menyambung tali silaturahmi.” ucap Raja dengan nada bercanda. Yaa sebenarnya dia sendiri juga tidak terlalu serius dengan perkataannya.
“Kagak, gue gak mau anak cucu gue dapet gen dari lo, nanti sawan mereka.”
“Yeee, bangsatt, gak boleh gitu luuu!!”
“Lagian ide lo aneh, Ja, gue sih gak mau, mending anak gue pilih sendiri aja dah dia mau sama siapa.” ucap Gata, yang lain ikut membenarkan.
Malam diisi dengan canda tawa, dengan obrolan penuh kehangatan yang siapapun mendengarnya bisa merasakan kasih antar 6 anak manusia itu. Bersama dalam jangka lama memang tak mudah, banyak masalah yang menyebabkan semua nyaris patah.
“Nanti, kalo kalian udah gak bisa liat gue lagi. Jangan lupain gue, ya.” pesan Ares, semua mengangguk tanpa menyadari bahwa Ares mengatakan itu dari lubung hati yang terdalam.