Raja dan Bunda


“Halo, assalamu'alaikum, Bunda..?” sapa Raja sedetik usai telfon dengan Bundanya tersambung.

“Wa'alaikumsalam... Anak Bunda sehat, kan?” jawab Bundanya—Renjana dari seberang sana.

Mendengar suara lembut Renjana membuat Raja terdiam. Disaat terendah seperti ini yang dia perlukan sebenarnya hanya pelukan Renjana. Tapi sayang, sudah hampir satu bulan Renjana sibuk bolak-balik Jakarta-Bandung untuk mengurus nenek Raja yang sakit, jadi Raja hanya sendiri di rumah.

“Alhamdulillah sehat terus kok, Bun.. Bunda gimana? Aman, kan?”

“Alhamdulillah Bunda juga sama, kok.. Nenek juga mulai bisa ketawa. Jadi gimana? Raja kenapa?” tanya Renjana lembut.

Raja lalu menceritakan semua kesalahpahamannya dengan Lunar, serta hubungan keduanya yang sedikit renggang beberapa minggu terakhir. Renjana mendengarkan dengan baik, mengerti betul perasaan khawatir yang dirasakan Raja.

Setelah cerita Raja usai, Renjana sedikit menghela napas. Agak tidak percaya anaknya sudah besar, sudah bisa menceritakan keluh hatinya tentang wanita kesayangannya.

“Dulu.. Bunda sama Ayah juga begitu. Ayah dulu anaknya rajin.... banget. Sekalinya ngerjain sesuatu harus tuntas dan sempurna. Kalau gak tuntas, dia pasti nyalahin dirinya sendiri dan mikir kalau kegagalannya karena dia kurang usaha. Bunda yang ngeliat cara pikir Ayah kamu dulu juga ikut pusing.” Renjana terkekeh pelan. Menerawang kisah lampaunya dengan mendiang Ayah Raja.

“Raja pasti capek, ya?” Raja tertunduk diam, masih dengan tangan yang menahan ponsel agar tetap menempel di telinga kanannya. “Punya pasangan yang punya ambisi besar memang kadang capek, Raja. Kita disini cuma gak pengen dia sakit, tapi dia yang disana masih kekeuh dengan tujuannya. Gak ada yang salah disini.”

“Terus Raja harus gimana, Bun? Jujur Raja juga capek kalo begini terus. Lunar kalo diajak chat selalu emosi. Apalagi karena kesalahan Raja nuduh dia berduaan sama temen kelas Raja.”

“Iya, Raja salah. Tapi Raja juga berhak istirahat, kok. Menurut Bunda, kalian berdua lagi ada di posisi sama-sama capek. Lunar capek ngejar tujuannya, Raja juga capek ngajak dia pelan-pelan. Karena ibaratnya Raja itu narik tangan Lunar buat jalan padahal dia lagi lari kenceng, pasti dia marah. Terus untuk masalah Raja nuduh Lunar itu, sebisa mungkin jangan dibahas dulu sampai semuanya reda, ya? Kalau dua-duanya masih dalam keadaan emosi semuanya gak akan berhasil.”

Raja membuang napasnya kasar. Tangan kirinya mengacak-acak rambut frustasi. Bingung juga harus menjawab perkataan Renjana dengan kalimat apa.

“Maafin Bunda, ya. Bunda gak ada di sisi Raja padahal Raja lagi begini. Bunda usahain sabtu ini Bunda pulang, oke?”

Raja menggeleng, padahal Renjana pun tidak bisa melihat. “ Gak usah, Bunda. Kalau Bunda masih diperluin di rumah sana gapapa, gak usah mikirin Raja. Nanti juga masalahnya selesai, kok.”

“Yakin?” tanya Renjana masih dengan lembut.

Raja menggeleng, tapi menjawab, “yakin, Bun.” Membuat otak dan mulutnya bekerja secara tidak sinkron.

Renjana lalu berpesan pada Raja sebelum menutup telfon. “Yang namanya tujuan hidup itu pasti beda-beda. Yang menurut kamu A bisa jadi menurut mereka B. Yang menurut kamu gak penting, bisa jadi menurut mereka amat penting. Jadi kamu jangan sekali-kali menyepelekan tujuan hidup orang, ya? Selalu hargai orang lain kalau kamu mau dihargai. Selama tujuan Lunar baik, kamu harus dukung. Tapi kamu tetep disampingnya, mengawasi supaya dia gak keluar garis terlalu sering.”

“Iya, Bunda..”

“Tapi jangan lupa juga..” Renjana menjeda. “Yang paling penting adalah sayang sama diri sendiri dulu, baru orang lain.”