Areska Mahadana
Namanya Areska Mahadana. 17 tahun, lahir di Jakarta dan besar di Jakarta. Sejak kecil hidupnya penuh tekanan dan air mata. Ia dipaksa keras dan kuat bagai baja sedangkan dirinya hanya kayu lapuk yang bisa hancur kapan saja. Dipaksa sempurna dengan di-setting sedemikian rupa bagai robot yang akan ditaruh di pameran untuk menjadi kebanggaan sang pembuat. Diharapkan menjadi kebanggaan tanpa cacat, dipoles dengan amarah, lalu ditaburi dengan kata-kata keras.
Namun karya seni manapun tidak ada yang sempurna. Sebuah lukisan bisa hancur bila disiram air. Sebuah robot bisa rusak bila lama tak diisi baterai. Dan seorang anak manusia bisa hancur bila tak diberi kasih sayang. Karya seni yang dipaksa berdiri di depan banyak orang juga bisa hancur bila tak dihargai.
Ares sejak dulu hidup untuk menjadi karya seni yang dipaksa sempurna. Tumbuh dengan melihat ibunya menangis mohon ampun agar tidak dipukul oleh sang ayah. Berkembang dengan segala ancaman yang menjadi teman baik.
Satu-satunya cahaya berharga yang ia punya hanya kelima sahabatnya dan juga sang ibunda. Tanpa mereka, mungkin Ares sudah menyerah hidup di dunia fana ini.
Lagi dan lagi, Ares tidak pernah merasa dihargai. Setelah peperangan batin yang ia lalui, dia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan semua sahabatnya di belakang demi menyelamatkan ibu tercintanya.
Perjanjian Ares dan ayahnya diputuskan dengan isakan waktu itu. Ayah Ares akan berhenti menyakiti ibunya asalkan Ares pergi dan berpisah dengan sahabatnya di Jakarta.
“Tujuan awal kamu temenan sama Gata dan Lunar memang bukan untuk senang-senang, tapi bersaing.” kata sang ayah malam itu. Meninggalkan emosi di dalam diri Ares.
Dia tau, memang sejak awal perintah itu yang keluar dari mulut ayahnya. Tapi dia tidak menyangka bahwa ayahnya benar-benar tega memisahkan dia dengan sahabatnya setelah 8 tahun berjalan.
8 tahun, banyak cinta dan kasih. Ares yang selalu memerhatikan setiap detail dari para sahabatnya akhirnya mengerti bahwa beberapa di antara mereka saling mencintai. Rela mengorbankan ego dan perasaannya demi kebahagiaan orang lain. Toh dirinya juga akan pergi setelah ini, pikirnya.
Hadiah. Ucapan terimakasih. Api unggun hangat. Semua telah dia selesaikan dengan baik. Berharap akan meninggalkan kesan di hati para sahabat. Berharap juga dirinya akan dilupakan tetapi diingat. Dilupakan kehadirannya, tetapi diingat kenangannya. Berharap juga agar tidak meninggalkan kekecewaan yang begitu besar walau ia tau itu tidak mungkin.
“Ares..” panggil ibunya lembut. Beliau masuk ke kamar Ares dan duduk di samping putranya yang sedang merenung di pinggir kasurnya.
Satu minggu sudah Ares tidak keluar dari kamar selain untuk mengurus surat pindah sekolah dan juga makan. Ibunya mengerti rasanya, sekaligus merasa bersalah karena secara tidak langsung menjadi alasan utama penyebab kebahagiaan Ares direnggut.
“Ya, Ma?”
“Belum tidur?”
Ares menggeleng. “Belum.”
Tangan ibunya terulur, mengelus kepala Ares dengan kasih. “Maafin mama ya, Ares?”
Ares langsung menoleh, menggeleng kecil. “Bukan salah mama. Ares emang gak suka mama disakitin terus. Ares gapapa, Ma.”
“Tapi Ares jadinya harus pisah sama temen Ares.. Mama gak tega..”
Tangan Ares terulur, mengelus tangan sang ibu lembut. “Ma, sahabat Ares emang berharga buat Ares, tapi mama jauhh lebih berharga. Lagipula Ares udah tau kok, konsekuensi kalau Ares gak bisa ngalahin Gata dan Lunar, ya Ares harus putusin pertemanan sama mereka. Lagian, 8 tahun udah cukup kok buat Ares bahagia sama mereka.”
Bohong.. 8 tahun gak akan cukup.. Lo mau selamanya, Res.. Bukan cuma 8 tahun..
Ibunya meneteskan air mata. Sedih karena harus melihat anak semata wayangnya berkorban begitu banyak. “Semoga di lain kesempatan kamu dikasih ganti dengan yang lebih baik ya, sayang.. Semoga kamu sukses dan bisa lepas dari dikte papa kamu. Mama percaya kamu pasti bisa.”
“Iya, Ma.. Ares pasti bisa. Mama percaya sama Ares, kan?”
“Mama percaya sama Ares.”