Menjenguk Sepi


Sepulang sekolah, mereka berlima tanpa babibu langsung pergi ke rumah Ares. Terletak di sebuah perumahan besar yang dijaga oleh dua satpam masing-masing pada pintu depan dan belakang yang mengharuskan mereka membuka kaca helm atau kaca jendela mobil.

Beruntung, mereka sering mampir ke rumah Ares. Terhitung bisa lebih dari 10 kali per satu bulan. Karena Ares memiliki ruangan khusus yang dibangun untuk tempat teman-temannya berkumpul. Karena itu mereka sudah dikenal baik dengan satpam perumahan dan juga satpam rumah Ares sendiri.

“Temen-temennya Mas Ares anaknya Pak Madani itu ya?” tanya satpam perumahan Ares, membuat mereka membuka kaca helm dan tersenyum.

“Iya, Pak. Izin masuk ya?” ucap Nathan mewakili mereka semua.

“Iya boleh. Udah ada izin kan? Kok gak ada Mas Aresnya ini?”

“Gini, Pak.. Tadi Ares gak masuk sekolah dan gak bisa dihubungi, jadi kami kesini mau jenguk siapa tau Ares sakit..” jawab Karin.

“Ohh iya iya, biasanya begitu sih langsung jenguk. Yaudah sok masuk atuh.” respon satpam itu sambil menunjuk gestur mempersilahkan.

“Makasih, Pak..” ucap mereka lalu kembali menjalankan motornya ke rumah Ares.

Sampai di depan pagar, mereka membunyikan lonceng yang tergantung di tembok dekat pagar. Tak lama, keluar laki-laki umur 40 tahun dengan seragam hitamnya dari pagar, berjalan keluar sambil menatap mereka sedikit panik.

“Assalamu'alaikum, Pak Malik,” sapa Nathan dengan senyumnya. Pak Malik mengangguk kecil sambil tersenyum canggung.

“Wa'alaikumsalam. Ada perlu apa ya, Mas? Mbak?”

“Aresnya ada kan, Pak?” tanya Nathan lagi, to the point.

Pak Malik menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung harus berkata apa. “Ehm.. Anu, Mas Ares..”

“Kita boleh langsung masuk aja gak, Pak?” tanya Gata tak sabar. Biasanya mereka memang langsung dibukakan pagar untuk masuk ke dalam, tapi kali ini mereka tidak dibukakan pagar sama sekali.

“Enggak, Mas Gata, gak boleh. Kata Tuan gak boleh masuk.”

“Loh? Kenapa, Pak?”

“Pokoknya kata Tuan, kalau ada teman Mas Ares datang, saya gak ngebolehin kalian masuk. Aduh, maaf banget ini mah, saya juga cuma jalanin tugas.”

“Tapi kenapa, Pak? Kita cuma mau ketemu Ares, kok! Kita cuma mau nanya kenapa dia gak bisa dihubungi dan tiba-tiba pindah sekolah.” jelas Karin.

“Maaf, Mbak.. Saya juga gak tau.”

“Yaudah, Pak, tolong panggilin Ares keluar aja. Saya cuma mau nanya dua hal kok. Gak lama.”

Pak Malik makin ketar-ketir, bingung harus beralasan apa berhubungan Ares sudah dua hari tidak ada di rumah ini. Sudah diperintahkan dia oleh Madani—ayah Ares— bahwa dia tidak boleh menyebut perihal ketiadaan Ares di rumah itu apalagi sampai menyebut kota tempat Ares sekarang berada. Pekerjaannya terancam, sekarang yang berjalan hanya logika, tidak ada nurani.

“Gak bisa, Mas Nathan, pokoknya gak bisa. Mendingan kalian pulang aja. Gak ada gunanya kalian disini.”

“Pak, tapi—”

“Pulang ya, saya gak akan bukain pintu untuk kalian juga.” ucap Pak Malik final lalu berbalik masuk, mengabaikan panggilan dari mereka.

Frustasi, mereka semua menatap nanar rumah besar Ares. Berharap mereka bisa melihat Ares dari balkon kamarnya. Sebenarnya mereka benar-benar hanya ingin menanyakan mengapa Ares tiba-tiba pindah. Mereka hanya ingin memastikan bahwa Ares baik-baik saja. Tapi semesta menutupi, membiarkan mereka tenggelam dalam lautan bernama tanda tanya.