Dia Kembali


Mereka sudah berkumpul, menunggu kedatangan Amanda yang mengabari bahwa dia terjebak macet. Gata berulang kali mendelik ke arah Raja dan Lunar yang terlihat begitu kasmaran. Rasa dunia milik berdua, kalau kata orang.

“Eh, Nat, lo sama Laura itu gimana jadinya deh?” tanya Karin membuat semua yang awalnya sibuk sendiri jadi menoleh ke arah Nathan.

Nathan tersenyum malu. “Ya gitu, deh..”

“Gitu deh, tuh, apaan? Yang jelas, kek!” omel Karin kesal.

“Gue sih udah kode-kode kalo gue suka sama dia, terus dia juga udah nerima kode gue dengan baik sih. Pokoknya tunggu aja deh.” Nathan langsung menyeruput ice lemon teanya.

“Semalem gue liat snapgramnya Laura, lo berdua abis video call-an, ya?” tanya Lunar. Nathan mengangguk.

“Widih, ini mah tinggal tembak aja, Nat, gas lah, Men!!!”

“Gas gas aja, lo. Ogah! Gue gak mau buru-buru,” sanggah Nathan yang dihadiahi remukan tisu oleh Raja.

“Sok banget!”

“Tapi Laura anaknya emang baik sih, mana cantik banget. Dia kalo lagi ngebimbing dekel jurnalis tuh berwibawa banget. Gue setuju, Nat, lo sama dia,” ucap Karin.

“Pilihan gue mah emang gak pernah salah, Rin.” Nathan menaikturunkan alisnya.

Gata diam-diam lega, melihat teman-temannya yang mulai menemukan kebahagiaannya masing-masing membuat dia semakin ringan untuk meninggalkan mereka tahun depan ke luar negeri. Iya, janjinya pada Sang Ayah saat membantu Nathan. Belum ada yang tau rencananya untuk ke luar negri, bahkan Lunar.

Bel di pintu masuk terdengar, mereka kompak menoleh, mendapati Amanda dengan kedua tangan yang penuh berjalan ke arah mereka. Dia lalu menaruh tas-tas belanjaan yang dia bawa di atas meja lalu membalas sapaan kelima anak manusia itu.

“Halo, Tante.. Apa kabar?” tanya Karin sambil menyalami tangan Amanda. Yang lain juga mengikuti Karin dan menyapa Amanda satu per satu.

“Baik.. Tante alhamdulillah baik..” ucap Amanda masih dengan senyum lebar. “Oh iya, ini ada hadiah buat kalian..” lanjutnya.

Dia memberikan tas itu satu per satu pada mereka. Diterimanya hadiah-hadiah itu dengan wajah senang. “Tante.. Kok repot-repot gini, sih..?” ujar Lunar terharu.

“Tante ih, kalau begini kan Raja jadi enak..” canda Raja mengundang tawa semuanya.

“Makasih banyak loh, Tan, ini bagus banget..” ucap Nathan, membuka lebar jaket yang diterimanya. Mereka masing-masing dapat satu baju yang ukurannya benar-benar pas di tubuh mereka.

“Tante kok jago banget, deh, nebak ukuran baju kita?”

“Bukan Tante yang nebak, kok. Tante dikasih tau,” jawab Amanda.

“Dikasih tau siapa, Tan?”

“Sama orang yang Tante ajak kesini. Mana ya? Tadi katanya sih cari parkiran mobil dulu..” Amanda menoleh ke arah pintu masuk membuat semuanya mengikuti arah pandangnya.

“Nah, itu dia!” seru Amanda membuat semuanya makin memanjangkan leher mereka mencari orang yang dimaksud.

Bel pintu masuk kembali berbunyi, membawa masuk seorang anak manusia dengan senyum kecil di wajahnya. Orang itu menatap langsung ke arah mereka sambil tersenyum.

“ARES?!”