Hari Itu


flashback

Sesudah Karin mengerjakan remedial dari guru Geografi, dia berjalan ke arah Gata yang berdiri di bawah tiang basket. Gata berdiri dengan tas yang hanya disangkutkan ke satu bahunya, menatap Karin dengan senyum yang memperlihatkan gigi rapihnya.

“Bete banget mukanya?” tanya Gata heran, sambil masih tersenyum karena wajah Karin yang ditekuk.

“Gue udah ngerjain semua tapi nilainya tetep 70,” gerutu Karin. Tangan Gata terangkat untuk mengelus puncak kepala Karin, berusaha menghibur.

“Gapapa, geografi emang susah, kok.” Lalu digenggamnya pergelangan tangan Karin, mengajaknya menuju motor yang masih terparkir rapi di tempatnya.

“Kita main timezone dulu, mau gak?” tanya Gata. Karin langsung mengangguk senang. “Tapi makan dulu! Ya, yaa?”

“Iyaa, makan dulu.” Gata lalu memakaikan helm putih ke kepala Karin. Helm yang hanya dipakai oleh dua perempuan kesayangannya setelah Bunda, yaitu Lunar dan Karin.

Mereka menghabiskan waktu 25 menit untuk makan, setelahnya bergegas menuju timezone yang terletak di pojok. Baju mereka sudah diganti dengan sweater yang selalu dibawa di tas, sedangkan bawahan mereka masih tetap rok dan celana abu-abu khas anak SMA. Mereka mengganti baju hanya untuk menghilangkan identitas sekolah mereka yang terpampang di kerah yang bermotif itu.

Ada hampir 2 jam mereka berkeliling mencoba satu per satu permainan yang tersedia. Mereka juga bermain bowling yang disedikan di dalam timezone. Karin berkali-kali memuji ketampanan Gata saat memegang bola berat itu. Meskipun tidak sejago pemain profesional, menurutnya Gata tetap tampan.

Usai bermain, mereka membeli es krim lalu duduk di bangku kosong. Sambil menyantap es krim, mereka memperhatikan ke sekeliling, sesekali menertawakan orang-orang yang bertingkah aneh. Sampai Gata tiba-tiba menatap Karin dan membersihkan es krim yang berantakan di sudut bibirnya. Hal itu membuat Karin ikut menatapnya, menyembunyikan detakan jantung yang mulai tak normal.

“Rin,” panggil Gata pelan. “Kalau gue bilang gue suka sama lo, lo bakal nerima gue jadi pacar lo, gak?”

Karin menahan napasnya, tidak sangka akan mendapatkan pernyataan perasaan seperti ini. Dia mengalihkan pandangan, memutus kontak matanya dengan Gata, berpura-pura bersikap biasa saja dengan menyuapkan es krim yang mulai meleleh di tangannya.

“Lo... ngerasain hal yang sama kan, Rin?” Gata kembali bertanya. Dirinya tidak bodoh, bertahun-tahun dia mengenal Karin, dia tau ada yang lain dari cara Karin menatap dirinya. Berkat pesan Ares yang bilang dia harus mencoba menyatakan perasaannya dan berhenti menjadi pengecut, akhirnya Gata meyakinkan dirinya untuk mengejar Karin. Now or never, pikirnya.

Karin tentu senang saat tau Gata juga merasakan hal yang sama dengan dirinya, malahan, ini yang dia tunggu. Tapi semenjak kepergian Ares ke Surabaya usai menyatakan perasaan yang tidak bisa dia balas itu, rasanya Karin memiliki beban berat di pundak. Bahkan setelah beberapa kali berbincang dengan Lunar dan ditenangkan dengan kata-kata “Itu bukan salah lo.” berkali-kali, dia masih merasa bersalah. Rasanya berat, rasanya tidak adil bila dia bahagia sendirian.

“Ta..” panggil Karin, membuat Gata diam-diam menarik napas dalam. “Gue gak bisa, Ta..”

Gata membuang muka, lumayan kecewa mendengar jawaban Karin. Dia pikir semua akan berjalan lancar. “Gue gak bisa nerima lo sekarang, Ta. Tapi gue juga gak bisa janji bisa nerima lo di lain waktu. Ada urusan perasaan yang belum selesai, Ta, harus gue selesaiin dulu.” Karin menatap Gata yang sekarang tatapannya kosong ke depan.

“Maaf ya, Ta?”

Gata menoleh, mengukir senyum di bibirnya. “No need to say sorry kali, Rin. Gapapa.” Gata mengangguk kecil lalu berdiri.

“Udah selesai, kan, makannya? Pulang, yuk? Gue gak enak sama nyokap lo kalau mulangin lo terlalu malem.”

Karin mengangguk lalu berdiri. Sebelum Gata melangkahkan kakinya, dia menahan tangan Gata. “Ta,” panggilnya. “Lo boleh kok jaga jarak dulu sama gue kalau ngeliat gue rasanya terlalu sakit dan kecewa.”

Gata tertawa kecil. “Gue gak akan jaga jarak, Rin. Gue bakal nunggu lo dengan urusan perasaan lo itu tepat di samping lo. Gue gak akan kemana-mana.”