Pembelaan Tak Berarti


“Ini apaan sih, kok pada diem-dieman gini?” ucap Ares memecah keheningan. Dia tak tahan melihat teman-temannya yang tidak seperti biasanya.

Sepulang dia dan Karin membeli makanan untuk disantap bersama nanti siang, dia sudah mendapati ke-empat temannya duduk di ruang tengah tanpa ada pembicaraan sedikitpun. Semua sibuk dengan ponsel masing-masing.

“Tau, kalian kenapa deh? Biasanya kalo liburan pada main atau nyanyi-nyanyi. Ini kenapa diem doang?” kata Karin menimpali. Dia menatap Nathan yang justru mengangkat bahu.

Dia yakin, ada yang aneh antara Raja, Gata, dan Lunar.

“Lo bertiga kenapa sih?” Ares bertanya lagi.

“Gapapa, Res. Emang lagi males ngobrol aja.” ucap Lunar sebagai jawaban untuk menutupi masalah perasaannya. Menurutnya apa yang menjadi masalahnya, tidak perlu diperbesar sampai seluruh sahabatnya tau.

“Gak mungkin gak ada apa-apa, Lun. Lo kira gue tolol, apa?”

“Enggak gitu, Res.. Tapi maksudnya—”

“Raja nolak kakak gue.” potong Gata. Sekarang dia menatap tajam udara di depannya, enggan melihat ke arah lain.

“Hah? Gimana?” terlihat jelas kebingungan di wajah Karin, Nathan, dan Ares.

Sejujurnya Lunar tidak menyangka Gata akan membongkar masalah ini ke semuanya. Baginya ini tidak penting dan tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan yang lain.

“Raja nolak Lunar gimana maksud lo?” tanya Nathan meminta Gata memberi penjelasan lebih.

Gata menatap tajam Raja yang menunduk dalam. “Kakak gue suka sama Raja, dan dia nolak kakak gue. Dasar bangsat.”

“Ta, udah lah—”

“Lo nangis kayak gitu emang lo pikir gue gak marah, Lun? Lo gak boleh sedih, anjing, gak boleh! Gak boleh ada yang nyakitin lo.” potong Gata lagi. Dia kini menatap Lunar serius.

“Tapi ini masalah perasaan, Ta, gue gak bisa maksa orang buat suka sama gue. Kenapa lo jadi ribet, deh?”

“Ribet? Ribet kata lo? Gue ngelakuin ini juga buat lo, Lun!”

“Tapi lo gak bisa maksa gue buat ada perasaan sama Lunar, Ta. Lunar aja gak maksa, kenapa jadi lo yang uring-uringan sendiri?” ucap Raja akhirnya. Tak terima bila dia disalahkan seperti ini. Gata tidak tahu yang sebenarnya, semuanya tidak ada yang tahu. Jadi dia tidak berhak dihakimi.

Melihat api yang mulai panas di antara ketiganya, Nathan angkat bicara. “Bentar, bentar. Jangan emosi, gunain kepala dingin,” ucapnya menjeda, memastikan ketiganya sudah tidak terlalu berapi-api sebelum melanjutkan.

“Jadi selama ini, Lunar suka sama Raja dan dia confess ke Raja tapi ditolak?”

“Gue gak ditolak, Nat, gue emang gak nuntut kejelasaan ataupun perasaan sama Raja. Gue pure confess biar lega aja.” ralat Lunar.

“Oke, ngerti. Terus masalahnya apa, Ta? Toh mereka berdua gak ada masalah kok, Lunarnya pun gapapa?”

Gata mendengus, bibirnya terangkat sebelah, seperti tidak habis pikir dengan semua orang di sekitarnya. Entah kenapa Gata semarah itu, tidak ada yang tahu.

“Gapapa kata lo? Setelah Lunar nangis semaleman? Setelah Lunar nangis pas cerita sama gue? Lo kira gue tega, anjing?!”

“Gata, please, udah dong. Gue gapapa. Itu namanya fase hidup, Ta, wajar lah.”

Bullshit fase hidup. Emang Raja aja tolol masa cewek kayak lo dia gak suka.”

Raja bangkit dari duduknya, meraih kerah Gata, dan langsung meninju pipi kirinya dengan penuh emosi. Belum sempat Gata bangun, Raja langsung duduk di atas tubuh Gata, mengunci gerakannya dengan memegang kedua kerahnya kencang.

“EH, DENGER YA, ANJING— LO GAK BERHAK BUAT IKUT CAMPUR URUSAN GUE SAMA LUNAR. LO GAK BERHAK NGATUR, GAK USAH MERASA SUPERIOR MENTANG-MENTANG LO DI ATAS YA, ANJING!”

Gata yang merasa dipancing langsung mengerahkan kekuatan untuk membalik posisi. Kini dia yang ganti meninju wajah Raja sampai keluar darah dari mulutnya.

“LO JUGA DENGER YA, BANGSAT, GUE GAK MAU LIAT DIA SEDIH APALAGI SAMA LO! LO TAU GAK DIA GAK PERNAH SUKA SAMA ORANG SEBELUMNYA? LO NGEHANCURIN LUNAR SEBAGAI ORANG YANG PERTAMA DIA SUKAIN, TOLOL!”

Melihat itu, Ares dan Nathan langsung menarik paksa Gata. Lunar menghampiri Raja yang berdarah lumayan banyak.

“Ja, lo—”

“Gak usah sentuh gue.” Raja langsung menepis tangan Lunar dan berjalan keluar setelah mengambil jaket dan tas selempangnya. Karin berusaha mengejar tapi ditahan oleh Ares.

“Lepas, bangsat.” Gata melepas kasar tangan Ares dan Nathan yang menahan kedua tangannya.

“Ta, lo apa-apaan, sih?” tanya Lunar setelahnya. Kali ini menurutnya Gata benar-benar keterlaluan. Rasa khawatirnya berlebihan, menyebabkan semua jadi runyam dan berantakan.

“Diem lo. Gue yang belain lo disini.”

“Tapi gue gak perlu dibela, Ta. Gue udah gede, gue tau kali konsekuensi jatuh cinta kayak gimana. Lo gak perlu sejauh ini.”

Gata mendecih lalu menatap Lunar tajam. “Lo selalu belain orang lain ya, Lun, gak pernah belain gue. Padahal gue udah bela-belain semua yang gue punya buat lo, tapi lo malah gak ada terima kasihnya. Terserah lo lah, bangsat, gue capek ngurusin lo.”

Gata meninggalkan semuanya dan keluar juga dari villa. Meninggalkan empat yang lainnya dalam kebingungan.

Semua berantakan. Tanpa ada yang bisa disalahkan sepenuhnya. Terlalu cepat untuk dicegah dan terlalu terlambat untuk diperbaiki.