Bubur Jadian
Hari ini Lunar berangkat lebih pagi karena Raja mengajak sarapan bubur sebelum pergi ke sekolah.
“Ikut, dong!” sewot Gata saat melihat Lunar sudah mengikat tali sepatunya dengan Raja yang berdiri bersender di daun pintu.
“Gak mau, acara privat,” ucap Raja sambil mengangkat tangannya di depan wajah Gata.
“Halah acara privat pala lo. Lagian ngapain sih pagi-pagi banget?”
“Dibilang nyarap bubur!” kesal Lunar usai mengikat tali sepatunya. Dia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan sambil menatap Gata sewot.
Raja tiba-tiba menunduk, mengikat ulang tali sepatu Lunar yang menurutnya kurang kencang. Gata yang melihatnya langsung heboh sendiri. “WIDIH WIDIH, MAU KELIATAN GENTLE LO, YA?!”
“Apaan, sih.” Raja membuang muka malu.
Lunar langsung memukul dada Gata. “Udah sana mandi! Gue mau berangkat. Bye!”
“Udah izin Bunda belom?” tanya Gata memastikan. Lunar mengangguk. “Udah.”
Gata yang masih dengan celana pendek hitam dan kaos abu-abunya mengantarkan mereka sampai di depan pagar. Berpesan agar Raja berhati-hati membawa motor.
Di atas motor, Lunar membahas tentang film Frozen yang baru dia tonton semalam. “Nah abis itu Si Olaf manggil Elsa, Anna, gitu kan, tapi dia malah manggilnya Samantha, anjir! Padahal kan gak ada yang namanya Samantha! Hahahahah.” Lunar bercerita dengan semangat sedangkan Raja tersenyum di balik helm full facenya.
“Terus abis itu?”
“Terus ada adegan Si Kristoff mau ngelamar Anna tapi dianya malah keburu pergi nemenin Elsa buat ke tempat tujuannya itu. Kasian banget deh pokoknya, padahal udah nyiapin rusa banyak banget.” Lanjut Lunar.
“Emang ada rusanya?” tanya Raja. Kebetulan dia tidak pernah ingin tau kartun anak seperti ini. Yang dia tonton hanya serial Marvel dan superhero lainnya.
“Ada!! Ih pokoknya lo harus nonton deh, Ja,” ujar Lunar lalu turun dari motor Raja karena mereka sudah sampai di tukang bubur langganan mereka.
“Iya, nanti nonton sama lo, ya?”
“Iya, gue juga mau nonton lagi. Keren banget lagunya!” Raja terkekeh melihat Lunar begitu semangat menceritakan film itu.
Mereka duduk di bangku kosong setelah memesan bubur. Lunar tanpa kacang dan Raja tanpa seledri. Raja menatap Lunar. Syukur perempuan itu sudah lupa dengan hal yang membuatnya emosi dua hari lalu. Setelah acara baku hantam dengan adik kelas itu, Lunar sempat diperingati oleh wali kelas tetapi tidak dipanggil oleh BK karena dirinya yang sudah mengharumkan nama sekolah. Agak tidak adil memang, tapi bagi Raja yang penting Lunar tidak kesulitan.
Karena Lunar yang terus-menerus memaksa ingin tau nomor telfon adik kelas yang rambutnya hampir dia bikin rontok, Raja memberi Lunar satu akun Disney Hotstar yang tidak dia pakai untuk mengalihkan pikiran Lunar. Beruntungnya perempuan itu menurut dan sudah mulai melupakan masalah kemarin.
Mereka makan bubur dengan diisi ocehan Lunar tentang daftar film yang ingin dia tonton, juga cerita Raja tentang betapa serunya film Marvel yang dia ikuti. Tidak sadar, bubur mereka sudah habis. Lunar meminum teh tawar hangat yang dia pesan, membuat Raja melihatnya sambil tersenyum.
“Kenapa senyum-senyum?” ucap Lunar sambil mendelik.
“Minumnya sampe habis dong, Lun,” bujuk Raja.
Lunar yang heran tetap menghabiskan minumnya sampai tak bersisa. “Coba baca bawah gelasnya,” pinta Raja.
Lunar mengecek yang dikatakan Raja, dilihatnya dengan seksama. Ada tulisan kecil yang ditulis dengan spidol hitam.
“Ja..” panggil Lunar membuat Raja berdeham sebagai respon. “Ja.. ini serius?”
“Ya serius, lah. Mau gak?”
“Ini prank, ya?” tanya Lunar lagi, masih ada trust issue rupanya.
“Kalau gak mau gapapa, sih.. Paling gue lempar ke cewek la—”
“Iya iya, mau.” Lunar menjawab malu dan langsung membuang muka. Senyum Raja mengembang.
“Serius mau?”
“Iya..” cicit Lunar. Kecil sekali, akibat malu.
“Ciee, jadi pacar gue..” Raja terkekeh sambil menoel pundak Lunar.
“Apa sih,” balas Lunar dengan pipi merahnya.
Raja senang rencananya berjalan lancar. Usai bekerja sama dengan penjual bubur agar mengizinkan dia menitipkan gelas bening yang sudah dia tambahkan tulisan itu, dia akhirnya berhasil mengubah status Lunar menjadi miliknya. Satu kata tanya singkat, tapi ternyata diam-diam ditunggu.
Pacaran yuk?