Tidak Ada Manusia Bodoh


“Res, mau nanya deh.”

Ares yang sedang mengaduk kopi di hadapannya berdeham sebagai sahutan. Sejak kejadian siang tadi, Ares berusaha menghindari topik masalah nilai itu dari Karin. Setelah makan siang Ares langsung membawa Karin bermain di timezone, setelah itu mereka mengopi sebentar di Kafe Temu, tempat yang biasa didatangi mereka ber-enam.

“Gue itu kayaknya emang bego gak sih, Res?” gerakan mengaduk Ares jadi berhenti. Keluar juga bahasan ini.

“Enggak. Menurut gue gak ada manusia bego di dunia ini.”

“Gue?”

“Bagi gue lo gak bego,” Ares lalu meminum kopi itu seteguk. “Lo gak bego kalo bisa bikin puisi, ngelukis, terus main piano. Gak semua orang bisa ngelakuin hal yang lo kuasain itu.”

“Tapi nilai gue tuh gak pernah bagus, Res..”

“Nilai tuh cuma di atas kertas doang, Rin. Lo gak harus selalu dapet nilai sempurna buat jadi manusia.”

Karin membuang napas kasar. Perkataan Ares memang ada benarnya.

Perasaan Karin sedang berkecamuk. Satu sisi dia marah dengan Bu Susi yang telah mempermalukannya. Di satu sisi dia marah dengan dirinya sendiri. Dan ada sisi kecilnya yang merasa dia marah pada Lunar yang berbanding terbalik nasibnya dengan dia. Padahal Karin tau kalau perasaan kesalnya pada Lunar tidak berdasar.

“Lo lebih marah sama siapa, Rin?”

“Gimana, Res?” ucap Karin berusaha tidak salah dengar.

“Lo marah sama siapa sekarang? Cerita aja.”

Karin Ragu. Tapi tatapan Ares memberitahunya untuk tidak ragu. “Sama diri gue, sama Bu Susi,”

“Dan?”

“Dan apa? Udah, kok.” ucap Karin sedikit berbohong.

“Dan sama Lunar, kan?”

Karin membelalak. Khawatir Ares selama ini membuka isi otaknya dan memantaunya.

“Res—”

“Gapapa, kok. Wajar. Lo gak salah ngerasa kayak gitu. Gue jadi lo mungkin juga ada perasaan marah sama Lunar,” Ares menjeda. “Tapi kalau gue jadi lo nih, gue gak akan lama-lama merasa marah sama Lunarnya.”

“Kenapa?”

“Karena kalau gue marah, berarti gue setuju dong gue gak bisa apa-apa? Padahal lo aja bakatnya banyak.”

Karin jadi berpikir 2 kali. Ares benar, selalu benar. Dia harusnya tidak merasa marah karena dia memang bukan Lunar, dan akan selalu begitu.

“Res, gue itu Karina Natania kan, Res?”

Walau agak linglung, Ares mengangguk. “Iya,”

“Gue itu Karina dan bukan Lunar, kan? Dan Lunar pun bukan Karina. Jadi harusnya gak ada yang boleh bandingin gue sama Lunar, karena gue dan Lunar itu 2 manusia yang beda, iya kan, Res?!” ucap Karin yang nadanya semakin meninggi bersemangat.

“Gue harusnya gak usah ngerasa kecil karena gue juga spesial, iya kan, Res?!!!”

Ares tertawa kecil. Lega melihat Karin yang semakin lama semakin girang sendiri. “Iya. Lo itu Karina, dan Lunar itu Lunar. Kalian beda, dan kalian spesial dengan cara masing-masing.”

“Res, thank you!! Sumpah thank you banget!! Gue akhirnya sadar kalau gue selama ini iri sama Lunar dan gak sadar kalau gue juga bisa keren! AAAAA ARES!!”

Refleks, Karin memeluk Ares kencang. Membuat yang didekap berusaha keras mengontrol jantung yang tak karuan. Pemandangan itu tak sengaja dilihat Jonathan dan Gata yang tiba berbarengan.

“Anjrit!! Ngapain tuh?!” ucap Nathan heboh dari kaca luar kafe.

Gata jadi ikut melotot. “KOK GIRANG BANGET ITU MUKA KARIN?!”

“LAH IYA?!”

“Padahal gue panik banget setan, gue takut Karin makin nangis atau gimana.”

“Sama, Ta, gue udah ngebut maksimal, mana rumah gue jauh. Taunya dateng cuma buat liat dia pelukan.”

Keduanya membuang napas kasar. Kata orang mah, sudah terlanjur basah. Jadi mereka tetap masuk dan berakting seakan tidak melihat apapun.