Rooftop Deep Talk


“Gak usah dipikirin,” ucap Gata usai memencet tombol pause karena ingin membalas komentar orang-orang 'pengecut' itu. “Kayak mereka cantik aja, anjir.”

Lunar diam, lalu mengangkat sebelah bibirnya. “Dari dulu selalu aja begini ya, Ta? Gue perasaan gak pernah memancing keributan deh.”

“Justru karena lo gak pernah mancing jadi mereka duluan yang mancing lo, Lun. Mereka tau lo bakal ngeladenin mereka.”

“Berarti harusnya gue diem aja gitu?”

“Ya enggak sih, ribut aja. Orang-orang kayak gitu tuh kalau gak bisa dikasih hukuman, ya seenggaknya harus dikasih bogem.”

Lunar tertawa kecil. “Prinsip hidup lo gak banget dah, Ta.”

“Masalahnya kita udah pernah lapor ke Ayah buat gunain kekuasaannya supaya bisa nuntut orang yang nge-bully lo dulu kan? Tapi hasilnya apa? Ayah aja angkat tangan karena males berurusan sama anak jendral.”

Lunar mengangguk. “Iya sih. Makanya sejak itu gue gak mau minta bantuan Ayah buat ngasih pelajaran ke orang-orang yang jahat sama gue atau lo. Langsung aja kasih bogem.”

Gata juga mengangguk setuju. “Bener, bogem lebih bermanfaat.” ucapnya lalu mengacungkan satu jempol.

Hening, tapi tidak ada yang berniat melanjutkan film. Keduanya malah bengong, asik dengan pikiran masing-masing.

“Lun, pernah gak mikir kalau lo gak dilahirin sebagai orang kaya?”

Tiba-tiba obrolan berubah serius. Lunar tau arahnya kemana, akhirnya mereka berdua malah deep talk bukan movie night.

“Pernah. Tapi gak terlalu kebayang jelas karena kita aja gak pernah kesusahan, Ta. Apa yang kita mau diturutin terus— ya walaupun harus belajar keras dulu sih..”

“Sama, gue pernah kepikiran tapi gak kebayang,” Gata jeda sejenak. “Tapi kayaknya seru gak sih, Lun?”

“Apa? Jadi orang biasa aja?”

“Iya. Gak hidup di rumah mewah, gak harus jaga attitude depan klien Ayah, gak harus menangin lomba supaya Ayah bisa pamer ke rekan kerja dan Bunda bisa pamer ke kumpulan ibu-ibu sosialita-nya.”

Lunar mengawang. Benar-benar membayangkan betapa ringan bahunya bila semua itu terjadi. Tidak ada beban dan tuntutan yang terlalu berat. Tidak akan merasa memalukan bila kalah dalam lomba.

Wahh, surga.

“Kenapa ya temen-temen kita pada pengen hidup kayak kita?” Lunar bertanya pada Gata. Agak menyerempet pertanyaan retoris karena pasti jawabannya,

“Karena harta, Lun.”

“Mereka gak tau karena harta orang tua kita yang terlalu banyak ini, kita jadi dituntut untuk jadi kayak mereka atau bahkan lebih,” ucap Gata meneruskan.

“Makanya, Lun, gue gak bisa bayangin kalau gue lahir cuma sendirian, gak sama lo. Kalau gue sendirian dengan segala pressure yang dikasih sama Ayah, mungkin gue gak kuat. Gue seneng ada lo yang bisa ngerasain beban ini dan mikul bareng-bareng.”

Lunar sedikit merinding, Gata kalau lagi serius memang sedikit menggelikan. Tapi dia jadi ikut membayangkan apabila dia sendiri, tak ada Gata, tak ada teman untuk cerita bagi dirinya yang lemah ini.

“Gue juga mungkin gak akan kuat, Ta,” Lunar menoleh pada Gata yang menatapnya serius sejak tadi. “Thanks ya, Ta.”

“Buat?”

“Buat jadi kembaran gue.”

Gata menahan tawa yang hampir menyembur. “Iya, makasih juga.”

Gata lalu mendekat, merentangkan tangannya. “Apa?”

“Sini peluk gue, bloon! Kan biasanya orang mengakhiri deep talk dengan hugs.”

Melihat Lunar tak kunjung bergerak, Gata langsung menarik bahu Lunar untuk dia dekap. Lunar diam-diam merasa nyaman dan terharu. Akibat sosok seorang Ayah yang tidak pernah mendekap, Gata dengan rasa tanggung jawab selalu memberikan dekapan hangatnya untuk sang kakak yang lahir 8 menit sebelum dirinya.

Karena sebesar apapun amarah sepasang saudara kembar itu, tidak ada yang bisa memisahkan mereka, bahkan jarak sekalipun.