Senyuman


Kaki Julia melangkah mendekat ke arah laki-laki dengan kaos hitam dan celana denimnya, berdiri tegak di samping motor Scoopy keluaran terbarunya.

“Lama gak gue?”

Ghazy menggeleng. “Enggak.”

Julia menatap Ghazy, dan sebaliknya. Julia bingung Ghazy yang diam saja, dan Ghazy juga bingung Julia hanya menatapnua diam.

“Ini... Kita nunggu apa?”

“Helm,” Julia berkerut. “Helm lo mana, Julia?”

“Oh! Helm?!! Gak punya.”

“Kenapa gak bilang daritadi?”

“Ya gue bingung lo cuma ngeliatin gue kayak abis ngeliat setan gitu.” Julia melirik helm yang disangkutkan pada stang motor. Hanya satu. Besar pula.

“Harus pake helm emangnya?”

“Kalo lo mau kepala lo bocor ya gapapa.” ucap Ghazy membuat Julia merinding.

“IYA JANGANNN! AYO KITA CARI HELM, GHAZY, AYO CARII!!”

Ghazy diam-diam tersenyum di balik helmnya. Dia menyuruh Julia naik sebentar, membawanya ke rumah yang dia tinggali untuk mengambil satu helm cadangan.

Tak lama dia keluar dengan helm kecil berwarna putih yang memang di-desain untuk perempuan.

Dan bukan Julia namanya kalau tidak ada kelakuan anehnya. Dia struggle sendiri untuk memasang pengait helm di bawa dagu. Malah dia tarik ke atas ke bawah bahkan samping, bukannya dikaitkan.

Ghazy membuang napas, tangannya yang sudah memegang stang motor langsung ditarik kembali.

“Masa begini doang gak bisa,” ejeknya sambil memasukkan pengait helm Julia hingga berbunyi klik. “Lo gak pernah pake helm ya kalo naik motor?”

Julia menyengir. “Hehehe, tau aja ganteng.”

“Jangan kebiasaan.”

“Iya iyaa.”

Ghazy menjalankan motornya lalu berhenti di dekat warung nasi padang. Julia yang berpikir Ghazy ingin makan nasi padang hanya mengikuti dari belakang. Baru Julia melotot saat mendengar Ghazy memesan 15 bungkus nasi padang dengan lauk yang berbeda-beda.

“Ghazy, ngapain beli naspad sebanyak itu? Emang abis sama kita berlima?”

“Bukan buat kita, kok. Tapi lo mau?”

“Enggak gue tadi udah makan. Tapi buat siapa sebanyak itu?”

“Buat orang yang butuh, Julia.. Gak mungkin gue beli buat kita doang. Lagian di rumah Dion pasti udah banyak makanan, dan pastinya bukan nasi padang.”

“Gue kira buat kita semua..”

Setelah pesanannya selesai, Ghazy membayar semuanya dan meminta tolong Julia untuk memegangi bungkusan nasi padang di dalam tas belanja yang Ghazy bawa. Lalu mereka berkeliling daerah Tebet yang kata Ghazy, banyak orang-orang berkostum badut yang selalu duduk di pinggir jalan, juga beberapa tunawisma.

Ghazy berhenti di depan dua ibu-ibu dan satu anak kecil yang sedang duduk di pinggir jalan. Pakaian mereka kotor begitu juga tubuh mereka. Kurus dan kurang gizi, tidak sehat tapi tidak sakit.

“Ibu.. Ini saya ada nasi padang untuk makan,” Ghazy menghampiri, berlutut agar sejajar dengan kedua ibu-ibu di depannya. “Diterima ya, bu?”

Kedua ibu tadi langsung mengucap syukur dengan wajah terharu. Berkali-kali berterimakasih dan memegang tangan Ghazy dengan begitu erat. Bahkan ibu yang agak tua—sekitar 50an—matanya sudah berkaca-kaca.

“Alhamdulillah... Terima kasih banyak, dek.. Ibu belum makan dari pagi.. Kasian anak ibu..”

“Iya, bu.. Dimakan ya.. Maaf saya cuma bisa kasih segini.”

“Gak apa-apa, dek.. Segini aja kita juga udah seneng.”

Julia menatap Ghazy yang tersenyum tulus. Berpamitan pada kedua ibu tadi untuk mencari ke tempat lain.

Julia tidak bisa berkata-kata. Tak bisa berkomentar. Jantungnya berdegup menatap bahu lebar laki-laki itu dari belakang. Kagum dan... Jatuh hati.

Ghazy memang terlihat tidak peduli. Air mukanya selalu sama setiap saat kecuali sedang bersama teman-temannya. Baru tadi Julia melihat senyum Ghazy begitu tulus. Begitu sejuk dipandang sampai jantungnya berdetak dengan heboh.

Sesudah semua bungkus nasi itu habis, Ghazy memberhentikan motor di salah satu taman. Membeli cilok pada kakek-kakek yang keriputnya sudah memenuhi tangan dan wajahnya. Yang bahkan menuangkan bumbu kacang ke dalam plastik saja sudah pelan dan gemetar.

“Sini saya yang tuangin, Pak.” ucap Ghazy berinisiatif. Lagi-lagi Julia tersenyum kecil.

“Bapak jualan disini setiap hari?”

“Iya, mas. Kadang muter kalo taman belum rame.”

“Muter bawa gerobak ini, pak?”

“Iya, mas.”

“Berat ya, pak?”

“Ya lumayan, mas.. Udah tua juga..”

Julia melihat ke dalam panci cilok yang tersisa sebagian. Ghazy membeli 6 porsi.

“Pak, saya beli semuanya deh pak. Tadi kan temen saya beli 6 ya, itu pisahin aja, pak. Pokoknya abisin aja.”

“Seriusan, neng?” ucap penjual itu tidak percaya. Julia mengangguk dengan yakin.

“Iya, pak. Abisin aja semuanya.”

“Alhamdulillah... Makasih ya neng.. Semoga rezekinya dilancarkan oleh Gusti Allah..”

“Aamiin, pak, aamiin..”

Ghazy menatap Julia yang kebetulan juga sedang menoleh ke arahnya. Baru pada saat itu, Julia melihat senyuman yang selama ini disembunyikan oleh Ghazy.

“Pak, rumahnya dimana?”

“Di deket Pasar Tebet, mas.”

Ghazy menoleh pada Julia. “Lo bisa bawa motor kan?”

“Bisa.”

“Nanti boncengin bapaknya ya, biar gue yang dorong gerobaknya.”