fromranxx


Kaki Julia melangkah mendekat ke arah laki-laki dengan kaos hitam dan celana denimnya, berdiri tegak di samping motor Scoopy keluaran terbarunya.

“Lama gak gue?”

Ghazy menggeleng. “Enggak.”

Julia menatap Ghazy, dan sebaliknya. Julia bingung Ghazy yang diam saja, dan Ghazy juga bingung Julia hanya menatapnua diam.

“Ini... Kita nunggu apa?”

“Helm,” Julia berkerut. “Helm lo mana, Julia?”

“Oh! Helm?!! Gak punya.”

“Kenapa gak bilang daritadi?”

“Ya gue bingung lo cuma ngeliatin gue kayak abis ngeliat setan gitu.” Julia melirik helm yang disangkutkan pada stang motor. Hanya satu. Besar pula.

“Harus pake helm emangnya?”

“Kalo lo mau kepala lo bocor ya gapapa.” ucap Ghazy membuat Julia merinding.

“IYA JANGANNN! AYO KITA CARI HELM, GHAZY, AYO CARII!!”

Ghazy diam-diam tersenyum di balik helmnya. Dia menyuruh Julia naik sebentar, membawanya ke rumah yang dia tinggali untuk mengambil satu helm cadangan.

Tak lama dia keluar dengan helm kecil berwarna putih yang memang di-desain untuk perempuan.

Dan bukan Julia namanya kalau tidak ada kelakuan anehnya. Dia struggle sendiri untuk memasang pengait helm di bawa dagu. Malah dia tarik ke atas ke bawah bahkan samping, bukannya dikaitkan.

Ghazy membuang napas, tangannya yang sudah memegang stang motor langsung ditarik kembali.

“Masa begini doang gak bisa,” ejeknya sambil memasukkan pengait helm Julia hingga berbunyi klik. “Lo gak pernah pake helm ya kalo naik motor?”

Julia menyengir. “Hehehe, tau aja ganteng.”

“Jangan kebiasaan.”

“Iya iyaa.”

Ghazy menjalankan motornya ke salah satu taman kota, berhenti di dekat warung nasi padang. Julia yang berpikir Ghazy ingin makan nasi padang hanya mengikuti dari belakang. Baru Julia melotot saat mendengar Ghazy memesan 15 bungkus nasi padang dengan lauk yang berbeda-beda.

“Ghazy, ngapain beli naspad sebanyak itu? Emang abis sama kita berlima?”

“Bukan buat kita, kok. Tapi lo mau?”

“Enggak gue tadi udah makan. Tapi buat siapa sebanyak itu?”

“Buat orang yang butuh, Julia.. Gak mungkin gue beli buat kita doang. Lagian di rumah Dion pasti udah banyak makanan, dan pastinya bukan nasi padang.”

“Gue kira buat kita semua..”

Setelah pesanannya selesai, Ghazy membayar semuanya dan meminta tolong Julia untuk memegangi bungkusan nasi padang di dalam tas belanja yang Ghazy bawa. Lalu mereka berkeliling daerah Tebet yang kata Ghazy, banyak orang-orang berkostum badut yang selalu duduk di pinggir jalan, juga beberapa tunawisma.

Ghazy berhenti di depan dua ibu-ibu dan satu anak kecil yang sedang duduk di pinggir jalan. Pakaian mereka kotor begitu juga tubuh mereka. Kurus dan kurang gizi, tidak sehat tapi tidak sakit.

“Ibu.. Ini saya ada nasi padang untuk makan,” Ghazy menghampiri, berlutut agar sejajar dengan kedua ibu-ibu di depannya. “Diterima ya, bu?”

Kedua ibu tadi langsung mengucap syukur dengan wajah terharu. Berkali-kali berterimakasih dan memegang tangan Ghazy dengan begitu erat. Bahkan ibu yang agak tua—sekitar 50an—matanya sudah berkaca-kaca.

“Alhamdulillah... Terima kasih banyak, dek.. Ibu belum makan dari pagi.. Kasian anak ibu..”

“Iya, bu.. Dimakan ya.. Maaf saya cuma bisa kasih segini.”

“Gak apa-apa, dek.. Segini aja kita juga udah seneng.”

Julia menatap Ghazy yang tersenyum tulus. Berpamitan pada kedua ibu tadi untuk mencari ke tempat lain.

Julia tidak bisa berkata-kata. Tak bisa berkomentar. Jantungnya berdegup menatap bahu lebar laki-laki itu dari belakang. Kagum dan... Jatuh hati.

Ghazy memang terlihat tidak peduli. Air mukanya selalu sama setiap saat kecuali sedang bersama teman-temannya. Baru tadi Julia melihat senyum Ghazy begitu tulus. Begitu sejuk dipandang sampai jantungnya berdetak dengan heboh.

Sesudah semua bungkus nasi itu habis, Ghazy memberhentikan motor di salah satu taman. Membeli cilok pada kakek-kakek yang keriputnya sudah memenuhi tangan dan wajahnya. Yang bahkan menuangkan bumbu kacang ke dalam plastik saja sudah pelan dan gemetar.

“Sini saya yang tuangin, Pak.” ucap Ghazy berinisiatif. Lagi-lagi Julia tersenyum kecil.

“Bapak jualan disini setiap hari?”

“Iya, mas. Kadang muter kalo taman belum rame.”

“Muter bawa gerobak ini, pak?”

“Iya, mas.”

“Berat ya, pak?”

“Ya lumayan, mas.. Udah tua juga..”

Julia melihat ke dalam panci cilok yang tersisa sebagian. Ghazy membeli 6 porsi.

“Pak, saya beli semuanya deh pak. Tadi kan temen saya beli 6 ya, itu pisahin aja, pak. Pokoknya abisin aja.”

“Seriusan, neng?” ucap penjual itu tidak percaya. Julia mengangguk dengan yakin.

“Iya, pak. Abisin aja semuanya.”

“Alhamdulillah... Makasih ya neng.. Semoga rezekinya dilancarkan oleh Gusti Allah..”

“Aamiin, pak, aamiin..”

Ghazy menatap Julia yang kebetulan juga sedang menoleh ke arahnya. Baru pada saat itu, Julia melihat senyuman yang selama ini disembunyikan oleh Ghazy.

“Pak, rumahnya dimana?”

“Di deket Pasar Tebet, mas.”

Ghazy menoleh pada Julia. “Lo bisa bawa motor kan?”

“Bisa.”

“Nanti boncengin bapaknya ya, biar gue yang dorong gerobaknya.”

—Ghazy Gayandra ©fromranxx


Kaki Julia melangkah mendekat ke arah laki-laki dengan kaos hitam dan celana denimnya, berdiri tegak di samping motor Scoopy keluaran terbarunya.

“Lama gak gue?”

Ghazy menggeleng. “Enggak.”

Julia menatap Ghazy, dan sebaliknya. Julia bingung Ghazy yang diam saja, dan Ghazy juga bingung Julia hanya menatapnua diam.

“Ini... Kita nunggu apa?”

“Helm,” Julia berkerut. “Helm lo mana, Julia?”

“Oh! Helm?!! Gak punya.”

“Kenapa gak bilang daritadi?”

“Ya gue bingung lo cuma ngeliatin gue kayak abis ngeliat setan gitu.” Julia melirik helm yang disangkutkan pada stang motor. Hanya satu. Besar pula.

“Harus pake helm emangnya?”

“Kalo lo mau kepala lo bocor ya gapapa.” ucap Ghazy membuat Julia merinding.

“IYA JANGANNN! AYO KITA CARI HELM, GHAZY, AYO CARII!!”

Ghazy diam-diam tersenyum di balik helmnya. Dia menyuruh Julia naik sebentar, membawanya ke rumah yang dia tinggali untuk mengambil satu helm cadangan.

Tak lama dia keluar dengan helm kecil berwarna putih yang memang di-desain untuk perempuan.

Dan bukan Julia namanya kalau tidak ada kelakuan anehnya. Dia struggle sendiri untuk memasang pengait helm di bawa dagu. Malah dia tarik ke atas ke bawah bahkan samping, bukannya dikaitkan.

Ghazy membuang napas, tangannya yang sudah memegang stang motor langsung ditarik kembali.

“Masa begini doang gak bisa,” ejeknya sambil memasukkan pengait helm Julia hingga berbunyi klik. “Lo gak pernah pake helm ya kalo naik motor?”

Julia menyengir. “Hehehe, tau aja ganteng.”

“Jangan kebiasaan.”

“Iya iyaa.”

Ghazy menjalankan motornya ke salah satu taman kota, berhenti di dekat warung nasi padang. Julia yang berpikir Ghazy ingin makan nasi padang hanya mengikuti dari belakang. Baru Julia melotot saat mendengar Ghazy memesan 15 bungkus nasi padang dengan lauk yang berbeda-beda.

“Ghazy, ngapain beli naspad sebanyak itu? Emang abis sama kita berlima?”

“Bukan buat kita, kok. Tapi lo mau?”

“Enggak gue tadi udah makan. Tapi buat siapa sebanyak itu?”

“Buat orang yang butuh, Julia.. Gak mungkin gue beli buat kita doang. Lagian di rumah Dion pasti udah banyak makanan, dan pastinya bukan nasi padang.”

“Gue kira buat kita semua..”

Setelah pesanannya selesai, Ghazy membayar semuanya dan meminta tolong Julia untuk memegangi bungkusan nasi padang di dalam tas belanja yang Ghazy bawa. Lalu mereka berkeliling daerah Tebet yang kata Ghazy, banyak orang-orang berkostum badut yang selalu duduk di pinggir jalan, juga beberapa tunawisma.

Ghazy berhenti di depan dua ibu-ibu dan satu anak kecil yang sedang duduk di pinggir jalan. Pakaian mereka kotor begitu juga tubuh mereka. Kurus dan kurang gizi, tidak sehat tapi tidak sakit.

“Ibu.. Ini saya ada nasi padang untuk makan,” Ghazy menghampiri, berlutut agar sejajar dengan kedua ibu-ibu di depannya. “Diterima ya, bu?”

Kedua ibu tadi langsung mengucap syukur dengan wajah terharu. Berkali-kali berterimakasih dan memegang tangan Ghazy dengan begitu erat. Bahkan ibu yang agak tua—sekitar 50an—matanya sudah berkaca-kaca.

“Alhamdulillah... Terima kasih banyak, dek.. Ibu belum makan dari pagi.. Kasian anak ibu..”

“Iya, bu.. Dimakan ya.. Maaf saya cuma bisa kasih segini.”

“Gak apa-apa, dek.. Segini aja kita juga udah seneng.”

Julia menatap Ghazy yang tersenyum tulus. Berpamitan pada kedua ibu tadi untuk mencari ke tempat lain.

Julia tidak bisa berkata-kata. Tak bisa berkomentar. Jantungnya berdegup menatap bahu lebar laki-laki itu dari belakang. Kagum dan... Jatuh hati.

Ghazy memang terlihat tidak peduli. Air mukanya selalu sama setiap saat kecuali sedang bersama teman-temannya. Baru tadi Julia melihat senyum Ghazy begitu tulus. Begitu sejuk dipandang sampai jantungnya berdetak dengan heboh.

Sesudah semua bungkus nasi itu habis, Ghazy memberhentikan motor di salah satu taman. Membeli cilok pada kakek-kakek yang keriputnya sudah memenuhi tangan dan wajahnya. Yang bahkan menuangkan bumbu kacang ke dalam plastik saja sudah pelan dan gemetar.

“Sini saya yang tuangin, Pak.” ucap Ghazy berinisiatif. Lagi-lagi Julia tersenyum kecil.

“Bapak jualan disini setiap hari?”

“Iya, mas. Kadang muter kalo taman belum rame.”

“Muter bawa gerobak ini, pak?”

“Iya, mas.”

“Berat ya, pak?”

“Ya lumayan, mas.. Udah tua juga..”

Julia melihat ke dalam panci cilok yang tersisa sebagian. Ghazy membeli 6 porsi.

“Pak, saya beli semuanya deh pak. Tadi kan temen saya beli 6 ya, itu pisahin aja, pak. Pokoknya abisin aja.”

“Seriusan, neng?” ucap penjual itu tidak percaya. Julia mengangguk dengan yakin.

“Iya, pak. Abisin aja semuanya.”

“Alhamdulillah... Makasih ya neng.. Semoga rezekinya dilancarkan oleh Gusti Allah..”

“Aamiin, pak, aamiin..”

Ghazy menatap Julia yang kebetulan juga sedang menoleh ke arahnya. Baru pada saat itu, Julia melihat senyuman yang selama ini disembunyikan oleh Ghazy.

“Pak, rumahnya dimana?”

“Di deket Pasar Tebet, mas.”

Ghazy menoleh pada Julia. “Lo bisa bawa motor kan?”

“Bisa.”

“Nanti boncengin bapaknya ya, biar gue yang dorong gerobaknya.”

—Ghazy Gayandra ©fromranxx


Kaki Julia melangkah mendekat ke arah laki-laki dengan kaos hitam dan celana denimnya, berdiri tegak di samping motor Scoopy keluaran terbarunya.

“Lama gak gue?”

Ghazy menggeleng. “Enggak.”

Julia menatap Ghazy, dan sebaliknya. Julia bingung Ghazy yang diam saja, dan Ghazy juga bingung Julia hanya menatapnua diam.

“Ini... Kita nunggu apa?”

“Helm,” Julia berkerut. “Helm lo mana, Julia?”

“Oh! Helm?!! Gak punya.”

“Kenapa gak bilang daritadi?”

“Ya gue bingung lo cuma ngeliatin gue kayak abis ngeliat setan gitu.” Julia melirik helm yang disangkutkan pada stang motor. Hanya satu. Besar pula.

“Harus pake helm emangnya?”

“Kalo lo mau kepala lo bocor ya gapapa.” ucap Ghazy membuat Julia merinding.

“IYA JANGANNN! AYO KITA CARI HELM, GHAZY, AYO CARII!!”

Ghazy diam-diam tersenyum di balik helmnya. Dia menyuruh Julia naik sebentar, membawanya ke rumah yang dia tinggali untuk mengambil satu helm cadangan.

Tak lama dia keluar dengan helm kecil berwarna putih yang memang di-desain untuk perempuan.

Dan bukan Julia namanya kalau tidak ada kelakuan anehnya. Dia struggle sendiri untuk memasang pengait helm di bawa dagu. Malah dia tarik ke atas ke bawah bahkan samping, bukannya dikaitkan.

Ghazy membuang napas, tangannya yang sudah memegang stang motor langsung ditarik kembali.

“Masa begini doang gak bisa,” ejeknya sambil memasukkan pengait helm Julia hingga berbunyi klik. “Lo gak pernah pake helm ya kalo naik motor?”

Julia menyengir. “Hehehe, tau aja ganteng.”

“Jangan kebiasaan.”

“Iya iyaa.”

Ghazy menjalankan motornya ke salah satu taman kota, berhenti di dekat warung nasi padang. Julia yang berpikir Ghazy ingin makan nasi padang hanya mengikuti dari belakang. Baru Julia melotot saat mendengar Ghazy memesan 15 bungkus nasi padang dengan lauk yang berbeda-beda.

“Ghazy, ngapain beli naspad sebanyak itu? Emang abis sama kita berlima?”

“Bukan buat kita, kok. Tapi lo mau?”

“Enggak gue tadi udah makan. Tapi buat siapa sebanyak itu?”

“Buat orang yang butuh, Julia.. Gak mungkin gue beli buat kita doang. Lagian di rumah Dion pasti udah banyak makanan, dan pastinya bukan nasi padang.”

“Gue kira buat kita semua..”

Setelah pesanannya selesai, Ghazy membayar semuanya dan meminta tolong Julia untuk memegangi bungkusan nasi padang di dalam tas belanja yang Ghazy bawa. Lalu mereka berkeliling daerah Tebet yang kata Ghazy, banyak orang-orang berkostum badut yang selalu duduk di pinggir jalan, juga beberapa tunawisma.

Ghazy berhenti di depan dua ibu-ibu dan satu anak kecil yang sedang duduk di pinggir jalan. Pakaian mereka kotor begitu juga tubuh mereka. Kurus dan kurang gizi, tidak sehat tapi tidak sakit.

“Ibu.. Ini saya ada nasi padang untuk makan,” Ghazy menghampiri, berlutut agar sejajar dengan kedua ibu-ibu di depannya. “Diterima ya, bu?”

Kedua ibu tadi langsung mengucap syukur dengan wajah terharu. Berkali-kali berterimakasih dan memegang tangan Ghazy dengan begitu erat. Bahkan ibu yang agak tua—sekitar 50an—matanya sudah berkaca-kaca.

“Alhamdulillah... Terima kasih banyak, dek.. Ibu belum makan dari pagi.. Kasian anak ibu..”

“Iya, bu.. Dimakan ya.. Maaf saya cuma bisa kasih segini.”

“Gak apa-apa, dek.. Segini aja kita juga udah seneng.”

Julia menatap Ghazy yang tersenyum tulus. Berpamitan pada kedua ibu tadi untuk mencari ke tempat lain.

Julia tidak bisa berkata-kata. Tak bisa berkomentar. Jantungnya berdegup menatap bahu lebar laki-laki itu dari belakang. Kagum dan... Jatuh hati.

Ghazy memang terlihat tidak peduli. Air mukanya selalu sama setiap saat kecuali sedang bersama teman-temannya. Baru tadi Julia melihat senyum Ghazy begitu tulus. Begitu sejuk dipandang sampai jantungnya berdetak dengan heboh.

Sesudah semua bungkus nasi itu habis, Ghazy memberhentikan motor di salah satu taman. Membeli cilok pada kakek-kakek yang keriputnya sudah memenuhi tangan dan wajahnya. Yang bahkan menuangkan bumbu kacang ke dalam plastik saja sudah pelan dan gemetar.

“Sini saya yang tuangin, Pak.” ucap Ghazy berinisiatif. Lagi-lagi Julia tersenyum kecil.

“Bapak jualan disini setiap hari?”

“Iya, mas. Kadang muter kalo taman belum rame.”

“Muter bawa gerobak ini, pak?”

“Iya, mas.”

“Berat ya, pak?”

“Ya lumayan, mas.. Udah tua juga..”

Julia melihat ke dalam panci cilok yang tersisa sebagian. Ghazy membeli 6 porsi.

“Pak, saya beli semuanya deh pak. Tadi kan temen saya beli 6 ya, itu pisahin aja, pak. Pokoknya abisin aja.”

“Seriusan, neng?” ucap penjual itu tidak percaya. Julia mengangguk dengan yakin.

“Iya, pak. Abisin aja semuanya.”

“Alhamdulillah... Makasih ya neng.. Semoga rezekinya dilancarkan oleh Gusti Allah..”

“Aamiin, pak, aamiin..”

Ghazy menatap Julia yang kebetulan juga sedang menoleh ke arahnya. Baru pada saat itu, Julia melihat senyuman yang selama ini disembunyikan oleh Ghazy.

“Pak, rumahnya dimana?”

“Di deket


Kaki Julia melangkah mendekat ke arah laki-laki dengan kaos hitam dan celana denimnya, berdiri tegak di samping motor Scoopy keluaran terbarunya.

“Lama gak gue?”

Ghazy menggeleng. “Enggak.”

Julia menatap Ghazy, dan sebaliknya. Julia bingung Ghazy yang diam saja, dan Ghazy juga bingung Julia hanya menatapnua diam.

“Ini... Kita nunggu apa?”

“Helm,” Julia berkerut. “Helm lo mana, Julia?”

“Oh! Helm?!! Gak punya.”

“Kenapa gak bilang daritadi?”

“Ya gue bingung lo cuma ngeliatin gue kayak abis ngeliat setan gitu.” Julia melirik helm yang disangkutkan pada stang motor. Hanya satu. Besar pula.

“Harus pake helm emangnya?”

“Kalo lo mau kepala lo bocor ya gapapa.” ucap Ghazy membuat Julia merinding.

“IYA JANGANNN! AYO KITA CARI HELM, GHAZY, AYO CARII!!”

Ghazy diam-diam tersenyum di balik helmnya. Dia menyuruh Julia naik sebentar, membawanya ke rumah yang dia tinggali untuk mengambil satu helm cadangan.

Tak lama dia keluar dengan helm kecil berwarna putih yang memang di-desain untuk perempuan.

Dan bukan Julia namanya kalau tidak ada kelakuan anehnya. Dia struggle sendiri untuk memasang pengait helm di bawa dagu. Malah dia tarik ke atas ke bawah bahkan samping, bukannya dikaitkan.

Ghazy membuang napas, tangannya yang sudah memegang stang motor langsung ditarik kembali.

“Masa begini doang gak bisa,” ejeknya sambil memasukkan pengait helm Julia hingga berbunyi klik. “Lo gak pernah pake helm ya kalo naik motor?”

Julia menyengir. “Hehehe, tau aja ganteng.”

“Jangan kebiasaan.”

“Iya iyaa.”


Julia meremas ujung kaos oversized-nya dengan gugup. Berdiri di balik pintu terkunci yang menghubungkannya dengan teras rumah. Setelah izin dengan Ibunya untuk pergi makan siang dengan tetangga barunya, dia memberanikan diri untuk membuka pintu.

Pintu dibuka perlahan, Julia memasang sendal selop kesayangannya dan berjalan maju sembari menatap ke bawah. Baru saat ditariknya napas yang dalam, dia memberanikan diri menegakkan kepalanya untuk melihat laki-laki yang sebenarnya sudah dia ketahui keberadaannya sejak tadi.

Dengan rambut hitam legam dan kaos putih polos, laki-laki itu menatap ke bawah. “Lo Ghazy, ya?” panggil Julia pelan membuat Sang pemilik nama menoleh. Julia otomatis membatin, “GANTENG BENER”

Ghazy terdiam dalam tiga detik pertama, lalu mengangguk kecil. Julia berdeham kecil, menghilangkan gugup. “Jadi, pecel ayamnya di sebelah mana?”

“Ada di depan sana. Kalo jalan kaki aja, lo gapapa?”

Tawa kecil lolos dari bibir Julia. “Ya gapapa, lah. Yaudah ayo.”

Ghazy memimpin jalan, membuat Julia berjalan pada sisi dalam dan dia di sisi luar. Dua kali menarik Julia saat hampir tersandung batu, dan dua kali juga jantung Julia berdetak dengan cara yang paling lebay. Tak lama mereka sampai di tukang pecel ayam yang lumayan sepi hari itu. Ghazy menanyakan Julia ayam bagian mana yang dia suka dan dijawab dengan paha atas.

Julia menatap Ghazy yang sekarang sedang memainkan ponselnya. “Lo gak nyaman ya sama gue?” pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari mulut Julia.

Ghazy berhenti menatap ponselnya. Menggeleng. “Enggak. Biasa aja.”

“Sorry ya, karena gue maksa buat ngasih lo makanan jadinya lo terpaksa makan berdua sama gue gini.”

Alis tebal Ghazy mengkerut. “Kata siapa gue terpaksa?”

“Y- ya.. Kata gue.” ucap Julia ragu. Takut salah ngomong.

“Gue gak terpaksa. Kan gue yang ngajak lo.”

“Iya, sih...” Julia mengelus tengkuknya. Salah tingkah.

Tadinya ingin membuat Ghazy mengobrol dengannya tanpa melihat ponsel, tapi giliran Ghazy memusatkan seluruh perhatiannya pada Julia, dia jadi heboh sendiri.

Beruntung, makanan pesanan mereka datang. Usai mencuci tangan, mereka pun mulai makan.

“Lo makan ayam dari kulitnya duluan?!” tanya Julia heboh melihat Ghazy melahap kulit garing dari pecel ayam dengan santai. Lagaknya sudah seperti melihat adegan pembunuhan di depan mata.

Ghazy mengangguk. “LO DARI SEKTE MANA?!” ucap Julia lagi.

“Justru enak kali kalo makan kulit dulu.”

“Idih! Daging dulu lah! Kulit tuh disisihin untuk suapan terakhir.” ucap Julia tak mau kalah.

“Justru yang gak enak tuh belakangan. Biar kalo suapan pertama enak tuh kebayangnya makanan itu enak sampe suapan terakhir.”

Julia membuang napas kasar. Lalu merubah ekspresinya menjadi dramatis. “Ghazy..” panggilnya dengan nada tak kalah drama. Ghazy terdiam, menatap Julia aneh.

“Ghazy... Gue tau kita baru ketemu hari ini. Tapi kayaknya kita gak bisa lanjut deh.. Aliran kita beda, Ghazy..” layaknya pemain sinetron yang tersakiti, begitulah Julia berbicara.

Ghazy menggelengkan kepalanya pelan. Tak percaya kalau dia baru saja berdebat masalah kulit ayam. Dan lebih tidak percaya dia melihat sisi dramatis dari tetangga barunya itu.

“Yaudah kalo gak bisa—”

“KOK GITU?!” refleks Julia berteriak. Tak terima candaannya dianggap serius.

Gila aja, masa dia harus kehilangan teman ganteng seperti Ghazy hanya karena kulit ayam?!

“Kata lo gak bisa lanjut?”

“Bercanda, Ganteng, astaga!”

“Iya tau,” Ghazy lalu melihat ke arah piring Julia yang baru tersentuh satu suapan karena mulut Julia lebih sibuk berbicara dari pada mengunyah. “Makan, nanti nasinya nangis.”

“Lebay. Kayak gue anak kecil aja.” protes Julia yang dibalas senyuman kecil dari Ghazy.

Lalu acara makan siang itu diisi dengan obrolan dan candaan yang kerap dilontarkan Julia hanya untuk membuat Ghazy tersenyum meski hanya sedikit.

Keduanya menikmati pecel ayam dan es teh manis di bawah tenda pinggir kota itu tanpa tahu kalau pertemuan tersebut merupakan awal kisah yang tidak ada yang tahu akhirnya akan seperti apa.


— Ghazy Gayandra ©fromranxx