Pecel Ayam dan Es Teh


Julia meremas ujung kaos oversized-nya dengan gugup. Berdiri di balik pintu terkunci yang menghubungkannya dengan teras rumah. Setelah izin dengan Ibunya untuk pergi makan siang dengan tetangga barunya, dia memberanikan diri untuk membuka pintu.

Pintu dibuka perlahan, Julia memasang sendal selop kesayangannya dan berjalan maju sembari menatap ke bawah. Baru saat ditariknya napas yang dalam, dia memberanikan diri menegakkan kepalanya untuk melihat laki-laki yang sebenarnya sudah dia ketahui keberadaannya sejak tadi.

Dengan rambut hitam legam dan kaos putih polos, laki-laki itu menatap ke bawah. “Lo Ghazy, ya?” panggil Julia pelan membuat Sang pemilik nama menoleh. Julia otomatis membatin, “GANTENG BENER”

Ghazy terdiam dalam tiga detik pertama, lalu mengangguk kecil. Julia berdeham kecil, menghilangkan gugup. “Jadi, pecel ayamnya di sebelah mana?”

“Ada di depan sana. Kalo jalan kaki aja, lo gapapa?”

Tawa kecil lolos dari bibir Julia. “Ya gapapa, lah. Yaudah ayo.”

Ghazy memimpin jalan, membuat Julia berjalan pada sisi dalam dan dia di sisi luar. Dua kali menarik Julia saat hampir tersandung batu, dan dua kali juga jantung Julia berdetak dengan cara yang paling lebay. Tak lama mereka sampai di tukang pecel ayam yang lumayan sepi hari itu. Ghazy menanyakan Julia ayam bagian mana yang dia suka dan dijawab dengan paha atas.

Julia menatap Ghazy yang sekarang sedang memainkan ponselnya. “Lo gak nyaman ya sama gue?” pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari mulut Julia.

Ghazy berhenti menatap ponselnya. Menggeleng. “Enggak. Biasa aja.”

“Sorry ya, karena gue maksa buat ngasih lo makanan jadinya lo terpaksa makan berdua sama gue gini.”

Alis tebal Ghazy mengkerut. “Kata siapa gue terpaksa?”

“Y- ya.. Kata gue.” ucap Julia ragu. Takut salah ngomong.

“Gue gak terpaksa. Kan gue yang ngajak lo.”

“Iya, sih...” Julia mengelus tengkuknya. Salah tingkah.

Tadinya ingin membuat Ghazy mengobrol dengannya tanpa melihat ponsel, tapi giliran Ghazy memusatkan seluruh perhatiannya pada Julia, dia jadi heboh sendiri.

Beruntung, makanan pesanan mereka datang. Usai mencuci tangan, mereka pun mulai makan.

“Lo makan ayam dari kulitnya duluan?!” tanya Julia heboh melihat Ghazy melahap kulit garing dari pecel ayam dengan santai. Lagaknya sudah seperti melihat adegan pembunuhan di depan mata.

Ghazy mengangguk. “LO DARI SEKTE MANA?!” ucap Julia lagi.

“Justru enak kali kalo makan kulit dulu.”

“Idih! Daging dulu lah! Kulit tuh disisihin untuk suapan terakhir.” ucap Julia tak mau kalah.

“Justru yang gak enak tuh belakangan. Biar kalo suapan pertama enak tuh kebayangnya makanan itu enak sampe suapan terakhir.”

Julia membuang napas kasar. Lalu merubah ekspresinya menjadi dramatis. “Ghazy..” panggilnya dengan nada tak kalah drama. Ghazy terdiam, menatap Julia aneh.

“Ghazy... Gue tau kita baru ketemu hari ini. Tapi kayaknya kita gak bisa lanjut deh.. Aliran kita beda, Ghazy..” layaknya pemain sinetron yang tersakiti, begitulah Julia berbicara.

Ghazy menggelengkan kepalanya pelan. Tak percaya kalau dia baru saja berdebat masalah kulit ayam. Dan lebih tidak percaya dia melihat sisi dramatis dari tetangga barunya itu.

“Yaudah kalo gak bisa—”

“KOK GITU?!” refleks Julia berteriak. Tak terima candaannya dianggap serius.

Gila aja, masa dia harus kehilangan teman ganteng seperti Ghazy hanya karena kulit ayam?!

“Kata lo gak bisa lanjut?”

“Bercanda, Ganteng, astaga!”

“Iya tau,” Ghazy lalu melihat ke arah piring Julia yang baru tersentuh satu suapan karena mulut Julia lebih sibuk berbicara dari pada mengunyah. “Makan, nanti nasinya nangis.”

“Lebay. Kayak gue anak kecil aja.” protes Julia yang dibalas senyuman kecil dari Ghazy.

Lalu acara makan siang itu diisi dengan obrolan dan candaan yang kerap dilontarkan Julia hanya untuk membuat Ghazy tersenyum meski hanya sedikit.

Keduanya menikmati pecel ayam dan es teh manis di bawah tenda pinggir kota itu tanpa tahu kalau pertemuan tersebut merupakan awal kisah yang tidak ada yang tahu akhirnya akan seperti apa.


— Ghazy Gayandra ©fromranxx