Pejuang
Ghazy Gayandra.
Kalau dicari di internet, nama Ghazy berarti pejuang. Tapi selama 19 tahun gue hidup, belum pernah gue mengerti apa yang dimaksud pejuang. Dilihat dari sisi manapun belum ada bagian hidup gue yang berjuang. Baik untuk orang lain atau diri gue sendiri.
Dulu waktu kecil gue dipukul Papa karena bawa pulang kucing kecil tanpa induk yang gue temuin sewaktu ke pasar. Waktu itu gue terlalu takut untuk melawan dan berujung malah ngeliat kucing itu di buang ke semak-semak sama Papa, yang waktu gue tengok dua hari setelahnya, udah berubah jadi bangkai kaku yang langsung gue kubur dengan tangisan anak kecil umur 6 tahun.
Dari kejadian itu, gue yakin itu permulaan dimana gue gagal merealisasikan nama Ghazy. Gue gagal berjuang supaya kucing itu gue pelihara atau seenggaknya— selamat. Hidup.
Setelah itu, gue selalu hidup dengan segala kritik dan kata-kata kasar dari Papa. Beliau kaya, cerdas, dan cekatan. Ciri-ciri sempurna untuk seorang pemimpin perusahaan sukses. Dan oleh karena itu gue, yang gak bisa mengikuti jejaknya, dianggap anak pembawa sial.
Pernah juga suatu ketika, gue gak sempat izin bawa temen perempuan ke rumah untuk kerja kelompok yang tugasnya harus dikumpul hari berikutnya. Gue datang dan duduk di ruang tamu untuk menyelesaikan tugas, di sebelah dia yang sikapnya baik dan gak macem-macem. Mama bilang, temen gue baik banget dan sopan, sampai dibikinin sup ayam untuk makan malam sebelum pulang.
Saat Papa pulang malamnya, beliau marah besar karena lihat sepatu asing yang ditaruh di depan pintu masuk. Teman gue yang tadinya lagi bantu Mama untuk nata meja makan, kaget sampai nangis waktu Papa bentak dia. Gue sampai sekarang gak habis pikir kalau ingat kejadian itu, otak gue gak sampai dengan pikiran Papa yang marah ke temen gue hanya karena dia anak dari keluarga yang menurut Papa— miskin.
Sejak itu, gue bener-bener merasa gak enak sama temen gue itu dan memilih untuk menjauh perlahan dari temen-temen gue yang lain. Gue enggan bawa mereka ke rumah gue karena gue bahkan masih marah dan gemeteran setiap keinget raut wajah temen gue yang juga gemetar ketakutan karena Papa mengusirnya dengan cara paling kasar buatnya.
Puncak gue merasa nama Ghazy gak pantes buat gue yaitu saat gue diam di belakang pintu kamar gue setiap lihat Mama disiksa Papa. Hati gue ingin menolong, gue juga pernah coba untuk keluar dan berhentiin perlakuan Papa ke Mama tapi yang ada kepala gue malah bocor. Sejak saat itu, Mama malah end up ngancem gue untuk gak pernah keluar kamar dan nolongin beliau kalau Papa lagi kumat emosinya.
Sampai tiba suatu ketika gue pulang sekolah dengan lihat pintu rumah kebuka lebar dan nemuin Papa yang ngerokok di ruang tamu. Rumah udah kayak kapal pecah. Gue tanya, “Mama kemana, Pa?” dan Papa bilang Mama pergi.
Gue, anak umur 15 tahun, keluar setelah naruh tas gue sembarangan untuk nyusul Mama yang gue sendiri gak tau pergi kemana. Gue cuma ikut kata hati dan bener-bener mengandalkan feeling dengan harapan ketemu Mama yang belum jauh.
Di pinggir jalan dekat halte, gue liat ada kerumunan orang yang menyebabkan jalanan sedikit terhambat. Dengan perasaan was-was gue mendekat ke arah kerumunan dan berhasil masuk ke antara orang-orang dewasa itu, lalu mendapati yang berbaring dengan darah dari kepala dan beberapa anggota tubuh tersebut adalah Mama.
Mama lalu koma berbulan-bulan, dengan harapan hidup yang bahkan dokter pun gak bisa menjanjikan apapun. Gue jaga Mama sendiri, sesekali dibantu oleh Bu Sarah, tetangga gue yang hidup sebatang kara. Terkadang Mama suka kasih makanan ke beliau, makanya beliau dengan ikhlas bantu untuk merawat Mama.
Papa?
Bahkan gue gak peduli beliau dimana. Karena faktanya, beliau bahkan cuma datang sesekali untuk bayar tagihan rumah sakit Mama.
Mama sadar sekitar 4 bulan setelahnya. Dengan fakta pahit yang harus gue terima, bahwa Mama menderita penyakit Alzheimer. Mama memang berjuang dari sakit yang disebabkan tabrak lari itu, tapi Mama justru menderita penyakit yang membuatnya terkadang gak bisa menyebut nama gue lagi.
Seakan kesadaran Mama diselebrasikan oleh Papa, beliau justru membuat pesta pernikahan privat untuk dirinya dan perempuan yang selama ini disembunyikannya. Perempuan licik dengan seorang anak hasil perzinaan mereka 15 tahun lalu.
Alina.
Nama anak perempuan yang sifatnya gak jauh beda dari ibunya, licik dan menjijikan. Anak dari perempuan yang merenggut kebahagiaan dan keluarga gue.
Sejak itu, gue meminta pada Papa agar gue bisa keluar dari rumah. Gue gak sudi satu atap dengan orang-orang brengsek seperti mereka. Dengan senang hati beliau membelikan gue rumah di cluster tempat gue tinggal sekarang. Sesekali beliau berkunjung, hanya formalitas pada tetangga cluster gue agar terlihat masih memiliki keluarga.
Mama.. Gue titipkan pada Bu Sarah di sebuah rumah kecil di puncak yang tempatnya tenang, hijau, dan jauh dari perkotaan. Dengan rutin memanggil dokter untuk check up dan rutin mengonsumsi obat.
Semua beban gue ini, hanya gue simpan untuk pribadi. Gue enggan membaginya pada siapapun termasuk pada Dion, Harkan, Juan, apalagi Julia. Mereka udah lelah dengan dunia dan masalah mereka sendiri, kan? Gue gak mau menambah beban orang.
Alina, si perempuan gila itu, setahun lalu menyatakan dengan percaya diri kalau dia suka sama gue. Sebagai pria. Yang mana merupakan mimpi buruk bagi gue, juga terlarang. Gue liat mukanya aja muak, apalagi berpikir untuk suka sama perempuan kayak dia?
Bisa dibilang, setelah gue kenal Julia, pastinya Julia beribu-ribu kali lebih baik daripada Alina. Begitu baik sampai gue takut jatuh cinta. Takut kalau dia kecewa dan sakit hati dengan fakta bahwa gue gak bisa bersatu dengan dia karena banyaknya ketakutan di kepala gue.
Karena bagi gue, jatuh cinta itu menakutkan. Dan lebih menakutkan lagi, jika gue gagal berjuang untuk orang itu. Karena nama hanyalah nama, gue gak bisa merealisasikan arti pejuang di nama gue. Gue gak mau kalau Julia menjadi korban kegagalan gue dalam berjuang.
Di atas merupakan alasan kenapa Ghazy Gayandra selalu terlihat sibuk dengan dunianya sendiri. Karena gue terlalu tenggelam di dalamnya, gak mau siapapun masuk tanpa izin. Ghazy diciptakan untuk sendiri dan selamanya selalu begitu.