The King and His Moon


“Lu mau kemana, anjir?” tanya Nathan sambil menahan tangan Raja yang tiba-tiba berdiri dari tempatnya. Ares yang juga ikut melihat di layar laptopnya memperhatikan dengan heran.

“Ketemu Lunar,” jawab Raja. Dia mengambil jaketnya yang digantung dekat tangga dan memasukkan ponselnya ke kantong. “Kata Gata dia pergi dari rumah, diem di taman rafles. Dia lagi gak mau ngomong sama Gata jadi gue yang samperin buat nyuruh pulang.”

“Ngapain, anjir? Dia kan gak mau ngomong sama Gata, kenapa jadi lo yang bujuk?”

“Ya dia cewek gue, Nat? Masa masih nanya juga?”

“Tapi kan—”

“Mau dia salah atau enggak, kita lagi ada masalah atau enggak, ya dia tetep cewek gue. Intinya gue keluar dulu, lo kalo mau makan atau apa ambil aja di dapur.” Raja langsung berjalan tanpa mengindahkan panggilan Nathan.

“Kemana dia, Nat?” tanya Ares yang kurang jelas mendengar percakapan mereka dari seberang sana. Nathan kemudian menatap layar laptop Raja dan menaikkan bahu. “Taman Raflessia nemuin Lunar. Biarin aja dah.”

Terdengar helaan napas Ares. “Semoga pulang-pulang udah baikan, deh.” Nathan mengangguk setuju. Tampaknya bukan hanya dia yang tidak suka kondisi panas seperti ini.


Raja memakirkan motornya di salah satu warkop dekat Taman Rafflesia, taman yang sering dijadikan tempat mereka main ayunan untuk mengenang masa lalu. Tadi Gata bilang dia berdiam di warkop sambil melihat ke arah Lunar yang sekarang sedang duduk di bangku panjang.

Gata keluar dari warung kopi itu untuk menemui Raja. Geraknya canggung, merasa bersalah usai keributan yang dibuatnya tadi. Raja menatap Gata malas. “Lo pulang aja sana,” suruhnya pada Gata.

“Gak usah, gue disini sampe lo sama Lunar pulang.” Raja langsung memutar bola matanya dan membuang napas kasar.

“Buat apa? Buat ikut campur lagi?”

Gata buru-buru menggeleng. “Bukan gitu, Ja, tapi maksudnya biar gue bisa mastiin Lunar baik-baik aja.”

Sanggahan Gata tidak membuat Raja menjadi lebih tenang. Menurutnya tetap saja menyinggung perasaannya. “Jadi lo gak percaya kalo gue yang jagain Lunar? Yaelah, Ta, gue juga gak bego, gue bisa jagain Lunar tanpa lo awasin. Gue bisa bawa dia pulang tanpa lecet sedikitpun, gue bisa mastiin dia baik-baik aja sebelum pulang. Gak usah ngeraguin gue gitu, lah.” Raja menatap Gata tajam.

Sudah merasa kalah dan salah, Gata akhirnya mengangguk pelan. “Oke, gue serahin Lunar ke lu. Maafin gue yang tadi, Ja.”

“Masalah itu kita bahas lain waktu. Mendingan lo cepet pulang atau gue yang pulang,” ancam Raja karena menurutnya Gata terlalu banyak omong.

Usai melihat Gata pergi dengan motor vespa kesayangannya, dia berjalan ke arah Lunar setelah menitipkan motornya pada penjaga warkop dengan mengiming-imingi akan membayar biaya parkir.

Sebenarnya dia sedikit ragu, takut mulutnya sewaktu-waktu akan mengeluarkan kalimat yang semakin menyakiti Lunar. Karena jujur, walaupun dia juga lelah dengan keadaan seperti ini, dia yakin Lunar juga sama lelahnya. Tapi Raja memberanikan diri untuk tetap melangkah, mencopot jaket di sela langkahnya, lalu menyampirkan di kedua pundak Lunar yang tampak meringkuk karena udara jam 11 malam.

Lunar terlonjak, matanya melotot melihat Raja yang dia kira orang asing yang ingin iseng. Walaupun matanya buram karena air mata, dia tau persis itu Raja dari harum jaketnya.

“Jangan kebiasaan sendirian malem-malem, kalo gak ada gue nanti lo diapa-apain gimana?” tanya Raja pelan lalu mengambil tempat kosong di sebelah Lunar.

Lunar masih bungkam, tidak menyangka Raja akan muncul di hadapannya di saat seperti ini. “Lain kali kalo emosi, tetep di rumah aja, jangan keluar. Selain karena gue khawatir, kembaran lo juga rese uring-uringan, ngerepotin tau.”

“Ja, gue pacar yang gak becus ya?” tanya Lunar tanpa membalas perkataan Raja. Yang menyelimuti pikirannya hanya rasa bersalah pada Raja.

“Kenapa bilang begitu?” tanya Raja balik. Kini dia menatap Lunar yang pipinya basah karena air mata. Tangannya terangkat untuk menghapus air mata yang jatuh.

“Yang lo bilang tadi di grup, pacaran sama gue akhir-akhir ini gak ada benefitnya. Gue gak becus ya, Ja, jadi pacar lo? Harusnya kita gak jadian ya?”

“Enak aja, lo! Gue udah ngeluarin tenaga buat nembak lo pake nyogok tukang bubur, masa putus?” balas Raja berusaha mencairkan suasana yang mulai serius.

“Gak putus maksud gue.. tapi harusnya dari awal kita gak jadian. Soalnya gue cuma mentingin diri sendiri dan lupa sama lo.”

Raja menarik tangan kanan Lunar untuk dia genggam. Berniat ingin masuk ke topik serius yang memang harus dibicarakan malam ini juga. “Disini kita berdua sama-sama salah, Lun, sama-sama gak becus juga. Impas. Gak ada yang paling salah dan paling bener. Kita sama-sama egois dan gak ada yang mau ngalah. Mungkin emang karena keadaan yang lagi gak adil buat kita jadinya sama-sama capek dan gak ada yang dingin.” Raja memulai pembahasannya.

“Jujur, sebulanan ini agak berat buat gue karena gue lagi ditinggal Bunda ke Bandung. Nenek sakit, Lun, harus operasi dan Bunda harus bolak-balik buat ngurus ini itu. Gue gak mau ngerepotin Nathan atau Gata buat nginep atau numpang nginep, Ares gak mungkin, Karin apalagi, jadi satu-satunya jalan keluar cuma gue yang harus ngelawan rasa takut gue. Sebenernya, gue emang butuh lo banget, tapi karena lonya juga lagi sibuk, yaudah gue ngandelin diri sendiri. Eh, tapi berhasil loh? Gue udah bisa di rumah sendirian tanpa sesek?” ucap Raja panjang lebar ditutup dengan rasa bangganya.

Mendengar itu perasaan Lunar campur aduk. Rasa bersalah semakin besar dicampur rasa senang karena trauma Raja perlahan berhasil dihilangkan.

“Gue udah baik-baik aja, giliran lo dong, lo cerita selama sibuk lo gimana aja. Lagi mikirin sesuatu gak?”

Lunar menumpuk tangan kirinya di atas kedua tangan Raja, memainkan jari-jari panjangnya. “Gue ngerasa kayak dikejar banget, Ja. Ayah tuh gak bolehin gue les buat utbk walaupun mampu, lebih dari mampu malah. Tau gak karena apa? Karena katanya Ayah mau liat kemampuan gue kalo pake usaha sendiri kayak gimana. Jadi gue beneran ngandelin diri sendiri, langganan bimbel online sebisa gue, belajar dari awal tanpa ada tutor sama sekali. Padahal gue mau tutor privat yang bisa ajarin gue secara intensif gitu, tapi sama Ayah gak boleh. Ibaratnya gue dikasih challenge yang bahkan gue sendiri gak paham gimana cara jalaninnya.”

Air mata Lunar kembali turun. Hal berat yang selama ini tidak dia beritahu pada Raja karena pikirnya Raja tidak akan peduli akhirnya keluar juga.

“Gue bingung juga, Ja, kenapa Gata kok gak disuruh belajar utbk juga? Kenapa dia sering pergi bawa tas? Gue sempet mikir masa iya dia dikasih les sedangkan gue enggak? Gue ngerasa sesek sendiri, sebel juga sama Gata karena dia gak ada buat gue padahal kita biasanya sharing pressure yang sama. Seakan-akan hidup Gata kayak lebih enak dari gue, apalagi semenjak jadian, dia lebih sering sama Karin dibanding gue. Gue kayak ditinggal sama semua orang, Ja.” Lunar menjelaskan kalimat panjang itu dengan sedikit tersendat-sendat.

Kali ini air matanya tumpah ruah, seluruh beban yang ditahannya dalam-dalam terasa keluar dari rongga tubuhnya perlahan. Tidak hilang, tapi ringan. Keadaan Lunar yang terlihat hancur membuat Raja membawa Lunar ke dekapannya. Memeluknya erat, mengatakan kata maaf berulang kali.

“Maaf, Lun, maaf gue gak coba nanya keadaan lo. Harusnya gue sadar ada yang aneh, tapi gue malah ngatain ambisi lo terlalu besar.” Lunar menggeleng di pelukan Raja. “Ambisi gue emang besar, Ja, gue gak mau kalah di depan Ayah. Makanya gue berusaha keras sampe gak sadar bikin lo terlantar gini. Harusnya gue seimbangin porsi belajar dan sosial gue, bukannya malah kayak gini.”

“Gapapa, sekarang yang penting kita sama-sama udah ngerti keadaan masing-masing. Kedepannya kita harus lebih sering komunikasi, ya, Lun?”

“Lain kali kalo gue terlalu fokus tolong ingetin gue ya, Ja? Gapapa omelin aja, gue juga capek sebenernya tapi gak ngerti caranya berenti. Rasanya kalo belajar tuh kayak masih aja kurang ngerti dan kurang paham, jadinya lanjut tanpa inget waktu.”

Raja lalu melepas pelukannya untuk menjitak kepala Lunar. “Makanya jangan kepinteran.”

“Ihh!! Sakit!” rengek Lunar. Raja terkekeh dan mengelus bekas jitakannya tadi.

“Kata Bunda, gue salah karena gue narik tangan lo pas lo lagi lari kenceng. Kalo gitu gue tanya dulu, lo mau gue ikut lari kenceng di sebelah lo, atau lo mau jalan pelan-pelan di sebelah gue?”

“Gue mau jalan aja, Ja. Gue capek lari. Karena kadang hidup tetep gak adil mau gue lari sekenceng apapun. Sekarang gue mau jalan, gapapa ketinggalan asalkan ada lo di samping gue.”