4 tahun yang lalu
“Ayah, Raja mau ikut jemput Bunda,” rengek Raja yang waktu itu masih berusia 13 tahun pada sang Ayah.
Malam itu pukul 8 malam, Renjana sedang pergi bersama teman-temannya dan baru selesai acara pukul 8.30 nanti. Kalingga—Ayah Raja, berinisiatif menjemput 30 menit lebih awal agar tidak terjebak macet Ibu kota. Kalingga menunduk, mendapati anak semata wayangnya yang duduk menarik ujung bajunya dengan tatapan membujuk.
Kalingga terkekeh, menaruh dompet yang baru ingin dimasukkannya ke tas kecil yang dipakainya hanya untuk menangkup kedua pipi Raja. “Ayah mau berduaan sama Bunda dulu, kamu di rumah aja ya, Ganteng,” ucapnya tersenyum kecil.
Tentu Raja semakin merengek. “Pacaran mulu!! Raja juga mau ikuttt!!”
“Kalau kamu ikut nanti yang jaga rumah siapa? Udah kamu di rumah aja, paling jam 10 Ayah sama Bunda udah sampai rumah. Oke?”
Dengan bibir cemberut, Raja terpaksa mengangguk dengan syarat ingin dibelikan es krim coklat kesukaannya. Sebelum Kalingga masuk ke dalam mobil, tiba-tiba dia berbalik menatap Raja. “Jadi pemberani ya, anak ayah?”
Kalimat tiba-tiba itu membuat dahi Raja berkerut. “Apa sih, Yah?”
“Raja harus tumbuh jadi orang pemberani.”
“Pemberaninya gimana? Kalau nangkap kecoa, Raja gak akan berani sampai kapanpun,” ucapnya masih dengan bibirnya yang maju ke depan.
“Gak harus nangkap kecoa, berani gak selalu dalam konteks gak kenal takut, tapi berani bisa berupa bentuk mengakui kelemahan diri sendiri. Banyak orang berani di dunia ini, tapi sedikit dari mereka yang berani ngakuin dirinya punya kelemahan. Ayah mau Raja jadi orang pemberani yang berani ngaku kalau Raja juga punya kelemahan.”
Usai pesan dari sang Ayah yang terkesan aneh dan tiba-tiba, Raja masih dibuat heran dengan pelukan hangat dadakan. Biarpun begitu tetap ia balas. “Kamu jaga diri ya, jaga Bunda, jaga semua hal yang buat kamu berharga. Jangan sampai kehilangan hal-hal itu karena kesalahan kecil.”
Raja terbangun dengan ketukan keras pada pintu rumahnya. Dilihatnya jam dinding dengan matanya yang menyipit kesilauan. Pukul 10.40 malam, pasti itu Bunda sama Ayah pikirnya pada malam itu. Dia segera keluar untuk membukakan pintu, sama sekali tidak heran mengapa orang tuanya tidak membuka pintu dengan kunci milik mereka.
Senyumnya memudar saat melihat Amanda—Mama Ares, kalau kalian lupa—berdiri di depan pintu. “Tante?”
“Raja,” panggil Amanda balik. Matanya sedikit basah, di sebelahnya ada Ares yang enggan menatap. “Tante ngapain ke rumah malem-malem? Ayah sama Bunda belum pulang, Tan,” tanya Raja.
Amanda menggeleng. “Enggak, Tante mau ketemu kamu. Raja ikut Tante, yuk?”
“Ikut kemana, Tante?”
“Ke tempat Ayah sama Bunda.”
Dengan segala kebingungan yang berputar di kepalanya, dia tetap mengikuti apa kata Amanda dan duduk di dalam mobil Amanda dengan diam. Ares