Namanya Adagio


Stasiun Gambir, saat matahari sudah hampir kembali ke peraduannya

Laki-laki bermata tajam bak elang itu berdiri dengan tangan bersarang di kedua kantong celananya. Kakinya mengetuk tanah dengan tempo lambat. Kebisingan Stasiun Gambir itu seakan tidak mengganggu dunianya. Sepasang earphone bertengger di kedua telinganya, memutar lagu dari masa lalu. Seakan lupa dengan alasan utama mengapa dia berdiri di parkiran stasiun, laki-laki itu menatap kosong jalanan di depannya.

Di sisi lain, Kaia yang kesulitan membawa ransel dan koper berukuran sedang itu sekarang menengok ke kanan dan kiri untuk mencari sosok yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

“Elias monyet,” umpatnya dalam hati. Mengutuk sang kakak yang tidak menjawab telfonnya. Baginya mencari mobil Xenia milik Elias di tengah banyaknya manusia tidaklah mudah. Apalagi dia tidak diberi nomor teman Elias itu. Entah kenapa juga tiba-tiba stasiun begitu ramai jadi parkiran mobil dan motor hampir penuh.

Akhirnya dia menemukan mobil Xenia milik sang kakak yang berplat B 333 KEL itu. Kalau tidak salah, waktu itu Elias bilang arti tiga huruf belakang platnya adalah Kanaka Elias, nama panjangnya. Plat yang dibilang alay oleh Kaia bahkan sampai sekarang.

Netranya menangkap seorang laki-laki yang sedang duduk menyender di kap mobil Elias. Dia berjalan mendekat dengan perlahan. “Misi, lo temennya Kak Elias, kan?”

Jio tersadar dari lamunannya dan menatap Kaia. Kepalanya mengangguk. “Iya. Lo adeknya, kan?” Dibalas anggukan pula oleh Kaia.

“Yaudah sini kopernya, gue taruh di bagasi.” Kaia menyerahkan kopernya pada Jio yang langsung menaruhnya di bagasi.

Kaia masuk ke mobil lebih dulu, sedang mengutuk Elias yang baru membalas pesannya dengan alasan sedang men-charge ponselnya. Jio sudah duduk di kursi kemudi, memasang seatbelt dan mulai menyalakan mesin.

Matanya lalu menangkap seatbelt Kaia yang belum terpasang. “Kalau mau ditilang di hari pertama sampe Jakarta gapapa sih, paling kakak lo yang bayar,” sindirnya. Kaia langsung menoleh, mendapati Jio yang bicara tanpa melihat ke arahnya. Matanya sedikit memicing sebal sebelum memasang seatbelt.

Belum kenalan tapi udah nyindir, pikirnya. Tanpa membalas perkataan Jio, Kaia memilih diam dan melihat ke arah jalanan yang asing. Kaia sudah menghabiskan waktunya selama 6 tahun di Bandung untuk menempuh pendidikan. Karena kepribadiannya yang kelewat bebas, dia meminta pada kedua orang tuanya agar tinggal di Bandung bersama neneknya. Sekarang saat dirinya sudah menyelesaikan tahun ketiga di SMA, Maminya memerintahkan dia untuk kuliah di daerah Jakarta. Alhasil, dia berusaha masuk ke kampus negeri yang kebetulan dekat dengan rumahnya di Jakarta. Kampus tempat Kakaknya, Elias, berkuliah.

“Makan dulu.” Tiba-tiba Jio berbicara, membuat Kaia kaget. Suasana mobil yang sepi tanpa musik di tengah kemacetan menambah kecanggungan yang ada.

“Lo ngajak atau...”

“Nyuruh. Gue males denger kakak lo ngomel, jadi lo harus pulang dengan perut terisi.” Kaia memperhatikan Jio dari samping. Sampai saat ini bahkan dia belum tau namanya.

Sorry deh, Kak, tapi... ini lo gak ada niatan buat ngasih tau nama lo, gitu? Atau lo mau gue panggil Kak Jamal aja?”

Jio mengerutkan keningnya. “Apaan deh, aneh banget tiba-tiba Jamal?” Kali ini Jio menatap ke arah Kaia karena kebetulan macet di Jakarta kali ini tidak mengizinkan dia untuk bergerak.

“Ya lonya aja gak ngasih tau nama,” balas Kaia tiba-tiba ngotot.

“Nama gue Adagio. Tulisannya pakai G, tapi dibacanya J.”

“Dipanggilnya?”

“Jio.” Barulah Kaia mengangguk mengerti.

“Unik,” pikirnya.

“Lo udah lama kenal Kak Elias?”

“Gue temen Elias dari SMP. Lo gak tau?” Jio menoleh sebentar dan melihat Kaia menggelengkan kepala. Tidak bisa menyalahkan juga karena dia bahkan lupa Elias punya adik perempuan.

Kaia akhirnya sibuk mengambil selfie untuk mengabadikan kedatangannya ke Jakarta hari ini. Tangannya yang terulur ke depan membuat Jio kesusahan melihat kaca spion di kiri. “Duh, sorry banget, nih. Lo bisa diem dulu gak? Gue susah liat spion.” Jio menegur Kaia kesal.

“Iya, sorry.” Kaia menurut, tapi wajahnya tiba-tiba bete.

Karena bosan dia mengotak-atik radio, mencari yang lagunya paling heboh untuk mengusir bosan karena macet Ibu Kota. “Gue gak bisa fokus kalau lagunya berisik. Cari yang slow aja gak bisa?”

Kaia berdecak sebal. “Salah mulu gue!” Lalu tangannya memencet tombol off pada radio tadi.

“Ya iya, lah! Lo lagian pecicilan banget, sih. Gak bisa diem dikit?”

“Bosen, Kak, macet!”

“Gue juga tau macet. Tapi kalau lo gerak mulu, lo ganggu konsentrasi gue ke jalanan. Mau nabrak? Hah?”

Kaia menatap Jio sinis, dibalas tatapan kesal Jio. Mereka saling menatap tajam satu sama lain sampai akhirnya memutus kontak mata secara bersamaan karena suara klakson yang menyuruh mereka maju. Dalam hati, mereka berniat untuk tidak berurusan satu sama lain. Kepribadian mereka yang sudah bertolak belakang sejak awal adalah pertanda bahwa mereka tidak ditakdirkan untuk memiliki hubungan lebih. Tidak sampai takdir menggariskan hal yang berbeda.