Manusia Gak Harus Selalu Kuat


Jonathan memarkirkan motornya di parkiran sekitar pemakaman. Netranya berkeliling mencari sosok teman yang ingin sekali dia peluk sekarang. Yang dia tau, seorang Raja Manggala adalah orang yang jarang mengeluh. Walaupun mulutnya berbicara banyak omong kosong, tapi jarang sekali keluhan terdengar dari mulutnya sampai-sampai mereka mengira Raja menjalani hidup yang sedikit beban.

Nathan tau Raja sedang ada masalah yang mengganggu pikirannya. Terlebih lagi hari ini bertepatan 10 tahun kepergian sang ayah. Raja memang biasa meliburkan diri di hari kepergian ayahnya karena dia ingin menghabiskan hari dengan sang ayah. Menurutnya, karena hari ini adalah hari terakhir ayahnya hidup 10 tahun lalu, maka dia harus selalu menemani sang ayah seharian. Untuk menunjukkan bahwa dia selalu rindu.

Nathan berjalan ke arah makam Ayah Raja setelah membeli bunga dan air mawar. Terlihat ada bunga segar dengan tanah basah pertanda Raja baru saja membersihkan dan menaburkan bunga untuk ayahnya. Nathan berjongkok untuk berdoa, menatap batu nisan sedikit lama.

“Om Wangga, ini Nathan, inget gak?” ucap Nathan mulai bermonolog dengan batu nisan di hadapannya. “Kalau om lupa, saya Nathan temennya Raja, anak om.”

Nathan mulai menaburkan bunga di atas gundukan tanah itu. “Saya seneng banget bisa temenan sama Raja. Kayaknya om juga udah bosen denger saya bilang ini terus setiap dateng kesini.” Nathan terkekeh pelan.

“Maaf ya, Om, saya sempat lupa kalau hari ini tepat 10 tahun Om pergi..” Nathan mengelus batu nisannya dan membersihkannya dengan air mawar di tangan kirinya. “Maafin saya juga kalau sempet biarin Raja sendirian disaat kayak gini. Saya gak tau kalau Raja lagi ditinggal sendirian di rumahnya. Kalau saya tau mungkin saya bakal ikut nginep buat nemenin Raja yang benci kesepian itu.” Nathan melanjutkan.

Napasnya dibuang kasar. “Saya temen yang buruk buat Raja ya, Om? Saya—”

“Enggak, lo bukan temen yang buruk,” potong Raja— yang entah kapan sampai di belakang Nathan yang sedang berjongkok.

Lantas Nathan langsung bangun dan memeluk Raja tanpa bicara sepatah kata pun. Seusai Nathan menarik diri, dia langsung meminta maaf pada Raja.

Sorry gue sempet lupa, Ja,” ucapnya dengan kepala menunduk.

“Kan yang meninggal Ayah gue, Nat, jadi yang perlu berduka emang cuma gue dan keluarga. Lo gak wajib berduka dan selalu inget, kok,” balas Raja sambil menepuk pundak Nathan. Ternyata dia kembali lagi untuk membawa lebih banyak bunga untuk ditaburkan di atas makam ayahnya.

“Enggak, Ja, kita udah kayak keluarga. Walaupun gue belum sempet ketemu langsung sama Om Wangga, gue udah anggap Ayah lo kayak Ayah gue sendiri. Jadi kalau lo berduka ya gue juga bakal temenin lo berduka.”

“Iya, tapi bukan kewajiban kan, Nat? Santai aja.”

Nathan diam, menatap bahu lebar Raja yang entah kenapa terlihat layu. Usai Raja selesai menaburkan bunga, dia mengajak Nathan untuk pergi. Nathan berpamitan pada Ayah Raja, lalu mengekori Raja keluar dari area pemakaman.

“Mau ke warkop atau mcd? Gue traktir,” tanya Raja sambil memakai helmnya.

“Pake nanya lagi lu, bego. YA MCD LAH!” jawab Nathan gregetan. Raja terkekeh pelan lalu mengangguk. “Yaudah, kuy.”

Mereka membawa motor masing-masing ke salah satu cabang McDonalds terdekat. Usai memesan mereka menduduki kursi yang tempatnya di luar. Biasanya dipakai untuk yang ingin merokok.

“Mau cerita gak?” tawar Nathan, tidak ingin memaksa Raja untuk cerita jika tidak ingin.

“Kalo masalah sama Lunar lu semua juga pasti udah tau, jadi buat apa gue cerita lagi?”

Nathan membuang napas kasar. “Kan dari sudut pandang Lunar doang, belom dari sudut pandang lo.” Nathan lalu menaruh ponsel yang sempat dia nyalakan untuk membalas pesan masuk.

“Ya intinya gue cuma mau komunikasi gue sama Lunar kayak dulu lagi, Nat. Lunar sibuk sama dirinya sendiri padahal gue lagi butuh dia. Lo tau kan gue gak suka kalo lagi sendirian? Ini posisinya gue lagi ditinggal sama Bunda ke Bandung. Gue selama berminggu-minggu cuma bengong di rumah gara-gara gak ada yang bisa gue ajak ngobrol.” Raja menunduk, memainkan kulit kering di jempolnya.

“Lo kenapa gak ngasih tau gue sih, Ja? Kalo gitu gue temenin lo, nyet.”

“Gue gak mau ganggu lo, Nat,” jawab Raja membuat Nathan berdecak.

“Ganggu apaan sih, anjing, lebay deh.” Nathan menatap Raja kesal. “Tante Jana pulangnya kapan?”

Raja menggeleng. “Belom tau.”

“Yaudah nanti gue nginep sampe Tante Jana balik,” ucap Nathan final.

“Dih, gak usah ah.” Raja menggeleng berusaha menolak.

“Ja,” panggil Nathan membuat Raja menaikkan alisnya. “Gue boleh tau gak kenapa lo gak suka sendirian? Lo selama ini tuh kalo lagi sendirian di rumah selalu ngungsi di rumah gue tau Ares, tapi lo gak pernah bilang kenapanya.”

Raja menelan ludah. “Gue.. pernah cerita, kan, kalo Ayah gue meninggal karena kecelakaan mobil?” Nathan mengangguk.

“Posisinya waktu itu Ayah gue lagi mau jemput Ibu gue di rumah temennya, gue dipaksa tinggal sendiri di rumah padahal gue bilang mau ikut jemput Bunda. Ayah gue bilang jam 10 bakal pulang, tapi lewat jam 10 pun gak ada tanda-tandanya. Terus semaleman gue nahan buat gak tidur karena nungguin Ayah Bunda gue. Terus pas paginya gue dibangunin dengan suara ambulance yang bawa jenazah Ayah gue.”

Nathan membulatkan matanya, tidak menyangka hal ini disembunyikan Raja bertahun-tahun. “Sejak itu gue benci di rumah sendiri, karena gue takut nanti pas buka pintu, akan ada nyawa yang diambil lagi.”

“Ja, anjing, kenapa lo gak bilang dari dulu sih?” tanya Nathan benar-benar kesal. Dia merasa tidak becus karena tidak tau masalah ini.

“Jangankan kalian, Nat, Bunda aja gak gue kasih tau masalah ini. Entah kenapa, mungkin efek gue cuma satu-satunya tempat tumpuan Bunda, jadinya gue merasa gak boleh lemah atau keliatan sedih. Emang agak bego sih pikiran kayak gitu, cuma gue juga gak tau cara ngilanginnya.”

“Lain kali cerita aja, nyet. Kalo lo gak mau cerita ke Bunda lo karena takut buat sedih, lo boleh cerita ke gue. Lo gak dilarang buat lemah di depan gue.” Raja terkekeh sambil menatap Nathan.

“Makasih ya, Nat, udah dateng ke makam dan udah mau nemenin gue.” Nathan mengangguk.

“Lain kali kalo ada apa-apa cerita aja. Lo gak perlu takut keliatan lemah. Manusia gak harus selalu kuat dan sempurna.”