Bertemu Para Ramai


Entah sudah berapa kali Kaia menghela napas kasar sejak melihat Jio sudah duduk di sofa ruang tamu bersama Maminya—Wanda—dari jam 10 pagi. Padahal sudah dia niatkan kalau dia malas berurusan dengan Jio lagi. Terputar memori saat dia duduk berhadapan dengan Jio di salah satu tempat makan ayam gepuk waktu itu.

“Lo makannya jangan receh-receh bisa gak?”

“Makan tuh pelan-pelan biar gak keselek.”

“Kalau cuci tangan di kobokan jangan tumpah-tumpah airnya, nyusahin yang kerja aja lo.”

Atau yang paling menyebalkan, saat Jio bilang, “Lo makannya berantakan, kalah sama anak SD.”

SEMENYEBALKAN ITU, kalau kata Kaia. Tapi apa boleh buat? Daripada dia naik taksi online dan membayar bolak-balik, lebih baik dia memanfaatkan yang ada. Tidak perlu diajak bicara, toh ada Damian dan Daffa nanti, dia bisa lebih fokus ke dua orang itu dibanding Jio.

Yang lebih membuat Kaia kesal, Jio di depan Wanda begitu beda dengan Jio saat berdua dengannya. Benar-benar beda 180 derajat.

“Kak Jio, ayo berangkat sekarang. Kan jemput Damian dulu.” Kaia memutus obrolan Wanda dan Jio yang tengah seru, membuat Wanda melotot karena anaknya memotong Jio yang sedang bercerita.

“Tar dulu, ih! Jionya lagi cerita loh ini,” balas Wanda.

Kaia berdecak. “Kan kesini niatnya mau nganter aku, bukan story telling.” Kaia melihat Jio yang menatapnya datar.

Jio tersenyum kecil lalu berdiri. “Yaudah, Tante, lanjut besok aja ceritanya. Nanti Jio kasih tau juga toko bunga yang bagus, malah kalau perlu Jio anterin.”

“Lohh.. lagi seru padahal. Kamu, sih!” omel Wanda pada Kaia. Kaia melongo lalu langsung mengambil tangan kanan Wanda begitu saja. Disaliminya perempuan berumur 42 tahun itu untuk mempercepat keberangkatannya.

“Aku pergi dulu ya, Mi. Nanti kayaknya Daffa sama Dami mau kesini deh, gapapa?”

“Oh mau main? Gapapa, dong.. Nanti Mami buatin puding. Makannya pesen aja ya nanti? Mami lagi males masak, nih.” Kaia mengangguk mengiyakan.

Dia melengos keluar meninggalkan Jio yang masih sibuk berpamitan. Dia berdiri di samping kursi penumpang mobil Elias. Mobil yang sama seperti yang waktu itu dia tumpangi saat pertama bertemu Jio.

Jio menekan tombol buka pada kunci mobil. Berjalan ke arah kemudi dihiasi dengan senyuman miring. Dia tidak habis pikir melihat tingkah Kaia yang menurutnya kekanak-kanakan.

Usai meninggalkan komplek besar rumah Kaia, Jio membuka suara. “Lo dendam banget sama gue?”

Kaia mendengus. “Lo selain salty, ternyata seneng geer juga ya, Kak?”

“Loh? Bukannya sikap lo dari awal gue dateng tuh nunjukkin lo ada dendam sama gue?”

“Duh, sorry ya, Kak, gue gak segabut itu buat dendam sama lo.”

Kali ini Jio berdecih, malas berdebat lebih panjang dengan anak baru lulus SMA. “Kosan temen lo dimana?”

“Deket stasiun depan, nanti nunggu di depan alfamart katanya dia.” Jio hanya mengangguk tanpa respon lebih.

Jio memutuskan memecah hening dengan menyetel lagu yang sepertinya sudah dia dengarkan beratus-ratus kali.

Mereka sampai di depan alfamart. Mendapati Damian yang sedang mengobrol dengan tukang rujak yang mangkal di depan. Kaia turun menghampiri. “Dam,” panggilnya.

Damian menoleh lalu langsung protes. “Lama bener, lu bangun candi dulu?”

Tangan Kaia langsung menjitak kepala Damian tanpa ragu. “Masih untung gue jemput!”

Mereka lalu masuk untuk melanjutkan perjalanan. Kaia pindah ke kursi belakang, menyuruh Damian duduk di samping kemudi.

“Bang, ini lo mau muter When We Were Young sampai berapa kali?” tanya Damian yang kebetulan sudah saling berkenalan dengan Jio 15 menit lalu.

“Kenapa emang?”

“Enggak, gapapa, cuma bingung aja lo gak ganti lagunya.”

Detik berikutnya diisi dengan Damian yang bercerita pada Kaia perihal tetangga kos barunya yang genit. Mereka mengobrol tanpa mengindahkan eksistensi Jio.

Mereka sampai di stasiun lebih lambat dari jadwal kedatangan Daffa. Jadi tidak perlu menunggu lama, Daffa sudah berdiri untuk langsung naik mobil.

“Lo pada tau gak, sih? Gue tadi tuh di kereta NGURUSIN ORANG MUNTAH, ANJIR!! Beneran kalo orang norak tuh mendingan naik motor aja sumpah dah, jangan macem-macem naik kereta. Bikin repot aja bangsatt!!” ceritanya heboh.

Jio yang mendengar langsung menggeleng-geleng. Kebisingan suara mereka yang saling sahut-sahutan membuatnya pusing.

“Eh, ini siapa, Kai? Sopir lo? Busettt, trendy bener!!”

Daffa langsung mendapat cubitan dari Damian. “Bukan, goblok! Mulut lo jangan asal napa.”

“Sakit anjirrrr!!” omel Daffa. “Terus siapa dong?”

“Temennya Bang Elias, namanya Adagio pake G.”

Daffa mematung sebentar. Berusaha mencerna. “Adagio tapi pake G tuh gimana dah? Kan dibacanya tetep J? Kenapa gak Adajio aja pake J?”

“DIH, KOK ELU YANG NGATUR ANJIRR!” balas Damian kesal.

Kaia memejamkan mata frustasi. Ditutupnya mulut Daffa dari belakang, menarik Daffa dengan tangan mengitari lehernya. “Jangan banyak bacot, Daf. Semakin lo bacot semakin gue mau ngeruwes muka lo.”

“AHAAN HIH, LEPHAASSS!!” teriaknya kesulitan bicara karena mulutnya ditutup.

Jio menatap Damian yang menggelengkan kepala melihat adegan ribut itu. “Dia emang biasa seberisik ini?”

“Ya... gitu deh, Bang. Waktu itu saking berisiknya dia pernah dikejar soang. Terus pernah juga mecahin alat praktek anak IPA gara-gara nyanyi potong bebek angsa di lab.”

Jio mengutuk Elias dalam hati. Kalau tau akan bertemu orang-orang macam Kaia dan temannya, mungkin dia tidak akan mengambil tawaran Elias. Karena dunianya terbiasa sepi, setelah mentari miliknya pergi.