Beban Si Adik
“Gata!” seru Karin tepat setelah netranya menangkap Gata yang kini berjalan ke arahnya. Mulutnya tersenyum, tapi matanya memancarkan kesedihan.
Karin memegang kedua pipi Gata lembut, mengelus tempat yang menjadi sasaran tangan besar sang ayah. Meskipun Karin belum tau apa yang menjadi alasan Prasetyo melakukan ini pada Gata, dia yakin masalahnya terlalu besar untuk dia campuri.
“Mana yang sakit?” tanya Karin lembut. Gata menggenggam satu tangan Karin yang masih ada di pipinya. Perlahan dipindahkan ke dada kirinya, tempat dimana jantungnya —atau diisyaratkan sebagai tempat hati manusia merasa— berada.
“Disini, Rin. Sakit banget, sampe aku udah gak bisa nangis atau teriak lagi.”
Dahi Karin mengerut sedih. Dibawanya Gata ke dalam dekapan hangatnya. Berharap bisa meringankan sedikit beban yang selama ini dipikul, juga berharap menyembuhkan luka yang selama ini dibiarkan.
Lama-lama tubuh Gata bergetar. Dia menangis, untuk kesekian kalinya. Bahunya runtuh karena beban yang terlalu berat. Lututnya lemah karena terlalu lama berdiri tegak. Semua dinding yang dibangunnya tebal tiba-tiba hancur perlahan. Dirinya tidak sekuat yang dia kira. Hanya di depan Karin, dan hanya disaat tertentu dia seperti ini.
Semua manusia memang punya kelemahannya sendiri. Semua punya titik dimana mereka lemah dan tidak sanggup berdiri. Dan malam ini Gata memutuskan istirahat dari berlari.
“Aku bingung, Rin. Aku takut ninggalin Lunar sendirian..”
Karin membawa Gata duduk di bangku taman. “Kenapa? Kan ada aku, ada Raja, ada Nathan, Ares juga katanya nanti di Jakarta. Kita jagain Lunar kok, Ta..”
“Bukan masalah itu, Rin. Aku percaya kalian bisa jagain Lunar disini. Tapi aku gak yakin Lunar bakal baik-baik aja di rumah sendiri.” Gata menjeda ucapannya untuk menstabilkan napasnya.
Karin memutuskan untuk diam, membiarkan Gata mengeluarkan apa yang ingin dia bicarakan. “Kita dari kecil biasa sharing beban yang sama, Rin. Kalau Lunar dituntut sekolah di tempat A, maka aku juga dituntut itu. Tapi sekarang casenya udah beda. Aku harus ke luar negeri sedangkan Lunar sendiri di PTN Indo. Aku takut dia bakal jadi sasaran kekecewaan Ayah kalau aku gak ada. Biasanya aku yang diomelin Ayah kalau kita ada masalah, bukan dia.”
Mendengar itu, dahi Karin otomatis mengerut heran. Melihat kebingungan di wajah Karin, Gata meneruskan ucapannya. “Kalau kamu bingung kenapa aku terima aja buat nerima hukuman Ayah padahal bisa ditanggung berdua, ya alasannya karena aku laki-laki dan aku sayang sama Lunar.”
“Tapi harus banget nyakitin diri kamu begini, Ta?”
“Aku gak pernah nganggap ini nyakitin diri, Rin. Aku anggap ini bentuk perlindungan aku buat perempuan yang aku sayang. Siapapun bakal aku lindungin, termasuk kamu.”
“Terus, kapan kamu bakal bilang ke Lunar? Cuma dia yang belum tau kamu mau ke luar loh, Ta.”
Gata mengacak rambutnya. Membayangkannya saja dia sudah tidak tega. Melihat Lunar yang menatapnya kecewa merupakan hal yang dia hindari.
“Biar dia tau sendiri, Rin. Aku gak mau bilang sama dia, aku gak tega.”
Karin hanya bisa menghela napas. “Kalau itu yang menurut kamu baik, silahkan. Tapi kamu tenang aja, aku akan berusaha isi posisi kamu buat Lunar disini. Aku pastiin dia baik-baik aja kalau gak ada kamu.”
Gata menatap Karin haru. Direngkuhnya tubuh kecil Karin. “Makasih ya, Rin..”
“Sama-sama. Tapi aku juga minta sama kamu, jangan nyelesaiin apa-apa sendiri kayak gini. Sekali-kali kamu juga harus cerita ke Lunar.”
“Bakal aku coba, Rin.”